Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kabupaten Kediri Kejar Target Eliminasi Kusta

adi nugroho • Selasa, 30 Januari 2018 | 16:28 WIB
kabupaten-kediri-kejar-target-eliminasi-kusta
kabupaten-kediri-kejar-target-eliminasi-kusta



Minggu terakhir Januari menjadi peringatan Hari Kusta sedunia. Khusus di Kabupaten Kediri, temuan kasus 2017 masih tinggi. Masih banyak pasien kusta yang ditemukan dalam kondisi cacat. Bahkan, angkanya jauh melebihi standar nasional.


 


Seharusnya, sesuai dengan target nasional untuk eliminasi kusta, temuan penderita dengan cacat tingkat 2 hanyalah di bawah 5 persen. Tetapi data terbaru Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri ternyata angkanya mencapai 14 persen. Angka yang cukup mengejutkan.


Rinciannya total temuan kasus adalah 22 penderita. Dari angka tersebut cacat tingkat o adalah 14 orang (63 persen). Cacat tingkat 1 sebanyak 5 orang (23 persen). Sedangkan cacat tingkat 2 berjumlah 3 orang (14 persen).


Perlu diketahui cacat tingkat 2 adalah cacat yang sudah kelihatan. Biasanya temuan penderita kusta dengan cacat tingkat 2 adalah keterlambatan pengenalan sakit kusta. Sehingga bakteri sudah menyerang jaringan tubuh. Menimbulkan cacat permanen.


Menurut Kepala Dinkes dr Adi Laksono, melalui Kasi Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Nur Munawaroh, temuan tiga orang dalam kondisi cacat tingkat dua karena keterlambatan penemuan. “Padahal kami terus melakukan sosialisasi agar sebisa mungkin temuan bisa sejak dini,” keluh Nur.


Keterlambatan temuan ini, terang Nur, biasanya karena pasien tidak menyadari sakit yang dideritanya. Mereka mengabaikan tanda-tanda awal. Seperti bercak putih di kulit. “Kebanyakan tanda awal ini dikira sakit kulit biasa,” imbuh Nur.


Hingga akhirnya, setelah merasakan demam, panas, dan nyeri, pasien ini baru memeriksakan diri ke puskesmas. Padahal, jika sejak awal menyadari sakit yang dideritanya, penyakit bisa sembuh. Dan tidak sampai terjadi kecacatan.


Yang membuat miris, sakit kusta ini bisa menyerang siapa saja. Khusus 2017, dari temuan 22 penderita, satu orang masih anak-anak. Berusia di bawah 14 tahun. Untung saja, sakit si bocah itu ditemukan dalam kondisi gejala awal. Yaitu cacat tingkat 0. Saat ini yang bersangkutan masih dalam tahap penyembuhan.


Sebenarnya, angka temuan 2017 tersebut masih di bawah temuan tahun-tahun sebelumnya. Berbeda dengan data penyakit menular lainnya seperti HIV/AIDS, untuk kusta, data temuan tiap tahun adalah temuan terbaru. Bukan akumulasi dari tahun-tahun sebelumnya.


Untuk 2016, berdasarkan data dari Dinkes, ditemukan 44 penderita. Dari total temuan itu, satu penderita masih remaja. Sedangkan pada 2015, jumlah temuan kasus juga sebanyak 44 penderita. Dengan satu temuan penderita masih anak-anak.


Masih menurut Nur, seharusnya penderita dengan gejala awal kusta bisa langsung ke puskesmas. Yaitu ketika muncul bercak putih di kulit. Nantinya, oleh petugas puskesmas, akan dilihat apakah sakit tersebut memang termasuk kusta atau sakit kulit biasa. “Kalau ada pemeriksaan ke arah positif (kusta, Red), biasanya puskesmas akan menghubungi kami,” terangnya.


Setelah itu, akan kembali dilakukan pemeriksaan untuk memastikan temuan. Jika ternyata sudah dipastikan memiliki penyakit kusta maka akan dilakukan proses pengobatan.


Jika temuan masih gejala awal, akan dilakukan pengobatan. Setelah selesai masa evaluasi akan dipantau terus sehingga tidak muncul cacat. Sedangkan jika pasien ditemukan dalam kondisi cacat tingkat 1 maka harus diawasi seumur hidup. Agar tidak bergeser menjadi cacat tingkat dua. “Pengobatan tetap dilakukan hingga masa evaluasi selesai,” terangnya.


Sedangkan untuk penderita dengan cacat dua, jelas Nur, memang harus diawasi lebih ketat. Khususnya agar cacat yang diderita tidak bertambah parah. “Banyak batasannya, penderita harus hati-hati menjaga pola hidupnya,” terangnya. Sebagai contohnya adalah pasien tidak boleh terlalu jalan terlalu jauh dan menggunakan perlengkapan yang tidak melukai dirinya.


 


Tentang Kusta


-         Kusta atau lepra (leprosy) merupakan penyakit tahunan yang disebabkan


Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit, dan jaringan tubuh lainnya dan menyerang laki-laki atau perempuan dalam segala umur.


-         Jumlah Penderita 2017 : 22 Penderita


Kasus Cacat 0 : 14 orang


Kasus Cacat 1:  5 orang


Kasus Cacat 2:  3 orang


-         Temuan 2016: 44 Penderita


-         Temuan 2015: 44 Penderita


-         Langkah Pencegahan : - Screening Awal di Sekolah-Sekolah melalui UKS, Menjaga sanitasi lingkungan dan sosialisasi tentang kebersihan diri, pengenalan awal di puskesmas untuk pencegahan kecacatan dan meluas.


-         Pengobatan: Menggunakan Multiple Drugs Therapy (MDT) hingga dinyatakan Release from Treatment (RFT)


 

Editor : adi nugroho
#kabupaten kediri #kesehatan