Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Perbedaan Jangan Jadi Masalah

adi nugroho • Selasa, 22 Mei 2018 | 21:26 WIB
perbedaan-jangan-jadi-masalah
perbedaan-jangan-jadi-masalah


Beberapa hari ini Imam dari Palestina Syekh Suhib Khaleel Abdel Hai Alanati berada di Kediri. Di sela rangkaian safari Ramadannya, sang Imam menyempatkan diri berkunjung ke Jawa Pos Radar Kediri.  Berikut wawancara khusus dengan sang Imam, melalui penerjemah M. Ridho.


 


 


Sejak kapan Syekh Suhib di Kediri dan mana saja yang disinggahi?


 


Sejak 19 Mei pertama di Kediri. Ikut buka bersama hingga menjadi iman tarawih di masjid Perumahan Candra Kirana Kota Kediri. Kemudian keesokannya mengisi tausyiah di kegiatan IKADI Kediri di Pare. Dan hari ini (kemarin, Red) usai Subuh beri tausyiah di masjid Perumahan Permata Biru Kediri dan bersama KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina, Red) goes to school di yayasan Bina Insani Kediri.


 


Apa yang Anda sampaikan dalam kajian-kajian di Kediri?


 


Terkait kepalestinaan. Mulai dari sosialisasi keadaan ter-update di sana hingga keadaan para mujahidinnya. Termasuk kajian ini dilakukan untuk edukasi agar warga Kediri juga peduli dengan saudara mereka di Palestina. Saya dan masyarakat Palestina berterimakasih atas bantuan dan simpati warga Indonesia.


 


Apakah Anda dan keluarga masih tinggal di Palestina?


 


Tidak. Saya dan keluarga tinggal di Yordania. Karena kebrutalan tentara zionis Israel kami terusir dan pindah ke Yordania.


 


Bagaimana  Anda melihat Islam di Kediri?


 


Cukup beragam. Namun dari perbedaan ini jangan sampai menjadi perpecahan ukhuwah Islamiah. Saya melihat perbedaan di Kediri ini adalah rahmat. Saya terpukau melihat umat Islam di sini rukun. Saat buka bersama di Pare itu cukup mengesankan saya.


 


Hal apa yang membuat Syekh Suhib terkesan?


 


Wajah-wajah warga selalu menampakkan kebahagiaan. Terlebih kepada tamu seperti saya. Semua tersenyum dan terlihat senang pada saya. Sampai-sampai saya diajak foto bareng itu yang membuat saya terkesan dengan keramahan orang Kediri.


 


Bagaimana tanggapan Syekh Suhib melihat perbedaan rakaat tarawih di Kediri?


 


Tidak penting perbedaan itu. Semua akan diterima dan sama-sama bagusnya. Yang terpenting adalah ukhuwah Islamiahnya. Sehingga perbedaan ini jangan sampai menjadi permasalahan.


 


Selama di Kediri, makanan apa yang paling berkesan?


 


Saya tidak suka yang pedas-pedas. Tapi saat melihat kerupuk (kerupuk udang, Red) dalam toples yang tempatnya berbeda dengan makanan yang lain. Saya coba dan rasanya kerupuk itulah yang paling enak. Sampai saya ingin mengimpornya ke Negara saya.


 


Bagaimana dengan ketegangan di Palestina? Terlebih saat Amerika memindah kedutaan besarnya di Jerusalem?


 


Hal ini harus dicegah. Karena ke depannya ini yang perlu diantisipasi. Akan berdampak kepada warga hingga umat Islam di seluruh dunia.


 


Apakah tidak ada upaya negosiasi agar didapati solusi untuk dua negara ini (Israel dan Palestina, Red)?


 


Sekarang di Turki sedang ada muktamar yang masih melakukan musyawarah para kepala-kepala negara. Kami berharap dan berdoa agar pada pertemuan ini bisa ditemukan solusi terkait perdamaian di negara kami.


 


Apa tanggapan Syekh Suhib adanya KNPR yang juga melakukan aksi dukung Palestina di Kediri?


 


Ini adalah keberkahan untuk pemicu kemerdekaan di negara kami. Bantuan berupa doa maupun harta akan mendapatkan pahala yang besar. Kami di Palestina berjihad dengan pedang. Namun doa dan harta warga di Kediri yang ikut membantu itu juga merupakan jihad yang lebih tinggi. Sekali lagi kami sungguh berterimakasih atas dukungan warga Kediri dan Indonesia.


 

Editor : adi nugroho
#radar kediri #kediri