Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Waduk di Jawa Rawan Alami Defisit Air Saat Kemarau Ekstrem, ini yang Bakal Dilakukan BMKG

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Kamis, 2 Juli 2026 | 01:28 WIB
Ilustrasi modifikasi cuaca.
Ilustrasi modifikasi cuaca.

JP Radar Kediri - Wadun di Jawa rawan alami defisit air atau pengurangan air saat kemarau ekstrem ini. Karenanya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berencana melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada awal Oktober mendatang.

Ini dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan akibat musim kemarau yang diperkirakan lebih panas dan kering, khususnya di Pulau Jawa.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa OMC dilakukan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan sehingga dapat menambah pasokan air ke waduk-waduk yang menjadi penyangga sektor pertanian sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah ancaman kekeringan.

Menurutnya, kondisi waduk-waduk utama di Pulau Jawa, seperti Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur di Daerah Aliran Sungai Citarum, serta waduk di Daerah Aliran Sungai Brantas, Jawa Timur, masih berada dalam kondisi aman.

Baca Juga: PBB dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Minta Dunia Bersiap Hadapi Kemarau Ekstrem Akibat El Nino, Begini Dampaknya Bagi Indone

Namun, memasuki September hingga Oktober diperkirakan akan terjadi penurunan cadangan air sehingga operasi modifikasi cuaca dijadwalkan dimulai pada awal Oktober.

"Saat ini waduk-waduk utama di Jawa, seperti di Citarum ada Waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, dan di Brantas di Jawa Timur posisinya masih aman. Tapi nanti di September-Oktober kemungkinan defisit, sehingga awal Oktober akan kita lakukan operasi modifikasi di Jawa," kata dia dikutip dari Antara.

Seto mengungkapkan, persiapan administrasi pelaksanaan OMC telah dikoordinasikan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyusul penetapan status tanggap darurat kekeringan di sejumlah daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Berdasarkan hasil analisis iklim BMKG, wilayah Indonesia bagian barat dan selatan masih berpeluang mengalami hujan saat ini.

Namun mulai Juli hingga pertengahan Oktober, curah hujan diproyeksikan menurun tajam, terutama di Pulau Jawa, akibat pengaruh fenomena El Niño yang memperkuat kondisi kemarau.

BMKG memprakirakan puncak kekeringan ekstrem akan terjadi pada Agustus hingga September. Karena itu, kesiapan berbagai pihak, termasuk lembaga kemanusiaan seperti Palang Merah Indonesia (PMI) dalam mendistribusikan air bersih, dinilai sangat penting untuk membantu masyarakat yang terdampak.

Baca Juga: El Nino Mulai Berdampak di Sejumlah Negara: Australia dan India Alami Cuaca Ekstrem, Begini Dampak di Indonesia

Selain difokuskan untuk mengurangi dampak kekeringan di wilayah sentra pangan Pulau Jawa, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan secara bersamaan guna menjaga ketersediaan air di Danau Toba, Sumatera Utara, serta kawasan Poso, Sulawesi Tengah.

Melalui intervensi tersebut, BMKG berharap waduk-waduk yang mulai mengalami penyusutan dapat kembali terisi. Upaya ini juga diharapkan mampu menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi memicu bencana kabut asap.

Seto berharap operasi modifikasi cuaca dapat memberikan manfaat bagi sektor pertanian sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap dampak kabut asap.

Editor : Andhika Attar Anindita
#BMKG #kemarau #modifikasi cuaca