JP Radar Kediri – Belakangan ini, pemadaman listrik bergilir menciptakan munculnya keluhan masyarakat di berbagai wilayah di tanah air.
Kondisi ini utamanya di wilayah Jawa-Bali membuat munculnya pertanyaan mengenai penyebab gangguan listrik yang terjadi.
Mengapa Ada Pemadaman Listrik Belakangan Ini?
Pengamat Sistem Tenaga Listrik dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, menjelaskan bahwa terdapat dua faktor utama yang menyebabkan gangguan listrik di Pulau Jawa.
“Pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini ternyata dipicu oleh dua hal di pembangkit listrik, yakni force outage dan derating,” ungkap Kevin, seperti dikutip dari unggahan Instagram resmi @itb1920, Selasa (16/6).
Merespons situasi ini, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) langsung mengambil langkah antisipatif untuk mengamankan energi primer. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, telah dibentuk tim khusus pengadaan batu bara untuk PT PLN (Persero).
“Dalam rangka memastikan kepastian PLN mendapatkan batu bara dan transparansi, kami membentuk tim lintas sektoral,” tegas Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Jakarta, Kamis (18/6).
Baca Juga: Heboh Tagihan Listrik Naik 50 Persen, Faktanya Diungkap PLN
Tim pengadaan ini melibatkan Direktorat Jenderal Minerba, Inspektorat Jenderal ESDM, unsur Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta internal PLN. Sinergi ini ditargetkan mampu menyinkronkan data lapangan sekaligus meminimalkan biaya operasional (opex) perusahaan agar beban subsidi dan kompensasi negara tidak membengkak.
Kementerian ESDM mencatat, kebutuhan batu bara PLN pada tahun 2026 mencapai 154 juta ton. Hingga saat ini, komitmen kontrak yang sudah diamankan mencapai 134 juta ton.
"Jadi tinggal kurang lebih sekitar 18 sampai 20 juta ton yang belum. Tim ini akan segera menyelesaikannya. Overall, tidak ada masalah,” tandas Bahlil memastikan pasokan energi untuk masyarakat akan tetap terjaga.
Ancaman Ganda "El Nino Godzilla"
Tantangan teknis tersebut makin berat dengan adanya tekanan perubahan iklim. Ancaman fenomena El Nino ekstrem—atau yang kerap dijuluki El Nino Godzilla—membawa suhu panas ekstrem yang membuat konsumsi listrik masyarakat melonjak tajam, terutama untuk penggunaan pendingin ruangan (AC).
Di saat permintaan setrum sedang tinggi-tingginya, suplai justru terancam anjlok. Kemarau panjang memicu penyusutan debit air di berbagai waduk. Hal ini memengaruhi kinerja produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) vital, termasuk PLTA Cirata dan Saguling di Jawa Barat. Menurunnya volume air memaksa sumber energi lain untuk menanggung beban kelistrikan yang jauh lebih besar.
Editor : Shinta Nurma Ababil