Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Umi Salamah, Ketua Perkumpulan Disabilitas Kabupaten Kediri

adi nugroho • Jumat, 27 April 2018 | 00:00 WIB
umi-salamah-ketua-perkumpulan-disabilitas-kabupaten-kediri
umi-salamah-ketua-perkumpulan-disabilitas-kabupaten-kediri


Selalu gemas melihat diskriminasi yang diterima para penyandang disabilitas. Karena itulah dia bertekad menghapus stigma negatif masyarakat pada orang seperti dirinya. Salah satunya dengan memberdayakan mereka.


 


RAMONA TIARA VALENTIN


 


Bukan hal yang mudah menjalani aktivitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, pendidik, sekaligus pengurus organisasi dengan kondisi tubuh yang memiliki keterbatasan. Apalagi sosok wanita kerap diidentikan dengan sosok yang lemah lembut. Serta pribadi yang hangat.


Dan, gambaran itu bisa dilihat pada diri Umi Salamah. Wanita asal Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih ini adalah sosok yang kuat dan tangguh. Pantang menyerah dalam kondisi apapun.


Wanita yang akrab disapa Umi ini terlibat dalam banyak organisasi. Dia adalah ketua Perkumpulan Disabilitas Kabupaten Kediri (PDKK). Dia juga ketua lembaga pendidikan baca Alquran di tempat tinggalnya.


Umi menjadi ketua PDKK sejak 2013. Berawal dari perasaan gemas melihat sikap diskriminatif yang kerap diterima para penyandang disabilitas. “Saya ingin menghilangkan sikap seperti itu,” ujarnya.


Menurutnya, wanita yang memiliki keterbatasan fisik bukan berarti tidak bisa berkarya dan produktif. Bahkan, bisa jadi mereka yang punya keterbatasan bisa melakukan hal lebih baik dari orang normal.


Kuatnya sikap masyarakat terhadap orang difabel membuat dia harus menemui tantangan berat selama ini. Dia harus mampu menghadapi diskriminasi di lingkungan masyarakat. “Meyakinkan bahwa kaum disabilitas itu mampu, merupakan hal yang tidak mudah,” ungkap wanita yang mendapatkan kesempatan pelatihan di Australia ini.


Ia juga menjelaskan sebagai wanita penyandang disabilitas ia harus mampu bemanfaat bagi orang-orang disekitarnya.  “Wanita itu multiguna,” terang ibu satu anak ini.


Multiguna yang ia maksud adalah dengan emosinya wanita mampu mendidik dan memberikan kasih sayangnya. Dengan pengetahuannya, wanita mampu membuat anak-anak menjadi cerdas dan berakhlak mulia. Sehingga dari emosionalnya saja wanita mampu melahirkan karya hebat.


Belum puas dengan pencapaiannya, Umi berusaha untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam berorganisasi hingga ke ranah internasional. “Alhamdulillah saya dapat beasiswa pelatihan ke Australia itu selama 16 hari,” jelasnya.


Ia juga mengaku senang bisa mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan  kepemimpinan dan manajemen organisasi khusus disabilitas di negeri Kanguru ini. “Hanya 20 orang yang berangkat. Itu hasil seleksi se-Indonesia,” kata Umi saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di rumahnya. Ia juga menjelaskan bila ia sempat merasa minder karena organisasinya yang paling kecil. Masih dalam tingkat kabupaten. Sedangkan teman-teman Umi dari wilayah lain membina organisasi disabilitas dalam tingkat provinsi hingga memiliki cabang di wilayah lain.


“Saya baru pertama kali naik electric wheelchair setibanya di sana, kami benar-benar diistimewakan,” terangnya sambil tersenyum.


Memang hal yang baru  bagi Umi untuk berjalan menggunakan alat bantu berupa kursi roda. “Saya masih bisa berjalan walupun kaki kiri saya polio,” kata wanita yang juga mendirikan perkumpulan disabilitas di Kabupaten Bojonegoro ini.


Umi sebagai wanita memiliki pemikiran tersendiri mengenai Hari Kartini. Baginya, Kartini mengajarkan  bila mendidik sesama wanita untuk mengasah dan menggali potensi diri merupakan keharusan. “Wanita itu mampu bereksplorasi di segala bidang.Tanpa meninggalkan kodratnya sebagai perempuan,” jelasnya sambil menunjukan foto aktivitasnya selama di Australia.


Fadil, suami Umi, mengungkapkan bila istrinya merupakan sosok yang pantang menyerah. “Nyonya saya mampu mengurus rumah tangga, mampu ngurus organisasinya sampai ngurus TPQ untuk urusan akhiratnya,” ucapnya.

Editor : adi nugroho
#kediri #disabilitas