Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Titik Puspa lahir dari Tanah Kalimantan, Bersinar di Panggung Nasional

Jauhar Yohanis • Jumat, 11 April 2025 | 02:24 WIB

Titiek Puspa
Titiek Puspa

Titik Puspa, terlahir dengan nama Sudarwati. Lahir di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, pada 1 November 1937.

Berdarah Jawa dari pasangan Tugeno Puspowidjojo dan Siti Mariam, masa kecilnya penuh dinamika.

Namanya sempat berganti dua kali—menjadi Kadarwati, lalu Sumarti. Sejak kecil, Sumarti bercita-cita menjadi guru taman kanak-kanak. Namun garis hidup berkata lain.

Suara emasnya mulai dikenal publik setelah ia memenangkan sejumlah kompetisi menyanyi. Di usia 14 tahun, Sumarti memilih jalan sebagai penghibur.

Keputusan ini ditentang keras oleh orang tuanya. Diam-diam, ia tetap mengikuti lomba. Nama “Titiek Puspo” digunakan sebagai samaran agar tidak dikenali keluarga.

Titiek berasal dari nama panggilan sehari-harinya, sedangkan Puspo dari nama sang ayah. Nama ini kemudian disempurnakan menjadi Titiek Puspa—identitas yang kelak melegenda di jagat hiburan Indonesia.

Baca Juga: Titiek Puspa Berjuang Lawan Penyakit Ini Sebelum Meninggal Dunia

Langkah Awal di Dunia Musik dan Panggung Operet

Karier profesional Titiek Puspa dimulai dari Semarang, saat ia mengikuti ajang Bintang Radio. Tidak berhenti pada dunia tarik suara, ia melebarkan sayap ke seni pertunjukan.

Bersama grup Papiko, Titiek menghidupkan operet-operet populer yang ditayangkan TVRI seperti Bawang Merah Bawang Putih, Ketupat Lebaran, Kartini Manusiawi, hingga Ronce-ronce.

Langkah besarnya dalam industri rekaman dimulai lewat piringan hitam rilisan label Gembira.

Lagu-lagu seperti Di Sudut Bibirmu, Esok Malam Kau Kujelang, dan duet Indada Siririton bersama Tuty Daulay menjadi pembuktian awalnya di dunia musik profesional.

Pada era 1960-an, ia bergabung dengan Orkes Studio Jakarta, tempatnya mendapat bimbingan langsung dari Iskandar dan suaminya sendiri, Zainal Ardi, yang juga penyiar RRI.

Menulis Lagu, Mencetak Album Legendaris

Meski awalnya hanya menyanyikan lagu ciptaan orang lain seperti Mus Mualim dan Wedasmara, Titiek akhirnya mulai menciptakan sendiri lagu-lagunya.

Album Si Hitam dan Pita (1963) menjadi tonggak penting, masing-masing berisi 12 lagu karya sendiri yang sukses di pasaran. Doa Ibu menyusul, memuat 11 lagu ciptaannya dan satu lagu dari Mus Mualim.

Lagu-lagu seperti Si Hitam, Aku dan Asmara, Minah Gadis Dusun, dan Pantang Mundur menjadikannya bukan hanya sebagai penyanyi, tapi juga pencipta lagu ulung yang diperhitungkan.

Ia hengkang dari Orkes Studio Jakarta pada 1962, namun popularitasnya justru semakin menanjak.

Menariknya, nama panggung "Titiek Puspa" yang kini begitu lekat dengan dunia hiburan, dipilih langsung oleh Presiden Soekarno pada era 1950-an—pengakuan simbolis atas perannya dalam memperkaya budaya bangsa.

 

Cinta, Film, dan Perjuangan Melawan Kanker

Titiek menikah dengan Zainal Ardi pada tahun 1957. Pasangan ini dikaruniai dua anak perempuan pada 1963.

Dari sang suami pula, ia mulai belajar serius menulis lagu. Tidak hanya berhenti di dunia musik, Titiek juga menjajal dunia film.

Ia bermain dalam sejumlah judul seperti Karminem, Inem Pelayan Sexy, dan Apanya Dong, membuktikan kapasitasnya sebagai artis multitalenta.

Namun, kehidupan tak selalu diwarnai sorotan gemerlap. Pada 2009, ia didiagnosis mengidap kanker serviks.

Dua bulan menjalani kemoterapi di Mount Elizabeth Hospital, Singapura, ia justru melahirkan 61 lagu baru di tengah proses pengobatan.

Ia mengaku, kekuatan doa dan keyakinan adalah penyembuh sejati yang menyertainya dalam masa-masa sulit itu.

Dedikasi untuk Anak-Anak Lewat Lagu dan Aksi Nyata

Kepedulian besar terhadap dunia anak-anak mendorong Titiek menciptakan sejumlah lagu anak seperti Menabung dan Aku Suka Musik, yang ia bawakan bersama Saskia dan Geofanny pada era 1990-an.

Di tengah kelesuan lagu anak Indonesia, ia bangkit dan menggagas grup vokal Duta Cinta pada 2014. Grup ini terdiri dari 10 anak dari beragam latar belakang etnis, membawa semangat kebhinekaan dan cinta Tanah Air.

Kiprah Duta Cinta berlanjut di program Pesta Sahabat yang tayang di RTV. Dari episode Aku Anak Sehat hingga Kasih Ibu, anak-anak tampil bersama Titiek membawakan lagu-lagu edukatif.

Tahun 2018, mereka kembali hadir dalam Pesta Sahabat Anak Indonesia, dan Titiek tetap setia mendampingi mereka.

Selama 2017 hingga 2019, ia menjadi bagian penting dalam berbagai episode drama musikal di televisi, termasuk Pesta Sahabat Cinta Indonesia, membuktikan bahwa semangatnya tak pernah redup meski usia terus bertambah.

Simbol Ketekunan dan Seni yang Tak Pernah Usang

Titiek Puspa bukan hanya sosok dalam sejarah musik Indonesia. Ia adalah simbol kegigihan, dedikasi, dan kecintaan terhadap budaya yang mendalam.

Suara dan karya-karyanya menembus generasi, menjadikannya legenda hidup yang tidak sekadar dikenal, tapi dikenang dan dihormati.

Di balik panggung dan sorotan, Titiek adalah seorang guru, pejuang, dan inspirasi—sosok yang telah menulis sejarah panjang dengan nada-nada yang tak akan pernah usang.

Selamat jalan Sang Maestro, kamu akan selalu hidup di hati bangsa Indonesia

***

Editor : Jauhar Yohanis
#penghibur #penyanyi #penulis lagu #artis #Titiek Puspa meninggal