JP Radar Kediri - Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025 yang seharusnya berjalan lancar dan adil justru tercoreng dengan terungkapnya berbagai kasus kecurangan yang melibatkan penggunaan teknologi canggih oleh sebagian peserta.
Dalam dua hari pertama ujian, panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mencatat setidaknya 14 kasus kecurangan yang tersebar di sejumlah daerah besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, hingga Makassar.
Kasus-kasus tersebut menunjukkan adanya pola kecurangan yang semakin rapi, sistematis, dan melibatkan perangkat-perangkat kecil berteknologi tinggi. Berikut tujuh fakta mencengangkan terkait modus curang yang berhasil diungkap:
Baca Juga: Ribuan Siswa di Kediri Adu Nasib di UTBK, Seleksi PTN Jalur SNBT Berlangsung hingga 3 Mei
-
Kamera Mikro di Behel dan Kancing Baju
Dalam beberapa kasus yang ditemukan, peserta diketahui menyembunyikan kamera berukuran mikro yang ditanamkan di behel gigi maupun disisipkan rapi di dalam kancing baju seragam.Kamera-kamera ini digunakan untuk merekam soal-soal UTBK secara diam-diam dan mengirimkan gambar ke pihak lain di luar ruangan ujian.
Menurut panitia, deteksi kamera tersebut sangat sulit dilakukan hanya dengan alat pemindai biasa karena ukurannya yang sangat kecil dan tertanam dalam aksesori yang terlihat wajar.
Baca Juga: Wajib Tahu! Aturan Pakaian dan Dokumen UTBK-SNBT 2025 yang Harus Dipersiapkan -
Pemanfaatan Remote Desktop untuk Jawaban Jarak Jauh
Beberapa peserta menggunakan aplikasi remote desktop yang memungkinkan pihak dari luar untuk mengendalikan laptop ujian mereka dari jarak jauh.Dengan cara ini, peserta menyerahkan kendali pengerjaan soal kepada orang lain yang lebih ahli, sehingga mereka sendiri hanya berpura-pura mengerjakan di depan layar. Modus ini baru bisa terdeteksi setelah adanya pengawasan ketat terhadap aktivitas komputer selama ujian berlangsung.
-
Penyelundupan Handphone dalam Sepatu dan Pakaian
Petugas pengawas menemukan peserta yang menyembunyikan handphone di dalam sepatu, bahkan ada yang menempelkannya di tubuh bagian dalam menggunakan perekat.Perangkat ini digunakan untuk menerima jawaban soal secara real-time dari joki di luar ruangan ujian. Beberapa peserta bahkan sudah memodifikasi pakaian ujian agar bisa menampung alat komunikasi tanpa terdeteksi.
Baca Juga: Panduan UTBK SNBT 2025: Materi, Jadwal Pelaksanaan, Pengumuman, Lengkap dengan dan Linknya -
Live Streaming Saat Ujian Berlangsung
Salah satu modus yang cukup berani adalah peserta melakukan siaran langsung atau live streaming selama ujian berlangsung.Dengan bantuan kamera tersembunyi dan jaringan internet tersembunyi, peserta mempublikasikan soal yang sedang dikerjakan ke grup rahasia di media sosial, di mana kelompok joki siap memberikan jawaban cepat.
Tindakan ini langsung memicu kehebohan di dunia maya dan membuat panitia bergerak cepat melakukan investigasi.
Baca Juga: UTBK 2025 Kapan Dibuka? Ini Jadwal, Kuota, Biaya, dan Link Daftarnya -
Penyegelan Barang dengan Cable Ties untuk Mencegah Kecurangan
Baca Juga: UTBK 2025 Kapan Dibuka? Ini Jadwal, Kuota, Biaya, dan Link Daftarnya
Sebagai upaya mengantisipasi kecurangan yang semakin canggih, beberapa kampus penyelenggara UTBK mewajibkan peserta menyegel tas dan barang bawaan mereka dengan cable ties sebelum memasuki ruang ujian. Dengan metode ini, peserta tidak dapat mengambil alat-alat komunikasi secara diam-diam selama ujian berlangsung. -
Pemasangan Jammer Sinyal untuk Blokir Komunikasi
Universitas Hasanuddin Makassar menjadi salah satu kampus yang menerapkan langkah tegas dengan mengaktifkan jammer sinyal di area ujian. Alat ini berfungsi memutus semua sinyal telepon seluler dan internet, sehingga segala bentuk komunikasi nirkabel yang bisa dipakai untuk berbuat curang langsung terblokir sejak awal ujian. -
Ancaman Jalur Hukum bagi Pelaku Kecurangan
Baca Juga: Kesempatan Masuk UPN Veteran Jatim Tanpa Tes! Daftar Golden Ticket dan UTBK SNBT Sekarang!
Panitia SNPMB menegaskan bahwa bagi peserta yang terbukti melakukan kecurangan secara terencana dan terstruktur, bukan hanya dibatalkan kelulusannya, tetapi juga akan dilaporkan ke pihak berwajib untuk diproses secara hukum. Sanksi ini diambil untuk menjaga integritas dan kepercayaan publik terhadap sistem seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri.
Meskipun jumlah kasus yang terdeteksi masih kecil dibandingkan jumlah peserta keseluruhan, panitia mengingatkan seluruh peserta UTBK agar tidak mencoba-coba menggunakan metode curang, karena teknologi pengawasan kini semakin canggih dan semua tindakan kecurangan dapat terlacak dengan detail.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira