Mengenal K.H. Hasan Abdullah Sahal, Kiai Gontor yang Pidato di Depan Presiden Prabowo

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 13:19 WIB
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dalam acara Resepsi 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang digelar di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9). (Youtube Setpres)
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, dalam acara Resepsi 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang digelar di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9). (Youtube Setpres)

JP Radar Kediri – Ada yang menarik perhatian di balik rangkaian Resepsi 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Pimpinan ponpes tersebut, K.H. Hasan Abdullah Sahal, melontarkan guyonan segar sekaligus sentilan menohok soal fenomena "cari muka" persis di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, kiai sepuh ini mengaitkan istilah tersebut dengan kehadiran sang kepala negara. Suasana yang awalnya formal pun seketika cair.

"Andai kata Pak Prabowo hari ini enggak datang, nah ini muka saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka. Sekarang banyak orang yang cari muka," ucap Kiai Hasan di hadapan Presiden Prabowo dan ribuan jemaah yang memadati area pesantren.

Meski mengundang gelak tawa, Kiai Hasan lantas merinci fenomena itu dengan perumpamaan yang lebih dalam—mulai dari ijazah, nama, uang, hingga jabatan yang kerap dikejar sebagian orang dengan berbagai cara.

“Orang tidak punya ijazah, cari ijazah. Orang tidak punya nama, cari nama. Orang tidak punya uang, cari uang. Orang tidak punya jabatan, cari jabatan. Orang tidak punya muka, cari muka,” tegasnya.

Kendati menyentil realitas sosial tersebut, Kiai Hasan memastikan sindiran itu tidak dialamatkan kepada figur atau kelompok tertentu. Ia menegaskan, Gontor konsisten memilih jalur pendidikan dan pembangunan karakter sebagai marwah utama untuk meraih tujuan hidup.

"Kami tetap memilih pendidikan. Bapak Presiden, saya... Saya tak (mau) ngomong agak ndak enak ya, Pak. Sorry yee," pungkasnya, menutup pidato yang langsung disambut senyum hadirin.

 Baca Juga: Presiden Prabowo Respons Tragedi KM Virgo Transport 8 yang Korbannya Termasuk Asal Kediri

Profil dan Rekam Jejak K.H. Hasan Abdullah Sahal

Di balik gaya bicaranya yang tegas dan cair, K.H. Hasan Abdullah Sahal merupakan salah satu figur sentral di balik kejayaan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). 

Lahir di Desa Gontor pada 24 Mei 1947, ia adalah darah daging dari sang pendiri. Kiai Hasan merupakan putra keenam dari K.H. Ahmad Sahal, satu dari tiga tokoh agung Trimurti pendiri PMDG bersama K.H. Zainuddin Fananie dan K.H. Imam Zarkasyi.

Pendidikan dasarnya ditamatkan di Gontor pada 1959. Menariknya, bahkan sebelum merampungkan sekolah dasarnya, ia telah diterima sebagai santri di Kulliyyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI) Gontor—sebuah gerbang awal pembentukan kepemimpinannya. 

Usai menamatkan KMI pada 1965, ia melanjutkan studi ke Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD) ambal mendedikasikan diri mengajar di KMI selama dua setengah tahun.

Haus akan ilmu, Kiai Hasan merantau ke luar negeri pada 1967 untuk memperdalam agama di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi. Tak berhenti di situ, ia juga memperdalam spesialisasi ilmu hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 1992.

Menahkodai Pesantren dan Rekam Jejak Global

Amanah besar mulai dipikulnya pada 1985. Saat itu, Kiai Hasan resmi mengemban kepemimpinan PMDG setelah mendiang K.H. Shoiman Luqmanul Hakim dan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi. 

Estafet kepemimpinan itu terus berlanjut hingga kini, di mana ia mengasuh Gontor bersama Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi dan Drs. K.H. Muhammad Akrim Mariyat.

Baca Juga: Reshuffle Kabinet! Prabowo Lantik Suahasil Sebagai Menteri Keuangan Gantikan Purbaya

Selain memimpin pesantren pusat, Kiai Hasan juga aktif di dunia akademis sebagai dosen di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) sejak 1977. 

Jiwa pendidiknya kian tampak tatkala ia membidani lahirnya Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah di Coper, Jetis, Ponorogo, pada 1989, serta mendirikan Pondok Tahfidz Qur'an Al-Muqoddasah di Nglumpang, Mlarak, pada 1992.

Jejak langkahnya melintasi batas negara. Kiai Hasan aktif memenuhi undangan dakwah, forum ilmiah, dan muhibah ke berbagai belahan dunia—mulai dari Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam), Asia Timur (Hong Kong, Korea Selatan, Jepang), hingga Australia, Timur Tengah, dan Eropa.

Di sela-sela kesibukannya mengurus umat dan pendidikan, Kiai Hasan tetap produktif menuangkan pemikirannya ke dalam bentuk tulisan. 

Sejumlah karya literatur dan catatan pemikirannya yang telah diterbitkan antara lain Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori', Obsesi Hasan Abdullah Sahal, Ceramah-ceramah Kontemporer, serta serial buku motivasi Allamatnil Hayah (Kehidupan Mengajariku I, II, dan III).

Melalui keteguhan prinsip, kedalaman ilmu, serta rekam jejak pengabdian panjangnya, K.H. Hasan Abdullah Sahal terus menjadi nakhoda penting yang menjaga marwah dan arah pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor lintas generasi.

Editor : Shinta Nurma Ababil
kiai gontor K.H. Hasan Abdullah Sahal pondok gontor Gontor