JP Radar Kediri- Belakangan ini, publik menyoroti pembangunan stairlift atau eskalator non permanen pada Candi Borobudur.
Pemasangan stairlift ini diketahui dirancang pemerintah dalam rangka mempersiapkan berbagai fasilitas khusus guna mendukung kelancaran kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke situs warisan dunia tersebut.
Dilansir dari Jawapos, pemerintah menyiapkan akses jalan setapak yang tidak menggunakan anak tangga hingga ke level empat Candi Borobudur.
Ini dimaksudkan agar Macron dapat mencapai bagian tengah candi dengan lebih cepat, tanpa harus menapaki banyak anak tangga.
"Pemerintah menyiapkan jadi semacam jalan setapak yang tidak pakai tangga untuk sampai level 4. Kemudian juga menyiapkan nanti, namanya apa itu? Stairlift," ucap Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi.
Stairlift ini nantinya akan digunakan dari lantai lima menuju lantai tujuh atau delapan, menyesuaikan kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Terkait kekhawatiran publik soal potensi kerusakan cagar budaya, Hasan memastikan bahwa semua fasilitas dibangun dengan pendekatan non permanen dan sesuai standar konservasi.
"Teman-teman, itu semua dibangun dengan pengawasan dari Kementerian Kebudayaan dan tidak ada paku, tidak ada bor. Jadi hanya ditaruh, didudukan, ditaruh saja," tegasnya.
Apa Itu Stairlift?
Stairlift merupakan alat bantu berupa kursi bermotor yang dipasang pada rel di sepanjang tangga.
Alat ini dirancang untuk mempermudah seseorang naik atau turun tangga hanya dengan duduk di kursi yang bergerak secara perlahan dan stabil.
Berbeda dari eskalator, stairlift tidak mengubah struktur tangga yang ada. Rel dapat diletakkan di sisi tangga tanpa merusak permukaan asli.
Berbeda dengan eskalator. Seperti diketahui, eskalator adalah tangga berjalan otomatis yang bergerak secara terus-menerus. Ini bisa mudah dijumpai di pusat perbelanjaan, stasiun, atau gedung bertingkat untuk memindahkan banyak orang sekaligus.
Stairlift yang hanya membawa satu orang dalam satu waktu, eskalator memiliki kapasitas hingga ribuan orang per jam.
Terkait pemasangannya di candi Borobudur, Hasan memastikan bahwa semua fasilitas dibangun dengan pendekatan non permanen dan sesuai standar konservasi.
"Teman-teman, itu semua dibangun dengan pengawasan dari Kementerian Kebudayaan dan tidak ada paku, tidak ada bor. Jadi hanya ditaruh, didudukan, ditaruh saja," tegasnya.
Hasan juga memastikan bahwa seluruh fasilitas tersebut dapat dibongkar kembali tanpa meninggalkan bekas atau merusak struktur asli Borobudur. "Jadi, nanti ketika misalnya itu selesai, itu bisa dibongkar dengan mudah," pungkasnya.
Pasalnya pembangunan fasilitas tersebut semata-mata dilakukan untuk efisiensi waktu dan kenyamanan tamu negara.
"Jadi, Presiden Prancis tentu dalam kunjungan kenegaraan waktunya terbatas. Bukan kayak kita kalau liburan ke Borobudur seharian di situ. Waktunya ketat, waktunya terbatas," kata Hasan Nasbi di kantornya, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (26/5).
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil