Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

BMKG Prediksi Kemarau Basah Berlanjut, Masyarakat Diminta Siaga!

Jordan Rafael Anggara Saragih • Jumat, 11 Juli 2025 | 05:30 WIB
Siang Terik, Sore Diguyur Hujan Deras, Begini Penjelasan BMKG
Siang Terik, Sore Diguyur Hujan Deras, Begini Penjelasan BMKG

JP RADAR KEDIRI- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi peringatan kepada masyarakat jika musim kemarau tahun ini tak berjalan seperti biasa.

Meski memasuki periode kering, sebagian wilayah Indonesia justru masih dilanda hujan. Intensitas tinggi hingga Oktober 2025 mendatang.

Fenomena ini dikenal sebagai kemarau basah. Yaitu ketika curah hujan masih tinggi meskipun seharusnya sudah memasuki musim kemarau.

Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor atmosfer. Seperti melemahnya angin Monsun Australia dan suhu permukaan laut yang tetap hangat di selatan Indonesia.

Dilansir dari situs resmi bmkg.go.id, aktivitas gelombang atmosfer seperti Kelvin dan gelombang Rossby, serta peningkatan kelembapan udara di kawasan Indonesia, berkontribusi pada peningkatan potensi terbentuknya awan hujan di berbagai lokasi.

Akibatnya, beberapa daerah mengalami curah hujan yang ekstrem, mencapai lebih dari 100 milimeter dalam sehari.

Selain itu, BMKG juga mencatat adanya cuaca ekstrem pada awal Juli 2025 di beberapa lokasi seperti Bogor, Mataram, dan wilayah Sulawesi Selatan.

Hujan deras yang terjadi menyebabkan terjadinya banjir, tanah longsor, dan genangan air yang mengganggu aktivitas masyarakat. Jakarta, Tangerang, dan kawasan Puncak juga mengalami situasi serupa dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Melemahnya Monsun Australia yang berasosiasi dengan musim kemarau turut menyebabkan suhu muka laut di selatan Indonesia tetap hangat dan hal ini berkontribusi terhadap terjadinya anomali curah hujan tersebut,” kata Dwikorita dalam Konferensi Pers bertajuk ‘Perkembangan Cuaca dan Iklim’ secara daring.

Selain itu, gelombang Kelvin yang aktif terpantau melintas di pesisir utara Jawa, disertai dengan pelambatan serta belokan angin di bagian barat dan selatan Jawa yang memicu penumpukan massa udara.

Selanjutnya, konvergensi angin dan labilitas atmosfer lokal juga terpantau kuat, sehingga mempercepat pertumbuhan awan hujan.

Berdasarkan iklim global, BMKG dan beberapa pusat iklim dunia memprediksi bahwa ENSO (suhu muka air laut di Samudra Pasifik) dan IOD (suhu muka air laut di Samudra Hindia) akan tetap berada dalam fase netral pada semester kedua tahun 2025.

Hal ini menunjukkan bahwa dapat dipastikan bahwa beberapa daerah di Indonesia akan mengalami curah hujan yang melebihi normal pada musim kemarau, yang juga dikenal sebagai kemarau basah.

Lebih lanjut, situasi ini sejalan dengan ramalan BMKG pada Maret 2025 yang menyatakan bahwa kemarau tahun ini akan mengalami penundaan sekitar 29 persen Zona Musim (ZOM). Terutama di daerah Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Pemantauan hingga akhir Juni 2025 menunjukkan bahwa baru sekitar 30 persen Zona Musim yang telah memasuki musim kemarau. Angka ini hanya setengah dari kondisi normal, di mana secara klimatologis sekitar 64 persen Zona Musim biasanya sudah mengalami musim kemarau pada akhir Juni.

Dwikorita menekankan adanya cuaca ekstrem yang mengancam beberapa daerah tujuan wisata, daerah padat penduduk, serta aktivitas transportasi yang tinggi. Oleh karena itu, peringatan dini telah dikeluarkan sejak 28 Juni untuk mengurangi dampak pada aktivitas libur sekolah.

Beberapa daerah yang perlu diwaspadai meliputi sebagian Pulau Jawa bagian barat dan tengah (terutama Jabodetabek), Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua.

Di wilayah tersebut, telah terkonfirmasi terjadinya hujan dengan intensitas lebat, sangat lebat, hingga ekstrem dalam beberapa hari terakhir.

"Pada 5 Juli 2025, hujan dengan intensitas lebih dari 100 mm per hari (lebat hingga sangat lebat) terjadi di wilayah Bogor, Mataram, dan beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan.

Hujan ekstrem ini menyebabkan terjadinya banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Hujan lebat juga terjadi di wilayah Tangerang dan Jakarta Timur yang mengakibatkan genangan, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada aktivitas masyarakat," jelasnya.

Demikian pula pada 6 Juli 2025, hujan kembali melanda secara luas di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Terutama di Tangerang, yang menyebabkan genangan air, antrean lalu lintas, serta peningkatan potensi bencana hidrometeorologi.

Intensitas hujan lebat tercatat lebih dari 100 mm per hari, bahkan mencapai 150 mm per hari di daerah Puncak, Jawa Barat.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana. Diharapkan pemerintah daerah dan pihak terkait dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi cuaca yang tidak menentu ini.

Selain itu, peringatan dini telah dikeluarkan sejak akhir Juni untuk mengurangi risiko dan dampak kerugian akibat cuaca ekstrem.

Fenomena kemarau basah ini menunjukkan bahwa perubahan pola cuaca akibat dinamika global perlu diantisipasi secara bersama. Kewaspadaan dan informasi yang akurat menjadi kunci utama dalam menghadapi anomali iklim yang semakin kompleks.

Masyarakat harus mewaspadai risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, banjir bandang, serta gangguan transportasi.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

Editor : rekian
#BMKG #banjir #cuaca ekstrem #hujan deras #kemarau basah