Satir adalah gaya bahasa. Menggambarkan sesuatu dengan cara yang unik. Melalui parodi. Fakta diwujudkan dalam vibes yang menggelikan, penuh humor, dan tentu saja lucu.
Fakta yang digambarkan, tentu saja, bertolak belakang dengan penggambarannya itu. Sebab, satir adalah majas untuk mengkritik bahkan menghina sikap atau tingkah laku yang buruk. Agar bisa berubah menjadi lebih baik.
Satir adalah kritik sosial. Namun pengemasannya jenaka. Bentuk dari upaya untuk menarik perhatian terhadap masalah yang dianggap besar. Cenderung sarkas, kasar. Bernada mengejek, mencemooh, menyakitkan hati. Berlawanan dengan fakta yang sebenarnya.
Satir itu pula yang-konon-menjadi ciri dari satu tayangan salah satu stasiun televisi di tanah air. Namun, juga mengklaim sebagai dokumenter.
Lalu, bagaimana bisa satu tayangan dokumenter dijadikan adegan satir? Nah, ini yang unik. Sebab, sejatinya, satir pada seni pertunjukkan biasanya adalah menggambarkan kebalikan dari fenomena yang akan diejek. Ada satir politik, yang mengolok-olok tokoh dengan menggambarkan sesuatu yang berkebalikan.
Nah, bila kemudian tayangan video dokumenter disatirkan, yang terjadi adalah penambahan narasi. Jadinya sangat verbal, tidak lagi simbolik pada sikap dan tingkah laku tokoh yang ditampilkan dalam adegan itu. Karena sosoknya bukan fiktif, melainkan nyata.
Inilah yang, mungkin, tidak diperhitungkan dengan cermat oleh pembuat acara. Narasi satir yang dimunculkan akhirnya tidak sekadar mengkritik. Melainkan cenderung menghina. Maka, terbitlah protes massif.
Siapa yang salah? Entahlah. Yang pasti, dalam satu pertunjukan seni, satir menghadirkan tokoh yang dijadikan ajang untuk mengolok-olok seseorang. Yang dianggap memiliki sifat buruk. Yang menurut yang mengolok, harus diubah menjadi lebih baik.
Lalu, apakah konten dalam acara televisi itu bisa disebut sebagai pertunjukan seni dengan majas satir? Entahlah. Yang pasti konten tersebut bertumpu pada video dokumenter, rekaman fakta. Bukan seni pertunjukan atau drama. Sehingga tidak ada pemarodian dalam video itu.
Ah, itu kan karya jurnalistik. Benarkah? Bila memang tayangan tersebut bermaksud untuk sebuah karya jurnalistik, harusnya memiliki kaidah jurnalistik. Setidaknya, ada perimbangan. Balancing. Ada konfirmasi.
Pertanyaannya, adakah tayangan itu mengandung unsur-unsur dalam kaidah jurnalistik? Bagi yang sudah menonton secara penuh, silakan memberi penilaian sendiri.
Satu hal yang pasti, tayangan itu menghilangkan salah satu unsur penting, empati! Ya, si pembuat kurang, atau bahkan tidak, mempertimbangkan apa sebenarnya yang terjadi dalam video tersebut. Atau bahkan, sebenarnya pemahaman si pembuat pada tayangan itu tidak kuat.
Melihat tayangan itu, kemudian mendengarkan narasi yang menyertainya, seakan kita digiring bahwa aktivitas tersebut sangat buruk. Menampakkan feodalisme dalam masyarakat beragama. Menggiring pada opini yang jauh dari kebaikan.
Okelah, sang pembuat acara punya pandangan berbeda terkait norma dan etika di dalam komunitas terbatas seperti pesantren. Kemudian ingin menciptakan bahwa hal itu salah dan harus diperbaiki. Namun, ketika niat itu dibungkus dalam karya jurnalistik, harusnya memahami terlebih dulu persoalan yang ada. Sebelum akhirnya menentukan goal atau tujuan dari karya yang dibuat.
Kemudian, ada juga upaya pembanding. Melakukan konfirmasi. Mewancarai kubu yang dikritisi tersebut tentang apa yang terjadi. Tentu, bagi pekerja media, jurnalis, paham benar tentang kaidah-kaidah seperti itu.
Nah, bila tidak, yang terjadi adalah kehebohan. Tayangan yang tak mengindahkan kaidah jurnalistik harusnya tak boleh diklaim sebagai karya jurnalistik.
Apakah ini disengaja? Ya, itu memang dibuat seperti itu. Sebagai pengalihan pada isu yang lebih besar. Kan, sekarang ada kasus PSSI gagal memenuhi target masuk ke Piala Dunia. Meskipun melakukan naturalisasi besar-besaran dengan uang tak terkira yang telah dihabiskan. Nasib Ketua Umum PSSI yang dalam beberapa hari sebelumnya terancam kini bisa tenang. Tak ada lagi yang menghujat. Karena semua fokus beralih ke soal tayangan yang tak memenuhi kaidah jurnalistik dan tanpa empati itu.
Tapi, itu kata seorang rekan. Yang merupakan penggila sepak bola. Yang sudah kadung berharap banyak pada kehadiran para pemain bule Belanda di tim nasional kita. Yang juga sempat murka kala ada penggantian pelatih.
Pertanyaannya, apakah benar ada teori konspirasi dalam kasus yang heboh belakangan ini? Ah, saya jadi bingung sendiri. Berada di negeri tercinta ini sepertinya semua serba mungkin. Meskipun, saya tidak yakin dengan kebenaran omongan rekan saya itu. Wong namanya saja teori konspirasi.
Editor : Mahfud