Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Eksusif : Liputan Khusus, Ironi Beras Subsidi di Kediri, Banyak Yang Mencari tapi Giliran Makannya Tak Sudi

Hilda Nurmala Risani • Senin, 25 Agustus 2025 | 19:34 WIB
Photo
Photo

 

Kehadiran beras subsidi jadi solusi ketika harga bahan pangan kian mencekik. Sayangnya, banyak warga yang hanya getol mencari. Kemudian, menjualnya lagi untuk ditukar tambah dengan beras lain.

Baru tahun  ini Endang mendapat jatah beras subsidi. Itupun, dari tiga nama yang dia setorkan ke kelurahan justru nama anaknya yang jadi penerima. Berhak dengan jatah 20 kilogram beras subsidi untuk satu kepala keluarga (KK).

Tapi, jatah untuk anaknya itu tak dia konsumsi. Bukan untuk keperluan keluarganya. Melainkan, dijual oleh wanita yang tinggal di salah satu kelurahan di Kecamatan Kota, Kota Kediri ini.

Setiap kali mendapat jatah beras subsidi, ibu dua anak ini bergegas membawanya ke pasar. Kemudian menukar dengan jenis beras yang lain.

Mengapa? “Berasnya fisiknya sih bagus. Tapi ketika dimasak gak enak, uatos!” dalihnya.

“Meskipun ditambah air, tetap saja seret di tenggorokan,” lanjut Endang.

Karena itulah dia rela merogoh kantongnya demi mendapat ganti yang lebih enak. Setiap kali menukarkan dia harus menambah uang Rp 5 ribu sampai Rp 8 ribu.

Sebenarnya, sebagai penerima bantuan beras, Endang dan keluarganya hidup pas-pasan. Tapi, baginya, bila sudah menyangkut urusan perut tetap saja harus memilih yang lebih enak. Yang dianggapnya lebih layak dimakan keluarganya.

Karenanya, dia rela uang yang disisihkan per bulan dari hasil kerjanya digunakan. Dijadikan tambahan menukar beras bantuan dengan yang lebih layak makan.

Pancen aku wong gak enek tapi jenenge mangan pingine yo panggah sing enak (memang aku orang tidak punya tapi namanya makan ingin tetap yang enak, Red). Kalau hanya menambah uang Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu saja ada,” sungutnya.

Endang bukan satu-satunya yang mengeluh soal rasa beras subsidi. Bahkan, mereka yang membeli beras berlabel Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pun mengeluhkan hal yang sama.

Untuk diketahui, beras subsidi dari Pemerintah ini ada dua macam. Beras bantuan pangan yang diberikan secara gratis dan beras SPHP yang dijual dengan harga Rp 57 ribu per kemasan 5 kg.

Sama halnya dengan beras bantuan gratis, SPHP banyak dikeluhkan bagus secara fisik tapi tak enak bila dimakan.

Enak gak enak tetap dituku merga iku sing paling murah. Masiya ora enek rasane (enak tidak enak tetap dibeli karena itu yang harganya paling murah. Meskipun tidak ada rasanya, Red),” uca Tini, warga Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Berbeda dengan Endang, Tini memilih membeli beras subsidi SPHP untuk makan keluarganya. Meskipun dia mengetahui jika berasnya tidak sama dengan yang dimakan sehari-hari, dia tetap membeli karena harganya lebih murah dibandingkan beras yang biasanya dimakan.

“Yang biasanya saya beli harga per 5 kg Rp 65 ribu. Ini (beras SPHP, Red) cuma Rp 57 ribu. Lumayan hemat Rp 8 ribu, meskipun rasanya jauh berbeda,” ujarnya dengan melempar senyum.

Ibu rumah tangga ini pun tak kehabisan akal. Tak jarang, dia mencampurkan beras SPHP dengan beras jenis membramo yang biasanya dia beli. Tujuannya agar rasanya lebih enak. Tak hanya itu, juga supaya tekstur berasnya ketika dimasak lebih lunak.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, beras subsidi yang diterima oleh masyarakat kurang mampu ini ditukar di beberapa pasar yang ada di Kota Kediri. Salah satunya adalah Pasar Setonobetek. Di pasar tersebut bisa dijumpai beberapa tumpukan karung beras bantuan pangan gratis yang ditukar dengan beras bramo.

“Kemarin (waktu pembagian bansos beras, Red) saya menerima per hari bisa 40 kg sampai 60 kg beras. Rata-rata mereka menukarkan dengan beras yang harga dan kualitasnya lebih mahal seperti beras membramo,” beber Maul, salah satu pedagang sembako di Pasar Setonobetek.

Maul pun sering mendengarkan keluh kesah masyarakat terkait beras subsidi ini. Tentang beras yang tidak ada rasanya. Lalu ketika dimasak keras dan membuat kering di tenggorokan.

“Sebenarnya enak dan tidak enak itu relatif. Tapi kan perlu juga ada evaluasi dari Pemerintah selaku pemberi. Jika ternyata banyak dikeluhkan harusnya bisa dibenahi berasnya,” paparnya sembari berharap pemerintah segera melakukan evaluasi.

Ditanya terkait apakah dia tidak takut menjual beras bantuan pangan, Maul mengaku selama memenuhi prosedur tidak ada ketakutan dalam dirinya. Sebab harga beras yang dibeli dari masyarakat lalu dijual kembali masyarakat sesuai dengan standarnya. Yaitu Rp 11.500 sampai Rp 12 ribu per kg.

“Yang penting apa yang saya jual harga dan kualitasnya ya sesuai dengan berasnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi jadi tidak perlu takut,” terangnya.

Perempuan asal Kecamatan Pesantren, Kota Kediri itu mengaku jika beras subsidi gratis yang ditukar masyarakat ke lapaknya juga ada yang membeli. Itu biasanya dari kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Namanya kebutuhan pokok pasti ada yang membutuhkan. Entah untuk campuran beras yang mahal atau gimana, nyatanya beras subsidi gratisan tetap ada yang minat,” pungkasnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#beras subsidi #berita kediri hari ini