Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penyebab Pemadaman Lampu Bergilir yang Kerap Terjadi: PLN Minta Maaf, ESDM Janjikan Pemulihan Cepat

Shinta Nurma Ababil • Kamis, 18 Juni 2026 | 15:27 WIB
Pemadaman lampu
Pemadaman lampu

JP Radar Kediri – Belakangan ini, insiden pemadaman listrik yang kerap melanda wilayah Pulau Jawa dan Bali sukses membuat masyarakat bertanya-tanya. 

Apa Penyebab Pemadaman Lampu Bergilir?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui bahwa saat ini sistem kelistrikan nasional tengah menghadapi "badai sempurna" mulai dari seretnya pasokan batu bara, membengkaknya biaya produksi tambang, hingga hantaman cuaca ekstrem El Nino.

Baca Juga: Heboh Tagihan Listrik Naik  50 Persen, Faktanya Diungkap PLN 

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, PT PLN (Persero) saat ini masih kekurangan pasokan sekitar 18 hingga 20 juta ton batu bara dari total kebutuhan tahun 2026 yang mencapai 154 juta ton. Masalah utamanya terletak pada kelangkaan batu bara kalori menengah (5.200 kcal) yang secara alami mulai menyusut.

"Kita kan tahu bahwa sekarang kalori batu bara kita ini semakin hari semakin rendah. Nah, ini yang sedang kita cari solusinya," ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (18/6).

Tidak hanya kualitas yang menurun, para pengusaha tambang juga tengah menjerit karena biaya produksi yang meroket. Hal ini dipicu oleh angka stripping ratio (SR) yang sudah menyentuh level 8% hingga 12%.

 Baca Juga: Kabel Listrik Toko Bangunan di Kandat Kediri Terbakar Memicu Kepanikan Warga, Ini Penyebabnya!

Kondisi tersebut memaksa pemerintah untuk memutar otak dan mengevaluasi harga patokan kewajiban pasar domestik (Domestic Market Obligation/DMO). Tujuannya satu: agar operasional tambang tetap jalan tanpa membuat PLN dan masyarakat rugi.

"Kita sedang menghitung plus-minus-nya. Jangan sampai PLN dirugikan, tapi pengusaha juga tidak boleh rugi. Kalau mereka disuruh jual dengan harga sangat murah sampai rugi, ya tidak mungkin juga," tegas Bahlil.

Untuk memastikan transparansi dan mengawal pasokan batu bara benar-benar mendarat di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), pemerintah kini membentuk tim khusus. Tim ini diisi oleh gabungan elit dari Dirjen Minerba, Inspektorat Jenderal ESDM, BPKP, dan PLN.

PLN Minta Maaf, ESDM Janjikan Pemulihan Cepat

Rentetan kendala inilah yang akhirnya berimbas ke pelanggan. Di Bali, misalnya, pemadaman listrik sempat terjadi pada 12 Juni 2026 lalu dengan alasan peningkatan keandalan sistem kelistrikan.

"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan pelayanan kami," tulis pernyataan resmi akun Instagram PLN UID Bali.

Meski kondisinya cukup menantang, pemerintah memastikan masyarakat tidak perlu panik. Menteri Bahlil menjamin bahwa krisis stok batu bara yang sempat melumpuhkan kelistrikan pada 2022 silam tidak akan terulang tahun ini.

"Kemarin memang ada yang belum maksimal. Namun, saat ini kita terus melakukan percepatan untuk pemulihan," pungkas Bahlil di Istana Kepresidenan.

Siasat 'Derating' dan Ancaman El Nino

Di sisi teknis, Pakar Tenaga Listrik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjar Nahor, menjelaskan bahwa pemadaman listrik bisa terjadi karena dua hal: force outage (gangguan mendadak) dan derating (penurunan kapasitas produksi yang disengaja).

Di tengah menipisnya stok batu bara, operator pembangkit listrik kerap harus mengambil langkah derating. Daya operasi diturunkan hingga 60% dari kapasitas maksimal demi menghemat bahan bakar. Ini adalah langkah darurat untuk mencegah pemadaman total (total blackout).

"Jika dipaksa beroperasi 100% dan bahan bakar habis total, PLTU butuh waktu hingga dua hari hanya untuk menyala kembali," papar Kevin, mengutip laman resmi Instagram ITB.

Tantangan kelistrikan ini makin berat dengan hadirnya fenomena El Nino. Suhu panas ekstrem membuat konsumsi listrik masyarakat untuk pendingin ruangan (AC) melonjak drastis. Di saat yang bersamaan, curah hujan yang minim membuat debit air di waduk-waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) raksasa menyusut tajam.

"Debit air menyusut tajam, mengancam produktivitas PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat yang selama ini jadi penopang," imbuh Kevin.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#pemadaman #Lampu Mati #pln #listrik #Menteri ESDM Bahlil Lahadalia