JP Radar Kediri - Gelaran Siksorogo Lawu Ultra (SLU) 2025 di lereng Gunung Lawu pada Minggu (7/12/2025) harus dibayar mahal. Itu setelah dua pesertanya dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti perlombaan lari lintas alam tersebut.
Peristiwa ini memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk dr. Tirta Mandira Hudhi, yang dikenal aktif dalam dunia olahraga, yang memberikan edukasi tajam mengenai insiden tragis tersebut.
Informasi yang beredar, dua peserta yang meninggal dunia adalah seorang pegawai dari Kementerian Pariwisata, dan pegawai Kementerian Agama Solo.
Keduanya dilaporkan kolaps di jalur yang berbeda. Dugaan sementara, keduanya mengalami kelelahan ekstrem setelah menempuh rute dengan elevasi tinggi. Hingga kini, penyebab pasti kematian masih dalam penyelidikan kepolisian dan saat ini sedang dalam proses visum oleh tim medis.
Menanggapi tragedi tersebut, dr. Tirta (@dr.Tirta) menyoroti faktor persiapan peserta sebagai penyebab utama. Dia mengaku pernah mengikuti SLU 2024 kategori 15 km, secara tegas menduga bahwa penyebab utama insiden ini adalah minim latihan.
Dokter Tirta menjelaskan bahwa kejadian fatal seperti ini justru sering menimpa peserta kategori jarak pendek, seperti 5k, 7k, 10k, atau 15k. Ia mengamati bahwa banyak peserta dalam kategori jarak rendah ini yang ikut hanya karena fomo (Fear of Missing Out).
Hal ini berbeda dengan peserta kategori ultra (50km, 80km, 120km) yang mayoritas latihannya sudah proper (layak dan memadai), sehingga mereka cenderung aman.
Ia menekankan bahwa lari lintas alam (trail run) tidak sama dengan lari di jalan raya (road run). Dia menerangkan bahwa rute trail run memiliki medan naik turun dan berelevasi, ditambah cuaca di gunung yang tidak pasti dan penurunan suhu di ketinggian tertentu.
Jika peserta adalah pelari road run yang mencoba trail run tanpa terbiasa atau kurang latihan di tempat berelevasi, hal ini sangat berisiko. Berlomba lari menanjak (hill run) membuat jantung bekerja jauh lebih keras.
Ia menegaskan bahwa peserta harus tahu batas diri dan tidak memaksakan diri jika memang tidak ada persiapan atau pengalaman yang cukup, apalagi hanya karena fomo.
Selain menyoroti kesiapan fisik peserta, dr. Tirta juga mengkritik keras respons warganet yang menyalahkan event yang menggunakan nama Siksorogo. "Biasa asal nyamber," ujarnya, menanggapi komentar yang menyalahkan nama event karena dianggap mengandung unsur mistika ("Nama kan doa, lawu minta tumbal").
Baca Juga: Update Bencana Banjir di Sumut, Sumbar, dan Aceh, Jumlah Korban Hingga Jalan yang Terputus
Padahal, event Siksorogo Lawu Ultra ini merupakan event besar yang bahkan bisa dibilang bertaraf internasional dan diselenggarakan oleh komunitas dengan jam terbang penyelenggara yang tinggi.
Senada dengan dr. Tirta, beberapa warganet lain juga menekankan bahwa trail run tidak bisa disamakan dengan maraton biasa, dan bahwa event ini menuntut persiapan fisik ekstra, ketahanan tubuh, dan kesiapan mental yang baik, terutama karena track yang menantang, suhu dingin, dan kemungkinan hujan.
Artikel ini ditulis oleh Karunia Syifa Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian