JP Radar Kediri – Gelombang panas ekstrem yang melanda Benua Eropa menjadi perhatian dunia setelah dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang.
Fenomena tersebut menjadi peringatan bahwa krisis iklim semakin nyata dan dapat berdampak fatal bagi kesehatan manusia.
Meski demikian, BMKG menegaskan fenomena heatwave secara teknis tidak terjadi di Indonesia karena karakter atmosfer di wilayah tropis berbeda dengan negara-negara lintang menengah.
WHO mencatat korban jiwa akibat gelombang panas terus bertambah seiring suhu udara yang memecahkan rekor di sejumlah negara.
Jerman mencatat suhu mencapai 41,7 derajat Celsius, sedangkan Polandia menyentuh 40,5 derajat Celsius. Para ahli menjelaskan kondisi tersebut dipicu fenomena heat dome, yakni massa udara panas yang terperangkap oleh sistem tekanan tinggi sehingga panas bertahan selama berhari-hari.
Tingginya angka kematian di Eropa juga dipengaruhi sejumlah faktor. Mayoritas bangunan di kawasan tersebut dirancang untuk menghadapi musim dingin sehingga mampu menyimpan panas.
Selain itu, hanya sekitar 19 persen rumah yang memiliki pendingin ruangan. Kondisi diperparah dengan tingginya populasi lanjut usia yang lebih rentan mengalami heatstroke, serta suhu malam yang tetap tinggi sehingga tubuh tidak memiliki kesempatan untuk mendinginkan diri secara optimal.
"Fenomena gelombang panas atau heatwave secara teknis tidak terjadi di Indonesia karena berada di wilayah ekuator dengan dinamika atmosfer yang berbeda. Namun masyarakat tetap perlu mewaspadai peningkatan suhu udara saat musim kemarau, terutama ketika cuaca cerah dan tutupan awan rendah," jelas BMKG.
Bagaimana di Indonesia?
BMKG menerangkan, meski tidak mengalami heatwave, cuaca panas di Indonesia tetap dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Tingkat kelembapan udara yang tinggi membuat penguapan keringat berlangsung lebih lambat sehingga tubuh lebih sulit melepaskan panas.
Akibatnya, risiko kelelahan akibat panas hingga heatstroke tetap meningkat apabila seseorang beraktivitas terlalu lama di bawah terik matahari.
Selain ancaman terhadap kesehatan, cuaca ekstrem juga memicu dampak ekologis di berbagai belahan dunia.
Di kawasan Mediterania, suhu permukaan laut dilaporkan mencapai sekitar delapan derajat Celsius di atas normal.
Sementara itu, Amerika Serikat bagian barat menghadapi kebakaran hutan besar akibat kombinasi suhu tinggi, kondisi kering, dan angin kencang.
Untuk Indonesia, BMKG mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi puncak musim kemarau dan potensi El Niño.
Baca Juga: Mengenal Tiban, Ritual Kemarau dan Minta Hujan yang Masih Dilestarikan di Kediri
Kekeringan berkepanjangan dapat mengganggu ketersediaan air, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan gambut, serta memicu pemutihan terumbu karang akibat meningkatnya suhu perairan.
Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kecukupan cairan tubuh, membatasi aktivitas saat cuaca sangat terik, dan mempertahankan daya tahan tubuh.
Di sisi lain, UNEP mendorong solusi jangka panjang melalui penambahan ruang terbuka hijau, penanaman pohon, serta penerapan tata kota yang mampu mengurangi akumulasi panas tanpa bergantung sepenuhnya pada pendingin ruangan.
Editor : Andhika Attar Anindita