JP Radar Kediri – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem serta perubahan pola musim di tahun 2026.
Berdasarkan data terbaru, musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dengan karakteristik yang cenderung lebih kering dan berlangsung lebih lama dari biasanya.
Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau sejak April hingga Juni 2026.
Wilayah yang lebih dulu mengalami kemarau meliputi sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Kalimantan dan Sulawesi.
Kondisi ini terjadi akibat berakhirnya fenomena La Niña lemah dan peralihan menuju kondisi iklim netral yang berpotensi berkembang menjadi El Niño pada pertengahan tahun.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2026 dan mencakup sekitar 61,4% wilayah Indonesia.
Pada periode ini, kondisi cuaca kering akan semakin dominan, terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Beberapa wilayah lain akan mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli atau sedikit mundur hingga September.
Tidak hanya datang lebih awal, musim kemarau 2026 juga diprediksi memiliki intensitas yang lebih kering dari biasanya.
Sekitar 64,5% wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal. Selain itu, lebih dari separuh wilayah Indonesia berpotensi mengalami durasi kemarau yang lebih panjang.
Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan.
Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem
Di sisi lain, BMKG juga mengingatkan bahwa perubahan iklim dan dinamika atmosfer dapat memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
Fenomena ini dapat berupa hujan lebat dalam waktu singkat, angin kencang, hingga petir.
Cuaca ekstrem ini biasanya terjadi pada masa peralihan musim (pancaroba), ketika perubahan suhu dan tekanan udara berlangsung cepat.
Dampaknya dapat berupa banjir, tanah longsor, hingga gangguan aktivitas masyarakat.
BMKG mengingatkan adanya potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur selama tiga hari ke depan.
Pada 17 dan 18 Maret, wilayah ini berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat yang disertai angin kencang, sehingga meningkatkan risiko banjir, pohon tumbang, dan gangguan aktivitas.
Sementara itu, pada 19 Maret, hujan lebat hingga sangat lebat masih berpotensi terjadi meski tanpa disertai angin kencang, namun masyarakat tetap diimbau waspada terhadap genangan dan potensi banjir.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil