JP RADAR KEDIRI-Dengan berkembangnya zaman, banyak sekali teknik pewarnaan kain. Mulai dari pewarna textil hingga bahan alami. Kini, untuk pewarnaan alami juga terdapat teknik eco pounding.
“Sebenarnya untuk keduanya hampir sama, yang membedakan adalah teknik pembuatannya,” jelas Lina Sofarida, pemilik Galeri Samawa.
Untuk memunculkan warna pada eco print memerlukan tahapan pengukusan. Namun untuk memunculkan warna pada eco pounding dilakukan dengan memukul daun menggunakan palu. “Ini kalau dipukul-pukul akan keluar bentuk dan warna dari daunnya,” terang Lina.
Proses eco pounding lebih lama dibanding dengan pembuatan eco print. Yang membuat lama adalah proses memunculkan warna daun menggunakan palu. Jika dalam satu hari dapat membuat dua kain eco print, untuk eco pounding kebalikannya. Minimal membutuhkan waktu selama dua hari.
Baca Juga: Menelusuri Sumber-sumber Air di Kediri: Sumber Sendang Beri Banyak Manfaat, tapi Tidak Terawat
“Agar mempermudah proses pemukalan, saya menggunakan kain-kain yang ringan,” ungkap Lina.
Untuk membuat eco pounding, perempuan asal Desa Karangtalun, Kecamatan Kras menggunakan kain katun jepang dan kain sutra. Kedua kain tersebut mudah menyerap warna pada daun yang keluar. Sementara itu, untuk dalam proses eco pounding dapat menggunakan semua jenis daun.
“Karena sedang ada korona, jika membuat eco print perlu keluar rumah untuk cari daun. Kalau eco pounding cukup daun-daun yang disekitar rumah,” terang Lina.
Daun-daun yang digunakan mulai dari rumput hingga daun celor. Meski hanya sebuah rumput namun dapat menciptakan motif yang tidak kalah uniknya. Hanya saja, karena alami dari warna daun sehingga untuk warna hanya terdapat warna hijau.
Kain-kain eco pounding dapat digunakan menjadi berbagai karya. Mulai dari dress, kemeja, mukena, tas, hingga sepatu. Memiliki kesan yang segar dan warna pastel. Sehingga cocok digunakan untuk anak muda. “Sementara itu untuk perawatan, dapat menggunakan lerak jika tidak ada bisa menggunakan sabun cuci. Dijemur sebentar saja, karena keringnya cepat,” pungkas Lina.
Mandiri, Puluhan Ibu Rumah Tangga Jadi Pelaku UMKM
Puluhan ibu rumah tangga di Desa Karangtalun, Kecamatan Kras menjadi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Mereka membuat berbagai produk olahan makanan ringan dan minuman instan yang telah dipasarkan ke berbagai daerah.
Para pelaku UMKM dari kalangan emak-emak ini tergabung di dalam Komunitas UMKM Bunda Kreatif. Jumlahnya sebanyak 60 orang. Sementara produk andalan mereka adalah berbagai makanan olahan dari bahan jamur.UMKM
“Ada 60 orang. Untuk usahanya macam-macam kripik, catering, minuman instan dan produk usaha campuran. Paling dikenal kripik jamur dan segala macam olahan jamur,” kata Yuliati, selaku Ketua UMKM Bunda Kreatif Desa Karang Talun.
Anggota komunitas UMKM Bunda Kreatif juga bekerjasama dengan karang taruna setempat. Mereka mendapatkan bahan jamur dari hasil pertanian anggota karang taruna. Bahan jamur kemudian diolah menjadi berbagai macam menu makanan seperti jamur crispy dan turunannya.
"Kami mengambil hasil produksi untuk bahan olahan makan. Ada empat titik lokasi budidaya jamur di sini,” imbuh Yuliati.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah