Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Siap-Siap! Godzilla El Nino Ancam Indonesia, Ini Dampak dan Perkiraan Waktunya Menurut BRIN

Zeyra Putri Widhianingtyas • Senin, 30 Maret 2026 | 16:43 WIB
Ilustrasi satelit Godzila El Nino (Radar Bogor)
Ilustrasi satelit Godzila El Nino (Radar Bogor)

JP Radar Kediri - Indonesia diprediksi akan menghadapi musim kemarau yang tidak biasa pada tahun 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan adanya potensi fenomena iklim ekstrem yang dijuluki “Godzilla El Nino” mulai April 2026.

Fenomena ini diprediksi bukan hanya mempercepat datangnya musim kemarau, tetapi juga membuat durasinya jauh lebih panjang dari biasanya.

"Kondisi ini menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," ungkap Erma Yulihastin lewat akun resmi Instagram @brin_indonesia, Selasa (24/3).

Baca Juga: Awas, Kemarau Tahun Ini Diprediksi Lebih Kering, BPBD Kediri Imbau Waspadai Potensi Bencana Pancaroba

Tak berdiri sendiri, kemunculan El Nino kuat ini diperkirakan akan beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif. Kombinasi keduanya menjadi “paket lengkap” yang bisa memperparah kondisi cuaca di Indonesia, lebih kering, lebih panas, dan minim hujan.

Berdasarkan simulasi model iklim global, BRIN memperkirakan pengaruh El Nino akan bertahan hingga Oktober 2026. Periode ini dinilai cukup krusial karena dampaknya bisa dirasakan lebih luas dan intens dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Secara sederhana, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah hingga timur Samudra Pasifik.

Baca Juga: Waspada Godzilla El Nino, Beberapa Wilayah di Indonesia Akan Hadapi Kemarau Panjang Ekstrem April 2026, Mana Saja?

 Kondisi ini kemudian mengacaukan pola cuaca global, termasuk di Indonesia. Dalam skala tertentu, intensitasnya bisa meningkat drastis hingga masuk kategori ekstrem, yang kemudian disebut sebagai “Godzilla El Nino”.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan cuaca biasa. Saat El Nino berada pada level kuat, pola hujan bisa berubah signifikan dalam waktu yang cukup lama. Situasi akan semakin kompleks jika bersamaan dengan IOD positif, yakni kondisi ketika suhu laut di Samudra Hindia bagian barat lebih hangat dibandingkan sisi timur.

Akibatnya, pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia menjadi terhambat. Awan-awan pembawa hujan justru lebih banyak terbentuk dan berpindah ke wilayah lain, sehingga curah hujan di Indonesia menurun drastis.

BRIN menyebut, salah satu ciri khas dari fenomena “Godzilla El Nino” adalah turunnya suhu permukaan laut di sekitar wilayah Sumatra dan Jawa. Kondisi ini turut memperkecil peluang terbentuknya awan hujan, yang pada akhirnya membuat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kekeringan lebih panjang.

Baca Juga: 5 Tips Jaga Imun Tubuh Menurut Kemenkes, Waspadai Penyakit Pancaroba Akibat Cuaca Tak Menentu

“Godzilla El Niño + IOD positif mungkin terdengar menarik, tapi dampaknya cukup serius. Musim kemarau bisa berlangsung lebih lama, lebih kering, dan hujan semakin jarang turun,” tulis BRIN melalui akun resminya, (24/3). 

Dampak yang paling terasa dari fenomena ini adalah potensi kekeringan berkepanjangan. Bukan hanya itu, krisis air bersih hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan juga menjadi ancaman nyata yang perlu diwaspadai.

Namun, efeknya tidak akan merata di seluruh wilayah. Daerah selatan Indonesia diperkirakan menjadi yang paling terdampak, khususnya Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Wilayah-wilayah ini berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang dengan curah hujan yang jauh berkurang.

Baca Juga: Terungkap! Inilah Alasan Mengapa Sering Sakit Saat Musim Pancaroba

Jika kondisi tersebut terjadi, dampaknya bisa merembet ke berbagai sektor. Mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih, terganggunya aktivitas pertanian, hingga potensi gagal panen.

Penurunan curah hujan juga diperkuat oleh efek IOD positif yang menyebabkan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa menjadi lebih dingin. Kondisi ini membuat proses pembentukan awan hujan semakin sulit terjadi.

Di sisi lain, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Saat tanah dan vegetasi mengering, potensi munculnya titik panas akan melonjak dan berisiko memicu kebakaran besar, seperti yang pernah terjadi pada periode El Nino sebelumnya.

Meski demikian, tidak semua wilayah akan mengalami kondisi kering ekstrem. Beberapa daerah di bagian timur laut Indonesia, seperti Sulawesi, Halmahera, hingga Maluku, justru masih berpeluang mendapatkan curah hujan dengan intensitas cukup tinggi.

Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau untuk mulai meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Pengelolaan air, kesiapan menghadapi cuaca panas, hingga mitigasi risiko kebakaran menjadi langkah penting agar dampak fenomena ini tidak semakin meluas.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#BMKG #cuaca #kemarau #kemarau 2026 #BRIN #el nino