JP Radar Kediri - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan kondisi terkini soal bahan bakar minyak (BBM).
Bahlil mengatakan bahwa pemerintah mengeluarkan dana subsidi untuk bahan BBM hingga Rp 250 triliun akibat kenaikan harga minyak mentah dunia.
Ia menjelaskan, dengan Indonesia Crude Price (ICP) sebesar USD 70 per barel, anggaran subsidi BBM yang dibutuhkan mencapai Rp 150-200 triliun. Kebutuhan anggaran subsidi BBM itu turut naik ketika ICP-nya mencapai USD 100 per barel.
Baca Juga: Demo Malang Hari Ini 17 Juni: Mahasiswa Usung 5 Tuntutan Mulai MBG hingga Harga BBM
“Atas arahan Bapak Presiden, ICP-nya sampai dengan USD 100 itu berarti kita menambah subsidi kurang lebih sekitar Rp 230-250 triliun,” ujar Bahlil di Jakarta, Kamis (25/6) dikutip dari Jawapos.
Menurutnya, kenaikan ICP juga mengerek pendapatan negara. Ia mencontohkan ketika ICP USD 70 per barel pendapatan negara sebesar USD 10,8 miliar, dan ketika ICP USD 100 per barel maka pendapatan negara menjadi USD 17,6 miliar.
Sedangkan ketika ICP berada di level USD 90 per barel maka pendapatan negara sebesar USD 14,3 miliar. Menurutnya, ICP yang mencapai USD 100 per barel akan menambah pendapatan sekitar USD 7 miliar atau sekitar Rp 120-125 triliun.
Baca Juga: Bahlil Tanggapi Harga Pertamax Naik, Pastikan Harga BBM Subsidi dan LPG Tetap Aman
“Itu artinya apa? Dari Rp 250 triliun, kita sudah dapat 50% dari peningkatan pendapatan lifting,” ujarnya.
Langkahnya, pemerintah memberlakukan sejumlah kebijakan untuk menutup anggaran dari subsidi BBM. Adapun, salah satunya adalah dengan menarik royalti dari sektor mineral.
“Kita naikkan beberapa royalti nikel, batu bara, dan beberapa sektor lain. Kita bisa dapat uang sekitar Rp 30-35 triliun,” ucapnya.
Editor : Shinta Nurma Ababil