JP Radar Kediri – Bulan Suro dikenal sebagai bulan penuh aura mistis dan kekuatan batin dalam budaya Jawa.
Bagi yang lahir di hari Pahing, momen ini dianggap sangat istimewa. Pasalnya, energi spiritual mereka diyakini sedang berada di puncaknya.
Weton Pahing dipercaya punya karakter kuat, berwibawa, dan peka terhadap hal-hal gaib.
Nah, saat memasuki bulan Suro yang juga dikenal sebagai bulan keramat kekuatan itu semakin terasa. Banyak yang menyebut, mereka jadi lebih “bertuah”, disegani, dan berpeluang besar mendapat rezeki tak terduga.
Baca Juga: Malam 1 Suro 2025 Jatuh di Malam Jumat Kliwon, Begini Mitos dan Tradisi yang Masih Dilestarikan
Berkah Datang Tanpa Diduga
Di bulan ini, pemilik weton Pahing sering dikaitkan dengan datangnya keberuntungan finansial, peluang usaha, atau bantuan dari orang penting.
Tak sedikit yang tiba-tiba mendapat rezeki lancar, proyek baru, atau bahkan relasi sosial yang lebih hangat.
Namun jangan terlena. Karena di balik potensi keberuntungan itu, ada juga sisi yang harus diwaspadai.
Peka Energi Gaib, Harus Waspada
Karena Pahing termasuk weton yang peka secara batin, di bulan Suro mereka juga bisa mudah merasa gelisah, capek tanpa sebab, atau mengalami gangguan halus.
Makanya, orang tua Jawa zaman dulu sering mengingatkan agar tidak bepergian malam, menghindari tempat ramai, dan menjaga suasana rumah tetap tenang selama Suro, apalagi jika lahir di hari Pahing.
Baca Juga: Malam 1 Suro 2025 Jatuh di Malam Jumat Kliwon, Begini Mitos dan Tradisi yang Masih Dilestarikan
Laku Tirakat Biar Hoki Makin Deras
Untuk menjaga energi tetap positif, pemilik weton Pahing dianjurkan melakukan tirakat seperti:
-
Puasa mutih (makan tanpa rasa)
-
Mandi kembang
-
Tapa bisu (diam tanpa bicara)
-
Banyak berdoa dan bersedekah
Tradisi ini bukan semata-mata mistis, tapi dipercaya sebagai cara membersihkan batin dan membuka jalan keberuntungan.
Buat kamu yang lahir di weton Pahing, bulan Suro adalah waktu terbaik untuk menata diri, memperkuat spiritual, dan membuka pintu rezeki.
Tapi jangan lupa, energi besar juga butuh pengendalian besar. Tirakat dan waspada jadi kuncinya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira