JP Radar Kediri – Dalam beberapa tahun terakhir, dunia hiburan digital mengalami pergeseran menarik dengan kemunculan fenomena VTube. Menggabungkan elemen visual dari anime dengan format hiburan live streaming, VTube menjadi simbol baru dalam budaya pop digital yang menyedot perhatian jutaan penggemar, terutama dari kalangan pecinta animasi Jepang.
Fenomena ini bukan hanya merambah Jepang, sebagai asal mula tren, tapi juga menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia, yang kini menjadi salah satu pusat komunitas VTube terbesar di Asia.
Apa Itu VTuber?
VTuber adalah konten kreator yang melakukan siaran langsung atau mengunggah video menggunakan avatar digital alih-alih menunjukkan wajah asli mereka. Avatar ini biasanya bergaya anime, lengkap dengan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang mengikuti gerak si kreator berkat teknologi seperti motion tracking dan Live2D rigging.
Fenomena ini pertama kali meledak di Jepang sekitar tahun 2016 dan terus tumbuh, terlebih saat pandemi Covid-19 memaksa banyak orang mencari hiburan dan interaksi secara daring.
Menurut Paramita Winny Hapsari, Dosen Sastra Jepang, kehadiran VTube menjawab kebutuhan sosial manusia akan interaksi. “Menonton anime saja tidak cukup. Ketika bisa berinteraksi langsung dengan karakter yang mereka sukai, para penggemar merasa lebih terhubung,” jelasnya.
Baca Juga: Gak Sabar Nunggu Sakamoto Days? Ini 5 Anime yang Mirip dan Wajib Kamu Tonton!
VTuber dan Budaya Populer
VTuber kini bukan hanya bentuk hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari budaya populer (pop culture). Dosen Universitas Amikom, Dhanar Intan Surya Saputra, menyebut bahwa VTuber merupakan bentuk manifestasi budaya digital modern yang didukung oleh kemajuan teknologi. Meskipun budaya biasanya tumbuh secara alami, budaya pop seringkali merupakan hasil dari kesengajaan dan strategi industri hiburan.
Namun, tidak sedikit pula kekhawatiran bahwa popularitas budaya pop seperti VTuber bisa mengikis budaya lokal. “Sayangnya, anak-anak zaman sekarang banyak yang tidak tahu bentuk gamelan, tapi di luar negeri justru gamelan digunakan untuk pementasan budaya,” ujar Dhanar.
VTuber Sebagai Peluang Inovasi Digital
Meski menuai pro dan kontra, banyak pakar melihat VTuber sebagai peluang besar untuk berinovasi, termasuk dalam bidang pendidikan. Dengan karakter yang lucu dan menarik, VTuber bisa menjadi medium baru dalam menyampaikan materi belajar untuk anak-anak maupun remaja. Paramita menambahkan bahwa anak-anak bisa diajak belajar dengan cara yang lebih menyenangkan melalui avatar seperti kelinci berbicara atau karakter kartun lainnya.
Antara Dunia Nyata dan Dunia Virtual
Salah satu daya tarik utama VTuber adalah kemampuannya menyatukan realitas dan fiksi. Para penggemar merasa terhubung secara emosional dengan karakter virtual karena interaksi yang ditawarkan terasa nyata. Hal ini menciptakan dunia hiburan yang lebih inklusif, di mana batas antara identitas nyata dan virtual menjadi lebih cair.
Sebagaimana dikatakan oleh Jeremy, salah satu penggemar VTuber, “Menurut saya, VTuber membuat perbedaan di dunia stream. Gak melulu orang di dunia nyata. Kita bisa melihat sesuatu yang berbeda.”
Baca Juga: Pyon, Gyaa, Zawa Zawa, Suara Unik yang Menghidupkan Emosi dalam Anime!
Fenomena VTuber adalah perwujudan dari perkawinan antara budaya anime dan teknologi live streaming. Bukan hanya sebagai hiburan semata, VTuber telah membuka pintu baru bagi kreativitas, interaksi sosial, dan peluang edukasi di era digital. Di tengah pesatnya perkembangan budaya pop, tantangan ke depan adalah bagaimana memanfaatkan VTuber untuk memperkaya budaya dan bukan justru mengaburkan identitas lokal.
Dengan komunitas yang terus tumbuh, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelaku aktif dalam membentuk wajah baru hiburan digital dunia.(vyn)
Penulis: Muhammad Alvin Riandi Zahra
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira