Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sosok Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang Lantang Kritik Program MBG

Shinta Nurma Ababil • Rabu, 24 Juni 2026 | 10:46 WIB
Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI
Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI

JP Radar Kediri – Nama Fathimah Azzahra Wakil Ketua BEM UI mendadak ramai diperbincangkan publik karena keberaniannya dengan lantang mengkritik program MBG. Namun ternyata, Fathimah Azzahra bukan mahasiswa dari rumpun ilmu sosial atau politik loh.

Baca Juga: MBG Berhenti Saat Hari Libur! BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026

Profil Fathimah Azzahra Wakil Ketua BEM UI 

Fathimah Azzahra ternyata Ia merupakan mahasiswi Program Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) angkatan 2023.

Di tengah rutinitas jadwal praktikum dan kuliah kedokteran yang padat, kepedulian sosialnya tak pernah luntur. Pada tahun 2026 ini, Fathimah dipercaya mendampingi Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan (mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis) untuk memimpin roda organisasi mahasiswa terbesar di kampus perjuangan tersebut.

Keterlibatannya di struktur BEM UI mengukuhkan tradisi bahwa aktivisme kampus milik semua disiplin ilmu, tak terkecuali calon tenaga medis.

Keberanian Fathimah berorasi di televisi nasional tentu tidak dibentuk dalam semalam. Jika melongok rekam jejaknya di laman LinkedIn, ia memiliki jam terbang organisasi yang sangat mumpuni.

Pada tahun 2025, ia menjabat sebagai Head of 2nd Commission Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UI. Di sana, ia terbiasa menggodok kebijakan kampus, mulai dari menyusun mekanisme fit and proper test hingga memimpin panitia khusus untuk merumuskan peraturan kemahasiswaan. Pengalaman ini membentuk kerangka berpikirnya yang sistematis dan berbasis regulasi.

Baca Juga: Demo Malang Hari Ini 17 Juni: Mahasiswa Usung 5 Tuntutan Mulai MBG hingga Harga BBM

Jiwa kepemimpinannya juga terasah di tingkat fakultas. Pada tahun 2024, ia mengemban amanah sebagai Head of Community of Neuroscience and Psychiatry (CORE) FKUI, serta sukses menjadi Project Officer untuk program pengabdian masyarakat "Semarak Ramadan" yang digagas Forum Studi Islam FKUI.

Suara lantangnya juga pernah menggema saat ia ditunjuk menjadi orator dalam aksi solidaritas "Independence of the Medical Profession" pada 2025. Bersama Dewan Guru Besar FKUI dan BEM FKUI, ia berdiri di garis depan membela independensi profesi medis di tengah dinamika kebijakan kesehatan nasional.

Vokal di jalanan dan forum diskusi tak membuat Fathimah melupakan kewajiban utamanya sebagai mahasiswa kedokteran. Prestasinya di bidang akademik berbanding lurus dengan karier organisasinya.

Terbukti, pada Mei 2025 lalu, ia bersama tim risetnya sukses mengharumkan nama kampus dengan menyabet Juara I dalam kompetisi riset kedokteran tingkat nasional, The 17th Liver Update.

Penelitiannya di bidang hepatologi (ilmu yang mempelajari hati, kantong empedu, dan pankreas) dinilai oleh para pakar memiliki keunggulan metodologi sekaligus relevansi klinis yang tinggi.

Keseimbangan antara intelektualitas akademik dan kepekaan sosial inilah yang membuat Fathimah Azzahra kini menjadi salah satu ikon pergerakan mahasiswa modern yang patut diperhitungkan.

Baca Juga: Tidak Ada Kader NU Terlibat Korupsi MBG, Gus Yahya: Semuanya Bekerja untuk Khidmah

Fathimah Azzahra Debat dengan Politisi

Perempuan berhijab dengan almamater bewarna kuning itu keberani mengkritisi kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka .

Sebagai Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) periode 2026, Fathimah tampil lugas menyuarakan realitas pahit yang masih dihadapi masyarakat daerah. 

Namanya kian melambung setelah ia terlibat debat panas dengan Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, di sebuah stasiun televisi swasta.

Dalam forum diskusi tersebut, Fathimah memberikan perspektif yang menghentak. Alih-alih sekadar menolak, ia menyoroti prioritas mendasar yang seharusnya diselesaikan pemerintah sebelum menjalankan program MBG, yakni akses dan infrastruktur pendidikan yang masih tertinggal.

"Saya rasa tadi sudah disebutkan ya, bahwa ada sesuatu yang lebih genting sebetulnya dari mengisi perut lapar. Yaitu bagaimana anak-anak di daerah yang akses pada sekolahnya itu masih terhambat," ujar Fathimah dengan intonasi tenang namun tajam.

Bagi Fathimah, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak anak bangsa yang harus bertaruh nyawa melewati jalan rusak atau belajar di gedung yang nyaris rubuh. Baginya, asupan gizi memang penting, namun fasilitas standar kelayakan pendidikan adalah fondasi mutlak yang tidak boleh dikesampingkan.

"Sebelum kita memberikan yang tambahan-tambahannya, additional-nya yaitu dari bentuk MBG ini, apa yang wajib-wajib dan standarnya perlu dipenuhi dulu," tegasnya mengunci argumen.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#fathimah azzahra #wakil ketua bem ui #fathimah azzahra bem ui #bem ui #profil fathimah azzahra