Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Suasana Pondok Al Falah Ploso, Mojo Pascainsiden Teror

adi nugroho • Rabu, 21 Februari 2018 | 19:05 WIB
suasana-pondok-al-falah-ploso-mojo-pascainsiden-teror
suasana-pondok-al-falah-ploso-mojo-pascainsiden-teror


Para santri Pondok Al Falah Ploso, Mojo tidak terlalu terpengaruh dengan dugaan aksi teror yang baru saja terjadi di pondok mereka. Aktivitas menuntut ilmu agama tetap berjalan seperti biasa. Hanya, petugas keamanan tampak berjaga-jaga.


 


MOH. FIKRI ZULFIKAR


 


Ada beberapa titik gerbang di Pondok Al Falah Ploso, Mojo. Di titik-titik utama yang sekaligus menjadi pintu masuk ke pondok tersebut, tampak ada empat sampai lima orang santri yang berjaga. Seperti yang tampak siang kemarin, mereka juga dibekali dengan perangkat handy talky (HT).


Terdengar dari HT yang mereka pegang, ada komando untuk mengecek dan memastikan identitas orang yang masuk ke lingkungan pondok. Mereka yang sedang bersiaga itu adalah para petugas keamanan Pondok Al Falah Ploso, Mojo.


Sebenarnya, kesiapsiagaan para petugas keamanan tersebut sudah menjadi rutinitas. Mereka sudah terbiasa untuk berjaga selama 24 jam. Namun, memang setelah terjadi kasus yang terjadi pada Senin (19/2) malam lalu, intensitas pengamanan ditingkatkan. Ini juga terlihat saat Jawa Pos Radar Kediri hendak melakukan peliputan, petugas keamanan langsung meminta agar menuliskan identitas pada sebuah buku.


Kepala Sub Keamanan Dalam Pondok Al Falah Ploso Miftahul Ikhsan mengatakan, sebenarnya pengamanan diperketat sudah sejak sebulan lalu. Ini setelah muncul kabar adanya aksi teror di beberapa pondok di Jawa Timur. “Setiap ada yang mencurigakan, langsung kita konfirmasi,” ujarnya.


Tidak hanya itu, para petugas keamanan itu juga dilengkapi dengan ponsel berkamera. Tujuannya adalah untuk merekam dan memotret siapapun orang asing yang dianggap mencurigakan. Gambar itulah yang selanjutnya akan disebarkan ke sesama anggota tim keamanan. Seperti yang dilakukan saat tim menangkap Abdul Aziz pada Senin malam tersebut. “Kita saling berkoordinasi, Mas,” kata santri asal Sumatera ini.


Harianto, salah satu anggota tim keamanan, juga menerangkan bahwa setelah insiden malam itu, kesiagaan memang ditambah. Terlebih beberapa santri senior seperti Ikhsan dan teman-temannya terus berada di Polres Kediri Kota untuk mengawal Abdul Azis dan mengawal perkembangnan kasusnya. Sehingga, mereka harus begadang semalaman. “Mas Ikhsan begadang, pagi tadi baru pulang ke pondok,” kata Harianto.


Agar tidak terlalu capek, jadwal pengamanan dibuat bergantian atau shift. Namun, menjelang malam hari, jumlah santri yang berjaga ditambah. Mereka berjaga sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. “Kini per-titik empat sampai lima santri,” terang santri asal Trenggalek ini.


Beberapa peningkatan pengamanan pondok ini dilakukan untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Terlebih menjaga pondok dan warganya dari ancaman hingga kemungkinan terburuk. Terlebih para santri juga rata-rata telah dibekali ilmu bela diri. “Kalau yang tidak memiliki ilmu beladiri pun sangu dawuh dan doa kiai sudah cukup,” sambung Aris, santri lainnya yang juga bertugas menjadi anggota keamanan.


Tampaknya, peristiwa yang terjadi pada Senin malam tersebut benar-benar tidak berpengaruh pada aktivitas para santri. Dari pantauan Jawa Pos Radar Kediri kemarin aktivitas di Ponpes Al Falah Ploso ini telah berjalan seperti biasanya. Beberapa santri sudah mengaji seperti biasa sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Santri dengan ciri khas berupa sarung dan kopiah juga tampak mondar-madir seperti biasa di sekitar pondok. Tampak di antara mereka juga bercengkerama dengan sesama santri. Tidak banyak yang berubah.

Editor : adi nugroho
#teror