El Nino Kian Menguat, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla Meningkat

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 09:05 WIB
KEKERINGAN: Area persawahan di Kelurahan Gayam, Mojoroto mulai mengering. BMKG menyebut September ini merupakan puncak musim kemarau dan masih akan berlangsung hingga awal Desember nanti.
Ilustrasi kekeringan.

JP Radar Kediri – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi fenomena El Nino akan terus menguat dan mencapai fase kuat pada periode Agustus hingga Oktober 2026.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta perubahan pola curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Dalam pembaruan iklim musiman global yang dirilis Jumat (31/7), WMO menyebut El Nino berkembang secara stabil di Samudra Pasifik tropis.

Berdasarkan prakiraan ensemble multi-model dari sejumlah pusat iklim dunia, anomali suhu permukaan laut di kawasan pemantauan utama diperkirakan melampaui 2,9 derajat Celsius selama Agustus–Oktober 2026.

Pada periode yang sama, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga diperkirakan mulai berkembang.

Menurut WMO, kombinasi El Nino yang menguat, suhu permukaan laut global yang masih sangat hangat, serta IOD positif dapat memperkuat dampak iklim di berbagai kawasan.

Dampaknya meliputi meningkatnya risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga gangguan terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air.

Baca Juga: Puncak Kemarau Agustus ini: Awas Bencana Kekeringan!

Sebaliknya, sejumlah wilayah lain justru berpotensi mengalami curah hujan di atas normal.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan, El Nino merupakan salah satu fenomena iklim yang paling dipantau di dunia.

Meski demikian, prakiraan iklim bukan sekadar informasi cuaca, melainkan menjadi kesempatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi sebelum dampaknya semakin besar.

"El Nino yang berkembang di tengah gelombang panas laut dan kenaikan suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya memberikan kesempatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi risiko dan bertindak sebelum dampaknya terjadi," ujarnya dalam keterangan resmi WMO.

WMO juga mengingatkan bahwa El Nino biasanya mulai berkembang pada Maret hingga Juni, mencapai puncak pada November hingga Februari, dan memberikan pengaruh terbesar terhadap suhu global pada tahun setelah kemunculannya.

Baca Juga: Sehari Damkar Kabupaten Kediri Tangani 11 Kebakaran: Mayoritas Dipicu Kelalaian Manusia, Warga Diminta Lebih Waspada Saat Kemarau

Karena itu, negara-negara diminta memperkuat sistem peringatan dini serta memanfaatkan informasi iklim untuk mendukung pengambilan keputusan di sektor pertanian, kesehatan, kebencanaan, hingga pengelolaan sumber daya air.

Untuk wilayah Kediri dan sekitarnya, peringatan tersebut dinilai relevan mengingat musim kemarau mulai ditandai dengan meningkatnya kondisi kering dan kemunculan sejumlah titik panas dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini.

BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri juga menyebut bahwa Agustus ini sudah masuk puncak kemarau.

Adapun hujan diprediksi baru akan turun November nanti. Itupun juga masih intensitas rendah.

Editor : Mahfud
Sumber : wmo, Radar Kediri, BMKG
wmo BMKG kemarau el nino