Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ada Yang Banyak Tanya, Ujung-ujungnya Batalkan Order

adi nugroho • Rabu, 2 Mei 2018 | 01:08 WIB
ada-yang-banyak-tanya-ujung-ujungnya-batalkan-order
ada-yang-banyak-tanya-ujung-ujungnya-batalkan-order


Usaha yang dibangun tiga cewek ini tergolong tak biasa. Mereka menyediakan seserahan nikah. Bukan untuk dijual. Tapi disewakan! Usaha yang sempat jatuh bangun ini mampu bertahan satu tahun ini.


 


RAMADANI WAHYU N.


 


“Wawancaranya bertiga ya Mbak,” kata Anisatul Bahiroh. Dia adalah salah satu pemilik usaha persewaan seserahan pernikahan. Alumni STAIN Kediri itu asal Desa Gondang Legi, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk.


Bahir, panggilan gadis itu, sengaja mengajak dua rekannya lagi untuk berwawancara. Sebab, usaha itu memang mereka kembangkan bertiga. Sayangnya, keinginan wawancara bertiga itu batal. Karena beberapa kesibukan, dua rekannya tak bisa bergabung.


“Yang satu teman saya di Mojoroto. Satunya lagi di (Kecamatan) Sambi Mbak,” terang perempuan berhijab.


Dua rekan Bahir itu adalah Khusnatul Laily. Dia yang beralamat di (Kecamatan) Sambi, Kediri. Sementara yang satu lagi adalah Ahmada Rafi’atul Mu’izah. Tiga gadis ini memiliki base-camp di Mojoroto, kota Kediri. Sebagai tempat mereka kumpul.


Bahir pun menceritakan tentang usaha unik mereka itu. Menurutnya, usaha sewa-menyewa boks seserahan pernikahan mereka geluti selama satu tahun ini. Tepatnya sejak Februari 2017.


Usaha yang mereka geluti itu berawal saat mereka melakukan program pengalaman lapangan (PPL) di SMAN 1 Nganjuk. Ketiganya memang berasal dari jurusan yang sama. Yakni Jurusan bahasa Inggris. Tapi, sebelumnya mereka sekadar kenal. Bukan kategori dekat.


Nah, saat di ujung masa PPL itu, mereka pun hendak memberi kenang-kenangan pada pihak sekolah. Diskusi berbagai macam hadiah pun dilakukan. Akhirnya, sepuluh mahasiswa STAIN Kediri yang PPL di sekolah tersebut sepakat memberi buket bunga dari kain flannel.


Bermula dari sini jugalah, ketiga wanita ini memantapkan diri untuk membuat usaha flannel. “Jadi sebelum merambah pada persewaan seserahan, kami sempat memproduksi kreativitas flannel, lalu paper flower, hadiah dari flannel untuk kado, hingga sekarang ke persewaan seserahan,” ungkap Bahir.


Lebih lanjut, Bahir menjelaskan, untuk memutuskan merambah ke persewaan boks seserahan didasari banyak alasan. Dia melihat teman-temannya, terutama selepas menikah, tak lagi memfungsikan boks seserahan nikah itu. Dia juga mendengar keluhan bahwa nikah itu bukan soal banyak tidaknya uang, tapi niat. Terutama untuk mengurusi pernak-pernik pernikahan, seperti seserahan. Hanya digunakan sekali pakai. Karena itu lebih ekonomis bila menyewa.  Alasan itulah yang membuat ketiganya bertekad terjun di bidang ini.


“Lumayan mahal kalau beli boks seserahan mencapai Rp 200.000. Sedangkan kami menawarkan Rp 50.000 untuk sekali sewa satu boks,” papar Bahir.


Selain menyewakan boksnya, Bahir juga mengatakan mereka melayani jasa menghias boks tersebut. Jadi, penyewa tak perlu bingung untuk membeli boks dan mengemas.


Bagaimana bila penyewa tak mengembalikan boks tersebut?  Wanita yang juga merangkap sebagai guru di SMK Kesehatan Nganjuk ini menyebut ada risiko seperti itu. Karenanya, saat menyewa  mereka membuat surat pernyataan. Termasuk bila ada kerusakan atau hilang.


Menurutnya, menjadi pengusaha adalah urusan kepercayaan. Ia meyakinkan bahwa ia percaya pada pelanggannya. “Alhamdulillah kalau untuk saat ini tidak ada yang seperti itu,” ungkapnya.


Membangun usaha juga tak semudah yang dibayangkan. Mereka mengawali dengan modal yang kecil. Urunan. Satu orang Rp 30 ribu. Order pun tak selamanya ramai. Karena sifatnya musiman. Ramai bila musim  wisuda atau menikah. Di luar itu, orderan sepi.


“Kalau pas musimnya, orderan bisa sampai kuwalahan,” terangnya.


Untuk promosi, gadis 23 tahun ini mengakui melakukannya melalui medsos dan dari mulut ke mulut.


Bahir mengaku melakukan promosi dan memasarkan melalui medsos tergolong gampang-gampang sulit. Wanita ini sempat bercerita tentang kekesalannya menghadapi pelanggan.Pelanggan melalui media sosial acap kali hanya tanya-tanya. Tak hanya sekali, bahkan sampai berkali-kali. Tapi, ujung-ujungnya tak jadi menyewa.


Ada juga yang sampai memberikan jawaban lucu untuk meng-cancel orderan. “Pada saat itu sudah siap semuanya. Nah, pas H-1 ketika di-sms dia mengaku orang lain yang baru saja menemukan HP itu. Tentu saja saya kesal,” kenang Bahir.


Selain kesal, tentu saja mereka rugi. Meski orderannya bisa ditawarkan ke orang lain tetap saja akan terasa berbeda karena itu dibuat khusus untuk pemesan per orang. 

Editor : adi nugroho
#usaha