JP Radar Kediri – Gus Miftah Maulana Habiburrahman kerap jadi sorotan seiring sederet kontroversinya. Kali ini muncul dugaan aliran dana sebesar Rp100 juta yang menyeret nama pendakwah yang akrab disapa Gus Miftah.
Nama Gus Miftah mencuat dalam agenda sidang kasus dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan yang digelar pada Senin (13/7) lalu.
Dalam keterangan saksi Dheky Martin, terungkap adanya alokasi dana dengan nominal tersebut yang ditujukan kepada sang pendakwah.
Menanggapi temuan tersebut, Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menegaskan bahwa lembaga antirasuah akan melakukan analisis mendalam.
"Ini nanti akan didalami lebih lanjut karena setiap fakta persidangan pasti dianalisis oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU)," ujar Budi saat ditemui di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (14/7).
Profil Gus Miftah
Gus Miftah lahir di Jabung, Lampung Timur, pada 5 Agustus 1981. Dia pun memiliki nama kecil, Miftahin Anan Maulana.
Pendakwah yang identickdengan rambut gondrong dan kaca mata hitam itu menikahi sosok wanita bernama Ning Astuti pada 2004 lalu dan dikaruniai dua orang anak.
Gus Miftah dikenal sebagai seorang mubalig dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman dan merupakan keturunan ke-9 Kiai Muhammad Ageng Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo.
Baca Juga: Benarkah Gus Miftah Terima Uang Korupsi Rp100 Juta dari Proyek DJKA? Begini Kata KPK
Pendidikan Gus Miftah berawal dari MTsN dan MAN yang berada di Pondok Pesantren Bustanul Ulum, yang kemudian dilanjutkan ke UIN Sunan Kalijaga (Uinsuka) Yogyakarta dengan mengambil jurusan Pendidikan Islam pada 1999.
Pada awal kiprahnya sebagai pendakwah, ia mempunyai cara tersendiri dengan menyasar tempat-tempat yang dianggapnya ‘kotor’ atau sarang maksiat. Salah satu tempat pertamanya berdakwah adalah area lokalisasi di Yogyakarta.
Tak hanya itu, ia juga berdakwah di kelab malam dan juga sejumlah salon plus-plus. Nama dia mulai dikenal publik setelah menggelar acara shalawat di sebuah klub malam di Bali pada 2018.
Menurutnya, para pekerja dunia malam mengalami kesulitan untuk mendapat akses ilmu keagamaan. Sebab, ketika hendak mengaji di luar, mereka justru menjadi bahan pergunjingan. Namun, ketika berada di tempat kerja, tidak ada kajian agama yang bisa didapat.
Hingga namanya semakin melejit ketika ditunjuk dan dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembina Sarana Keagamaan pada Selasa (22/10) kemarin.
Namun ia memutuskan untuk mengundurkan diri usai ramainya seruan boikot buntut persoalannya dengan penjual es teh.
Editor : Shinta Nurma Ababil