KEDIRI KABUPATEN - Jembatan yang menghubungkan Ngadiluwih - Mojo akhirnya akan resmi beroperasi siang ini. Tidak tanggung-tanggung, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljoyo, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang akan meresmikan jembatan yang sudah dibangun sejak setahun lalu ini.
Yang menarik, jembatan yang awalnya disebut Jembatan Ngadiluwih ini akan memiliki nama baru.Yaitu Jembatan Wijayakusuma. “Bapak Pramono Anung sendiri yang memilihkan namanya,” terang Bupati Kediri Haryanti.
Diakui bupati perempuan pertama di Kediri ini kalau jembatan yang menghubungkan Ngadiluwih dan Mojo tersebut sudah sangat lama dinanti-nanti warga Kediri. Bahkan, perencanaannya sudah dilakukan sajak era Bupati Sutrisno. Hingga dilanjutkan Bupati Haryanti. Di sinilah Pramono Anung yang saat itu masih menjadi anggota DPR RI dari Kediri ini ikut memfasilitasi. “Beliau menganggap nama Wijayakusuma itu memiliki makna yang bagus,” jelas Haryanti.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, Wijayakusuma sendiri adalah sebutan salah satu bunga yang memiliki keharuman sangat kuat. Termasuk jenis tanaman kaktus. Mekar hanya saat malam hari. Bahkan, ada kepercayaan di kalangan keraton, kalau seorang raja yang akan naik takhta harus memiliki bunga ini.
Rencananya, jembatan yang memiliki panjang bentang 182 meter ini tidak hanya menjadi penghubung dua wilayah di Kabupaten Kediri yang selama ini terpisah Sungai Brantas. Tetapi juga menjadi jalur alternatif penopang Lingkar Wilis. Jalur yang rencananya akan menghubungkan Kediri dan Ponorogo.
Mengenai jalan penghubung, Haryanti mengatakan kalau saat ini Pemkab Kediri berusaha menyelesaikan yang berada di sisi barat. Yaitu yang menghubungkan Jembatan Wijayakusuma dengan wilayah Kecamatan Mojo. Panjang jalan itu mencapai 600 meter.
Sedangkan yang untuk sisi timur, terang Haryanti, pihaknya masih berusaha mengajukan proposal ke pemerintah pusat. Agar bisa membangun jembatan sepanjang dua kilometer tersebut.
Informasi peresmian jembatan siang ini juga disambut dengan gembira oleh masyarakat sekitar. Bisa diakui, jembatan yang menelan dana Rp 32,7 miliar ini telah mampu menggenjot kemampuan perekonomian masyarakat.
Dengan dibangunnya jembatan ini akses transportasi dari dan menuju Ngadiluwih menjadi lebih mudah. Sebelum ada jembatan ini, warga harus menyeberang menggunakan perahu kecil. “Dulu pakai gethek sekarang tinggal nyebrang,” ujar Sani warga setempat yang rumahnya berdekatan dengan jembatan.
Lelaki warga Desa Banggle, Kecamatan Ngadiluwih ini mengaku bahwa kendaraan yang lewat menjadi meningkat. Mulai dari sepeda motor, mobil hingga truk. Selain itu, sejak selesai jembatan juga jadi lokasi favorit untuk jalan-jalan pagi dan sore. “Ramai, banyak anak-anak muda yang ngabuburit ,” ujarnya.
Seiring dengan meningkatnya lalu lintas, diharapkan pula dapat mendongkrak perekonomian warga. Tumini, 34, juga warga Desa Banggle, merasakan pengunjung warungnya menjadi lebih ramai. “Banyak dari kota Kediri mampir beli bothok,” terangnya.
Dibangunnya jembatan ini, membuat peluang usaha di sekitar jembatan juga meningkat. Beberapa warga sekitar berinisiatif membuka usaha warung atau toko. Tidak sedikit pula pendatang yang mencoba peruntungannya. “Kalau malam ada yang berjualan kopi pakai gerobak di jembatan,” ujar seorang ibu penjual rujak di dekat jembatan.
Berdasarkan keterangannya banyak muda-mudi yang cangkruk di sepanjang jembatan. “Mulai jam 4 sore itu sudah mulai ramai,” terangnya. Meskipun belum ada lampu penerangan jembatan, orang masih banyak yang datang. Sebagian juga melakukan aktivitas memancing ikan.
Meskipun pembangunan jembatan ini banyak berefek positif, bukan berarti tidak ada keluhan dari warga. Suadah, pemilik toko kelontong yang berada di dekat jembatan mengeluhkan jalan yang belum di aspal. “Debunya itu yang gak kuat,” ujarnya.
Editor : adi nugroho