JP Radar Kediri – Hong Kong kembali disemarakkan oleh Festival Perahu Naga, sebuah tradisi kuno yang masih lestari hingga kini.
Festival yang dikenal dengan nama Duanwu Jie ini dirayakan setiap tanggal 5 bulan ke-5 dalam kalender lunar Tiongkok. Tahun ini, perayaan jatuh pada 10 Juni dan dipadati oleh ribuan peserta serta penonton yang memadati pantai utama Stanley, salah satu lokasi utama perlombaan.
Festival ini bukan sekadar ajang lomba perahu. Di balik kemeriahannya, tersimpan kisah sejarah yang menyentuh hati.
Legenda menyebutkan bahwa perayaan ini berakar dari pengorbanan seorang penyair dan pejabat bernama Qu Yuan yang hidup lebih dari dua ribu tahun silam, pada masa Dinasti Zhou.
Qu Yuan dikenal sebagai tokoh yang setia pada negaranya, Negara Chu. Namun, kesetiaannya justru membuatnya diasingkan karena ia menolak keputusan kerajaan untuk bersekutu dengan musuh, Negara Qin.
Setelah melihat tanah kelahirannya jatuh ke tangan musuh, Qu Yuan merasa putus asa. Ia kemudian mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Miluo.
Masyarakat yang mencintainya segera bergegas mendayung perahu sambil menabuh genderang guna mengusir roh jahat dan ikan-ikan, dengan harapan bisa menemukan jasadnya.
Untuk mencegah jasad Qu Yuan dimakan ikan, mereka melempar nasi ketan ke sungai.
Perahu-perahu yang mendayung cepat itulah yang kini menjadi simbol dalam perlombaan perahu naga, sedangkan nasi ketan yang dibungkus daun bambu berkembang menjadi makanan tradisional bernama zongzi, yang wajib hadir dalam setiap perayaan.
Selain untuk mengenang Qu Yuan, Festival Perahu Naga juga diyakini memiliki makna spiritual.
Dalam kepercayaan kuno Tiongkok, bulan kelima dianggap sebagai waktu yang membawa kesialan dan penyakit.
Oleh karena itu, masyarakat melakukan berbagai ritual untuk menolak bala, seperti menggantung kantong berisi ramuan herbal wangi di rumah, minum anggur realgar, hingga mengenakan jimat pelindung.
Di tengah kemajuan zaman, Hong Kong tetap mempertahankan warisan budaya ini. Tahun ini, lebih dari 150 tim dari berbagai negara berpartisipasi dalam perlombaan.
Dengan total lebih dari 5.500 pendayung, perlombaan dibagi menjadi dua kategori: perahu standar dengan 20 pendayung dan perahu mini dengan 12 pendayung.
Tidak hanya atlet profesional yang terlibat, tetapi juga masyarakat umum, komunitas ekspatriat, dan tim perusahaan turut ambil bagian, menunjukkan bahwa festival ini telah menjadi ajang budaya yang inklusif.
Festival ini menjadi daya tarik wisata tahunan yang menyatukan semangat sportivitas, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sejarah.
Meskipun Hong Kong adalah kota modern dengan gedung pencakar langit yang menjulang, masyarakatnya tetap memegang teguh tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Dentuman genderang, gemuruh sorak penonton, dan aroma harum zongzi menjadi pertanda bahwa budaya bukanlah sesuatu yang ditinggalkan, melainkan terus hidup dan berkembang bersama zaman.
Dengan semangat yang sama, Festival Perahu Naga bukan hanya dirayakan sebagai bentuk penghormatan kepada Qu Yuan, tetapi juga sebagai simbol harapan, persatuan, dan semangat pantang menyerah bagi masyarakat modern.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira