JP Radar Kediri – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi menetapkan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Penetapan ini menjadi tonggak sejarah baru karena Muhammadiyah kini sepenuhnya mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai pedoman penanggalan internasional yang presisi.
Dalam keterangan resminya, Muhammadiyah menjelaskan bahwa penetapan 1 Syawal 1447 H ini didasarkan pada perhitungan teknis yang sangat spesifik sesuai parameter KHGT.
Berdasarkan data hisab, parameter elongasi minimal 8 derajat dan tinggi hilal minimal 5 derajat telah terpenuhi di sebagian wilayah bumi sebelum batas waktu yang ditentukan.
Muhammadiyah menjelaskan bahwa dengan terpenuhinya parameter elongasi minimal 8 derajat dan tinggi hilal minimal 5 derajat sebelum pukul 24.00 UTC di beberapa wilayah dunia, maka awal bulan Syawal 1447 H ditetapkan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 M.
Penggunaan parameter ini merupakan standar global yang disepakati untuk menyatukan kalender Islam di seluruh dunia, sehingga tidak lagi terjadi perbedaan tanggal antarnegara.
Penetapan ini membuat malam takbiran jatuh pada Kamis malam, 19 Maret 2026. Di Bali, momen ini menjadi sangat unik karena bertepatan dengan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
PWM Muhammadiyah Bali telah mengeluarkan instruksi khusus untuk menjaga harmoni.
Umat Muslim diimbau merayakan kemenangan dengan khidmat di dalam masjid tanpa pengeras suara luar atau pawai obor, demi menghormati umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian.
Semangat berkemajuan juga ditunjukkan melalui aksi nyata di lapangan. Muhammadiyah wilayah DIY menyiapkan 1.374 titik lokasi salat Id dengan menggaungkan gerakan Zero Waste.
Gerakan ini menargetkan hilangnya sampah koran bekas alas salat yang biasanya memenuhi lapangan setelah rangkaian ibadah usai.
Sebagai aksi nyata, jemaah diimbau untuk membawa sajadah kain masing-masing dari rumah, sementara panitia akan bersiaga memastikan lokasi kembali bersih seketika setelah ibadah selesai dilaksanakan.
Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang mengandalkan perhitungan astronomis secara sangat presisi.
Metode ini memungkinkan penetapan tanggal hari raya dilakukan jauh-jauh hari tanpa harus menunggu hasil pengamatan mata telanjang di lapangan.
Secara sederhana, prinsip ini hanya mensyaratkan posisi bulan sudah berada di atas ufuk pada saat matahari terbenam, meskipun ketinggiannya masih sangat tipis.
Selama perhitungan matematis menunjukkan bahwa bulan telah "wujud" atau muncul di atas cakrawala saat pergantian hari dalam kalender Islam (Magrib), maka secara otomatis esok harinya sudah dinyatakan sebagai bulan baru.
Ketelitian data posisi benda langit ini memberikan kepastian waktu yang memudahkan masyarakat dalam merencanakan persiapan Idulfitri secara lebih terukur.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita