KEDIRI KABUPATEN – Tensi kejahatan pada H-7 Idul Fitri di wilayah Polres Kediri mendadak naik. Ini setelah ketenangan suasana jelang akhir Ramadan di
Desa Canggu, Kecamatan Badas terkoyak dengan peristiwa perampokan dan pembunuhan.
Korbannya, Binti Nafiah, 38, pedagang toko pracangan. Dinihari kemarin, ibu dua anak ini ditemukan tewas terkapar di lantai tokonya. Kepalanya luka bersimbah darah. Ditengarai perampok menghabisinya dengan memukul kepalanya dengan palu.
Senjata itu sempat dilihat oleh Sirojul Munir, 9, anak bungsu Binti. Namun, siswa kelas II SD ini ketakutan lantaran diancam pelakunya. Sementara Abdul Kholik, 40, suami Binti, tidak berada di rumah saat tindak kriminal sadis itu terjadi. Dia masih bekerja di Sidoarjo.
Kholik baru pulang pagi harinya. Ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri sekitar pukul 14.30 kemarin, pekerja bangunan ini memperkirakan, perampokan terjadi waktu sahur, sekitar pukul 03.30 WIB. Dini hari itu, hanya istrinya dan Siroj, anaknya, yang berada di rumah. Pasalnya, Silvina Zakiatul, anak sulung Kholik yang masih MTs sedang mondok di Pesantren Darussalam, Sumbersari, Kepung.
Kholik menyebut, pelakunya diduga masuk lewat pintu belakang rumah. Selot atau engsel kayu pintu itu rusak atau terlepas. “Sebelumnya ada kuncian (pintu) dari kayu di sini, tetapi sekarang rusak hingga terlepas,” ungkapnya sambil menunjukkan titik paku di pintu belakang.
Setelah berhasil masuk, pelaku ditengarai langsung mengambil uang di laci toko. Ditaksir jumlahnya tak sampai Rp 1 juta. “Yang diambil uang di laci warung. Jumlahnya juga tidak seberapa,” ujar Kholik.
Ketika perampok beraksi di toko –depan ruang tamu– itulah, Binti ditengarai memergokinya. Lantaran tindak kejahatannya diketahui, tampaknya, pelaku panik. Dia diduga langsung menyerang karena Binti spontan berteriak maling.
Belum dapat dipastikan apakah korban sempat melawan. Namun pada akhirnya kepala Binti terluka parah. Diperkirakan karena pelaku memukulnya dengan palu.
Teriakan maling dan kegaduhan dalam toko itulah yang membuat Siroj terbangun lalu keluar kamar. Dia menuju ke ruang toko. Sampai di depan pintu, bocah ini sempat melihat perampok membawa palu. Sosok pelakunya agak tinggi, berpostur sedang dan memakai penutup wajah. “Dia membawa palu,” kata Siroj.
Bocah ini pun ketakutan lantaran diancam. Perampok membentaknya agar kembali tidur di kamar. “Sana balik tidur lagi,” ucapnya dengan suara lirih menirukan ancaman perampok.
Pelajar SD ini pun segera ke kamarnya dan berpura-pura tidur. Sekitar satu jam bocah ini mendekam di kamarnya. Baru ketika terdengar azan Subuh, Siroj memberanikan diri keluar kamar. Begitu ia di toko, dilihatnya sang ibu tergeletak di lantai dengan kepala berdarah.
Siroj kemudian pergi ke rumah Zainal Abidin, 43, pamannya, yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Jaraknya sekitar 100 meter. Dia lalu memberitahu apa yang terjadi. “Ibu kulo mati ditutuk maling (ibu saya meninggal dipukul pencuri),” ujar Siroj kepada pamannya.
Zainal pun melaporkan kejadian ini ke perangkat desa setempat. Laporan diteruskan ke polisi. Kasatreskrim Polres Kediri AKP Hanif Fatih Wicaksono mengatakan, pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Sejumlah saksi juga telah dimintai keterangan.
Hingga kemarin, sekitar pukul 15.00 jenazah Binti masih divisum di RS Bhayangkara Kediri. Hal ini untuk mengetahui penyebab kematiannya. Hanif mengaku, tengah menangani kasusnya. Namun, ia belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut. “Kami masih mengembangkan penyelidikan,” ujarnya.
Kejahatan Sadis di saat Sahur
03.20 Binti Nafiah terbangun karena mendengar suara mencurigakan di tokonya
03.25 Binti memeriksa toko dan memergoki seorang pria bertutup wajah mengambil uang di laci. Spontan dia berteriak maling.
03.30 Pelaku panik langsung memukul kepala Binti dengan palu
03.32 Siroj terbangun karena mendengar teriakan ibunya
03.33 Ketika ke toko, Siroj diancam perampok agar kembali ke kamarnya
04.10 Siroj baru berani keluar kamar setelah mendengar azan Subuh
04.12 Siroj langsung mengadu ke rumah pamannya, Zainal Abidin
04.15 Zainal memeriksa ke rumah Binti kemudian melaporkan kejadian itu ke perangkat desa diteruskan ke polisi
Editor : adi nugroho