Ratusan Siswa Madrasah Aliyah Negeri MAN 2 Kota Bekasi menggelar aksi demo di Lapangan Madrsah untuk menuntut transparansi dana serta fasilitas sekolah yang seharunya layak mereka terima.
Dalama video yang beredar, menunjukkan bagaimana kondisi lapangan MAN 2 Kota Bekasi yang dipenuhi oleh lautan siswa yang melakukan aksi demo didepan kepala sekolah.
Aksi demo tersebut terjadi ketika upacara bendera berlangsung, saat Kepala Sekolah, Nina Indriana, menyampaikan amanat.pada Senin (17/2) kemarin.
Nina terlihat berdiri diatas podium dan mencoba untuk menghadapi luapan emosi serta kritikan dari para siswa.
Para siswa melayangkan protes mereka terhadap penggunaan dana Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) yang dianggap tidak jelas.
Para siswa sudah tidak tahan lagi sebab infrastruktur maupun fasilitas sekolah yang sudah tidak layak tidak segera diperbaiki. Seperti atap kelas bocor, dinding mengelupas, serta daun pintu yang rusak.
Siswa yang seharunya menerima manfaat dari SPP yang dibayarkan, berbalik tidak merasakan sama sekali dana yang mereka keluarkan tiap bulannya.
Padahal, Setiap bulannya, para siswa membayar sejumlah Rp 250 ribu. Berdasarkan data dari laman resmi Kementrian Agama (Kemenag), jumlah siswa MAN 2 Kota Bekasi memiliki 26 rombongan belajar dengan total seluruh siswa yaitu 866.
Jika dikalikan dana SPP yang dibayarkan dengan jumlah siswa MAN 2 Kota Bekasi, pihak sekolah setiap bulannya menerima dana lebih dari Rp 200 juta.
Belum lagi saat tahun ajaran baru, siswa juga dibebankan untuk melakukan pendaftaran ulang yang memakan nominal Rp1,4 juta.
Sebelumnya, kepala sekolah sempat menjanjikan akan mengadakan berbagai fasilitas untuk para siswa. Seperti Finger print, AC, dan CCTV.
Tidak hanya itu, para siswa kelas 12 yang akan luluspun diminta untuk membayar Rp 600 ribu untuk biaya wisuda jika ingin dilaksana.
Nominal tersebut belum termasuk jumlah orang tua yang diundang untuk hadir dalam acara wisuda tersebut.
Para siswa juga mengeluhkan dukungan yang diberikan pihak sekolah terhadap organisasi dan ekstrakulikuler sangat kurang.
Beberapa kali para siswa sempat mengajukan proposal untuk pencairan dana kegiatan mereka, tetapi tidak ada satup un yang disetujui.
Penulis : Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira