
KEDIRI, JP Radar Kediri - Yu Minthul iki wonge berasal dari keluarga kalangan menengah ke atas. Dari kecil wis kerep neng luar negeri ikut orang tuanya. Setahun bisa ping pindo ping telu. Pokoke, seringlah merasakan dunia luar.
Warga salah satu kelurahan di Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini terbiasa untuk hidup berkecukupan. Ora pernah merasakan sulitnya mencari mencari uang. Termasuk apapun keinginan pasti bisa terwujud dalam waktu singkat.
“Pokok nalika urip mbe wong tuwaku bener-bener kabeh wis ana. Aku ora perlu mumet mikir lan berjuang,” ujar Yu Minthul.
Sayangnya, meskipun bergelimang harta, Yu Minthul ternyata haus kasih sayang. Ya, kedua orang tuanya sibuk mengurusi bisnisnya. Sementara dia di rumah tak punya saudara alias anak tunggal.
Tak heran, dia pun mudah tergoda dengan perhatian orang lain kepadanya. Dia menganggap jika ada orang yang memperhatikannya itu tandanya baik dan tulus kepadanya. Padahal itu hanyalah bare minimum.
“Aku juga tidak pernah merasakan pacaran. Karena orang tuaku melarangnya. Kalau bisa sekali pacaran langsung untuk menikah,” imbuhnya.
Singkat cerita, di sela-sela membantu mengurus bisnis pakaian, Yu Minthul bertemu dengan Kang Dalbo. Pria yang kebetulan memiliki bisnis konveksi.
Mereka pun saling berkenalan dan bertukar nomor telepon. Awalnya komunikasi hanya sebatas menanyakan progress pesanan Yu Minthul. Tapi lambat laun Kang Dalbo mulai menanyakan yang lain.
“Mbuh nyapo nalika ketemu Kang Dalbo kodrat perempuanku keluar. Aku manja sekali, bahkan opo wae tak ceritakne Kang Dalbo,” beber Yu Minthul.




