Seorang perempuan sontak bersuara. Meminta bocah yang penekan itu agar hati-hati. Tak ada nada tinggi dalam suaranya. Hanya ingin sang bocah tidak sampai jatuh saja.
Pemilik suara itu adalah Lilik Kumaidah, si empunya rumah. Berhijab merah muda, wanita bertinggi 160 sentimeter itu terlihat berjalan menuju pintu pagar. Jalannya tak normal. Sedikit pincang.
Warga Desa Gambyok, Kecamatan Grogol ini seorang penyandang tunadaksa. Kakinya lumpuh layu sejak balita. “Nggak tahu dulu awalnya gimana. Kalau orang tua bilang waktu itu saya jatuh saat mencoba berjalan. Kemudian badan meriang,” kenangnya, mengulang cerita orang tua.
Karena demam, dia kemudian dibawa berobat. Namun, wanita kelahiran 1972 ini justru menderita lumpuh layu itu. Kaki kirinya tak bisa digerakkan.
Sejak saat itu, Lilik harus hidup dengan keterbatasan secara fisik. Baru belajar berjalan ketika masuk usia TK. Namun, semua itu dia jalani dengan semangat tinggi. Meskipun dalam beberapa kasus dia sempat pula merasakan minder.
"Karena pertimbangan kesehatan, saat sekolah saya tidak bisa ikut beberapa kegiatan. Seperti pramuka dan berkemah. Itu yang membuat saya minder,” kenangnya.
Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Dia mampu mengubah perasaan itu menjadi sesuatu yang positif. Dia memilih aktif di olahraga. Tentu yang sesuai dengan kondisi fisiknya.
Semangatnya itu berbuah manis. Ketika duduk di bangku MA Tarokan, pada 1992, dia dipanggil ikut kejuaraan atletik disabilitas. Dan langsung mendapat tiga emas.
“(Juara) di lempar lembing, lempar cakram, dan tolak peluru,” terang istri Abdul Basid ini.
Lilik ingin membuktikan, disabilitas tak perlu merasa minder dengan kondisi fisiknya. Karena rezeki datang dari mana saja. Asal ada niat dan usaha serius untuk mengejarnya.
"Itu yang saya selalu terapkan ke teman-teman NPCI Kabupaten Kediri. Jangan takut kalau kalah. Masih ada kesempatan mencoba sampai kapan pun," tegasnya bersemangat.
Dia kemudian menceritakan kenangan tentang kerja kerasnya. Ketika mengikuti kejuaraan pada 2002. Kebetulan, dia tengah jadi ibu anak yang masih balita. Karena harus menyusui, sang balita tetap dia bawa ketika bertanding.
Saat itu, dia menunggu antrean tampil di nomor tolak peluru. Tapi, tiba-tiba sang bayi menangis, haus. Dia pun melipir ke pinggir lapangan. Bertujuan menyusui sang bayi dengan ASI.
“Saya kira tidak lama. Eh, ternyata anaknya rewel. Jadinya, ketika dipanggil untuk tampil, saya masih menyusui,” kenangnya.
Sempat terbersit dia bakal didiskualifikasi. Namun, ketika tahu permasalahan, panitia ternyata memberi toleransi. Ada tambahan waktu baginya. Memberi kesempatan menyelesaikan tugasnya sebagai ibu.
Tiga menit kemudian dia dipanggil lagi. Kali ini sudah siap. Bergegas Lilik ke lapangan. Berancang-ancang, kemudian melakukan tolakan pada benda bulat itu. Yang luar biasa, dia masih berjaya dengan meraih emas.
"Saat itu jadi berkesan karena saya pertama kali ajak keluarga ikut. Kemudian sempat ada masalah ketika dipanggil berlomba. Alhamdulillah mendapat juara," katanya terharu.
Kini, ia masih ingin terus menyebarkan virus semangatnya pada anggota organisasi yang ia ketuai. Agar tidak ada lagi teman disabilitas yang sebenarnya memiliki potensi tapi malah minder.
"Semua saya rasa sama-sama manusianya. Dan saya ingin dorong teman-teman agar yang penting sehat dulu karena sering bergerak dan berolahraga," pungkas atlet disabilitas yang tak pernah sekalipun gagal mendapatkan medali ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah