Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Heboh Meteor di Langit Jogja hingga Cirebon, Ahli Astronomi Buka Suara

Shinta Nurma Ababil • Senin, 13 Juli 2026 | 10:30 WIB
Ilustrasi Meteor
Ilustrasi Meteor

JP Radar Kediri - Munculnya  meteor yang menampakkan kilatan cahaya hijau terang di langit Yogyakarta serta suara dentuman keras yang menghebohkan warga Cirebon, Sabtu (11/7) malam akhirnya memunculkan jawaban.

Fenomena tersebut dikonfirmasi sebagai aktivitas meteor superterang atau yang dikenal dalam dunia astronomi sebagai boloid.

Ahli Astronomi sekaligus Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Marufin Sudibyo, mengungkapkan bahwa kilatan cahaya ekstrem yang disertai pecahan (fragmentasi) dan suara dentuman itu memiliki karakteristik visual serta akustik yang sangat khas.

Warna hijau menyala yang disaksikan oleh banyak mata bukanlah tanpa alasan. Menurut Marufin, pendaran warna tersebut menjadi indikator kuat mengenai komposisi unsur kimia yang dibawa oleh benda luar angkasa tersebut.

"Cahaya kehijauan sebagai penanda benda langit itu kaya akan Nikel. Meteoroid tertentu, khususnya yang berasal dari fragmentasi asteroid, dikenal sangat kaya akan Besi dan Nikel dalam rasio berat 10 banding 1," terang Marufin kepada JawaPos.com, Minggu (12/7).

Baca Juga: Viral Motor dengan Stiker 'Belum Lunas Pajak' saat Antre SPBU, Begini Faktanya

Mengapa Terdengar Dentuman Keras hingga Cirebon?

Terkait suara ledakan atau dentuman keras yang merambat hingga wilayah Cirebon, Marufin memastikan bahwa itu adalah fenomena kompresi udara atau yang biasa disebut sonic boom.

Suara menggelegar ini muncul secara alami. Penyebabnya adalah deselerasi atau perlambatan kecepatan yang sangat ekstrem ketika meteoroid tersebut menembus lapisan atmosfer Bumi.

"Perubahan gradual itu melepaskan kerucut sonik secara fisis, yang kemudian tiba di paras Bumi sebagai dentuman sonik," paparnya. Ia menjelaskan, terjadi transisi kecepatan meteoroid yang drastis, dari fase supersonik di awal lintasan menjadi subsonik di akhir lintasannya.

Fakta-Fakta Geometris Meteor Boloid (11 Juli 2026)

Berdasarkan analisis data kasar yang berhasil dihimpun, berikut adalah rekonstruksi lintasan benda langit tersebut:

Waktu Kejadian: Sabtu, 11 Juli 2026, pukul 21:40 WIB.

Arah Laju: Meluncur dari arah timur laut menuju barat daya.

Area Ketampakan: Membentang luas dari utara Yogyakarta hingga Cirebon.

Panjang Lintasan: Diperkirakan mencapai 400 kilometer di atas permukaan Bumi.

Ukuran Awal: Benda langit ini berawal dari meteoroid berdiameter tergolong kecil, yakni sekitar 1 meter.

Lebih jauh, benda ini diidentifikasi kuat sebagai kepingan dari asteroid dekat-Bumi (Near-Earth Asteroid) kelas Apollo. Sebagai informasi, asteroid kelas ini memiliki jalur orbit yang mengitari Matahari, tepatnya berada di antara orbit planet Venus dan Bumi, dengan periode revolusi mencapai 0,94 tahun.

Baca Juga: Viral Karyawan Kopdes Merah Putih Terima Gaji hanya Rp76.000, Begini Kronologinya

Apakah Pecahan Meteor Mencapai Permukaan Tanah?

Pertanyaan terbesar masyarakat tentu berpusat pada keamanan: apakah ada material batu angkasa yang menabrak pemukiman? Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap tenang.

Hasil analisis geometri orbit sementara menegaskan bahwa batuan luar angkasa ini telah habis terbakar di udara sebelum sempat menyentuh daratan.

"Kepingan asteroid tadi tidak berhasil menjangkau permukaan Bumi saat menjadi meteor-superterang. Dia hancur di ketinggian 46 sampai 48 kilometer," tegas Marufin.

Sebagai penutup, Marufin memberikan catatan menarik. Peristiwa masuknya meteoroid ke atmosfer Bumi dengan skala dan kilatan cahaya semacam ini sejatinya bukanlah fenomena yang teramat langka. Jika merujuk pada statistik global, peristiwa serupa rata-rata menyapa langit Bumi setiap 26 hari sekali di berbagai belahan dunia yang berbeda.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#meteor jatuhcirebon #meteor jatuh #astronot #meteor #jogja