JP Radar Kediri – Indonesia diperkirakan segera kehilangan gletser tropis terakhirnya. Berdasarkan laporan State of the Climate in the South-West Pacific 2025 yang dipublikasikan melalui laman Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO), luas gletser tropis di Papua kini hanya tersisa sekitar dua persen dibandingkan luasnya pada 1988.
Jika tren pencairan terus berlanjut, es abadi terakhir di Indonesia diprediksi akan hilang pada akhir 2026 atau awal 2027.
Laporan tersebut menunjukkan penyusutan gletser di Papua berlangsung sangat cepat dalam hampir empat dekade terakhir.
Gletser yang berada di kawasan pegunungan tinggi Papua menjadi satu-satunya gletser tropis yang masih tersisa di Indonesia maupun kawasan Pasifik Barat Daya.
Meningkatnya suhu akibat perubahan iklim membuat lapisan es terus kehilangan massa dari tahun ke tahun hingga kini hanya menyisakan sebagian kecil dari ukuran awalnya.
WMO mencatat 2025 menjadi tahun terpanas kedua yang pernah terjadi di kawasan Pasifik Barat Daya setelah rekor pada 2024.
Kenaikan suhu tersebut diikuti berbagai perubahan lain, seperti meningkatnya suhu laut, gelombang panas laut yang semakin sering, kenaikan permukaan laut, hingga pengasaman laut.
Kombinasi berbagai fenomena itu mempercepat proses pencairan gletser tropis yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu.
Hilangnya gletser tidak hanya menjadi simbol dampak perubahan iklim. Es abadi juga berfungsi sebagai arsip alam yang menyimpan jejak kondisi atmosfer dan iklim selama ribuan tahun.
Ketika seluruh lapisan es mencair, data ilmiah yang tersimpan di dalamnya ikut hilang sehingga mengurangi sumber informasi penting bagi penelitian perubahan iklim pada masa mendatang.
Selain berdampak terhadap penelitian, hilangnya gletser juga menjadi indikator bahwa perubahan iklim berlangsung semakin cepat.
WMO menilai berbagai perubahan yang terjadi di kawasan Pasifik Barat Daya menunjukkan pentingnya memperkuat upaya mitigasi sekaligus adaptasi terhadap perubahan iklim.
Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko bencana dan dampak lingkungan yang semakin luas di masa depan.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan kawasan Pasifik Barat Daya menghadapi berbagai tekanan perubahan iklim secara bersamaan sepanjang 2025.
Mulai dari pemanasan laut, kenaikan permukaan laut, gelombang panas laut, pengasaman laut hingga terus menyusutnya gletser tropis.
"Bagi banyak negara dan wilayah di Pasifik Barat Daya, laut merupakan pusat mata pencaharian, ekonomi, dan ketahanan. Pada 2025, kawasan ini mengalami pemanasan laut, kenaikan permukaan laut, gelombang panas laut, dan pengasaman laut, bersamaan dengan siklon tropis serta terus berlanjutnya hilangnya es gletser tropis," ujar Celeste Saulo sebagaimana dikutip dari laporan State of the Climate in the South-West Pacific 2025 yang dipublikasikan di laman WMO.(*)
Editor : MahfudSumber : World Meteorological Organization (WMO), Radar Kediri