KEDIRI KABUPATEN – Seminggu lebaran, euforia perayaan tetap terasa. Salah satunya yang dilakukan warga Desa Tunglur, Kecamatan Badas, kemarin (22/6). Mereka menggelar tradisi menerbangkan belasan balon udara berukuran besar.
Kemeriahan langsung terasa di halaman Masjid Jami’Al-Huda Desa Tunglur sekitar pukul 06.00. Pantauan Jawa Pos Radar Kediri terlihat ratusan warga berbondong-bondong melihat proses penerbangan balon udara yang merupakan simbol wujud syukur warga di hari kupatan ini.
Sekitar pukul 06.00, warna-warni balon udara dari plastik diterbangkan menggunakan daun kelapa yang kering (blarak, Red). Saat satu persatu balon diterbangkan sorak sorai warga pun bergemuruh didampingi oleh suara petasan yang membuat suasana semakin meriah. “Setiap tahun ada Mas, tradisi di sini saat kupatan,” ungkap Mohammad Kirom, pembuat sekaligus penerbang balon udara ini.
Dia menerangkan, sebelum balon udara ini diterbangkan, warga Tunglur pun berkumpul di Masjid Al-Huda ini untuk bersama-sama kendurian dan makan bersama kupat yang mereka bawa dari rumah masing-masing.
Kemudian puluhan remaja masjid pun setelah itu baru menerbangkan belasan balon udara itu ke angkasa. “Ya satu gang di sekitar masjid ini beramai-ramai menerbangkan balon udara,” ujarnya.
Balon udara ini dibuat seminggu sebelum puncak acara kupatan digelar. Beragam ukuran balon yang dilepas. Paling besar setinggi empat meter dengan diameter dua meter.
Balon udara itu dibuat dari puluhan kantong plastik warna-warni. “Satu orang biasanya buat satu balon ini dalam waktu satu minggu,” terang Kirom.
Kirom menambahkan bahwa tradisi menerbangkan balon udara di Hari Raya Kupatan ini sudah dilakukan sudah lama di sekitar Masjid Al-Huda ini. Bahkan, sebelum dia lahir, tradisi itu telah ada.
Karena itu, pria 33 tahun yang kesehariannya bekerja di Batam pun rela setiap hari raya kupatan pulang untuk memeriahkan penerbangan balon udara ini. “Pokoknya setiap tahun harus pulang, rugi kalau tidak melihat dan turut serta dalam tradisi ini,” ungkapnya.
Untuk lebih memeriahkan kegiatan ini. Balon udara pun tidak jarang ditempeli uang Rp 2 ribuan dengan jumlah banyak. Kemudian saat balon udara diterbangkan uang itu pun turut berjatuhan. Sehingga warga, terlebih anak-anak kampung pun beramai-ramai berebut uang tersebut.
Keberadaan balon udara ini tak hanya menarik minat warga Desa Tunglur saja, tetapi juga warga di luar desa juga berbondong-bondong menyaksikan. Seperti Fahid Jagad, asal Desa Krecek, Kecamatan Badas pun juga ikut menyaksikan penerbangan balon udara ini. “Tahu kalau setiap tahun memang ada, tapi baru kali ini saya menontonnya. Cukup menghibur dan meriah sekali,” tegas pemuda yang juga mondok di salah satu pondok pesantren di Jombang ini.
Editor : adi nugroho