Jumlah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Kediri sangat terbatas. PKBM Pagut di Kelurahan Blabak menjadi satu-satunya di Kecamatan Pesantren. Namun kondisinya kini tergenang. Seperti apa?
DINA ROSYIDHA
Sekilas orang tidak akan percaya jika PKBM Pagut di Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren kebanjiran. Pasalnya, lokasi di sekitarnya yang merupakan kawasan perumahan Pagut Asri kering tanpa genangan.
Namun ketika Jawa Pos Radar Kediri ke lokasi, ternyata benar. Area sekolah non formal tersebut sepenuhnya terendam air. Sekilas terlihat ketinggiannya sebetis orang dewasa. Tepatnya di sisi barat sekolah.
Tidak dinyana bagian dalam sekolah sisi timur justru ketinggian airnya mencapai dada orang dewasa. Semakin ke utara, ketinggian air sekitar tiga meter. Air memenuhi ruang-ruang kelas.
“Anak-anak jadinya banyak yang senang berenang di sini. Apalagi ada perosotannya jadi kayak di (kolam renang) Pagora,” terang Imam Maliki, ketua PKBM Pagut, ketika ditemui di sekolahnya, Sabtu kemarin (27/1).
Bagi Malik, terendamnya ruang-ruang kelas tersebut sebenarnya bukan hal mengejutkan. Sebab setiap tahunnya, ruang kelas PKBM yang dikelolanya selalu tergenang. Hanya saja, awal tahun ini yang terparah.
“Selama ini belum pernah masuk ke ruang kelas yang itu. Ternyata hari ini sampai menggenang ke sana,” tambahnya sambil menunjuk satu ruangan.
Memang ada setidaknya dua ruangan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang terlihat tergenang. Ketinggiannya semata kaki. Namun cukup banyak inventaris milik sekolah yang terendam dan basah. Mulai dari meja-kursi dan rak-rak.
Agak ke timur ada ruang-ruang terbuka yang juga digunakan untuk kegiatan belajar. Ketinggiannya setinggi perut. Bagian tengah sekolah yang ada alat-alat bermain anak juga terendam. Dan jika bergeser ke utara ada empat ruangan untuk siswa kejar paket yang sudah tidak terlihat karena terendam air.
“Kita korbankan lampu sama kipas angin di ruangan bawah sini,” beber pria 49 tahun tersebut.
Genangan air yang cukup tinggi membuat Malik justru memelihara ikan di sana. Kemarin terlihat ikan nila berenang ke sana ke mari. Ikan tersebut bisa mengurangi jentik-jentik nyamuk. “Dulu pernah saya kasih gurame. Tapi yang sekarang ini seadanya ikan saja,” katanya.
Karena hampir setiap tahun tergenang, Malik bersama para guru dan pengelola PKBM seperti sudah hafal. Kapan mereka harus bersiap-siap mengevakuasi barang-barang inventaris. Terutama buku dan bangku-bangku yang digunakan siswa.
Biasanya genangan paling tinggi terjadi di awal tahun. “Pas curah hujan sedang tinggi-tingginya,” terang pria asli Lingkungan Pagut, Blabak tersebut.
Genangan baru surut ketika sudah masuk Maret. Untuk kelas-kelas PKBM biasanya malah sampai April baru surut. Setelah itu, barulah Malik melakukan pengecatan ulang dan memperbaiki bagian yang rusak.
“Nanti kalau sudah April biasanya ruang kelas semuanya sudah bisa ditempati lagi,” katanya.
Selama itu, kelas-kelasnya pun dibuat dinamis. Menyesuaikan dengan kondisi genangan air. Meski banyak yang tergenang, kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak sampai terhenti. Cukup menggunakan ruangan yang ada.
“Total ada sekitar 250-an siswa. Tapi jam masuknya bervariasi, jadi tempatnya masih memungkinkan,” tandasnya.
Pengelola PKBM juga tidak terlalu banyak menyimpan inventaris sekolah. Bangku yang digunakan adalah kursi lipat seperti yang biasa digunakan di ruang kuliah. Sehingga beban evakuasi menjadi lebih ringkas dibanding jika menggunakan bangku kayu.
Rak-rak berisi buku, kertas soal hingga rapor juga disimpan di ruangan yang paling tinggi lokasinya. Namun ternyata kemarin ruangan yang biasanya paling aman pun ikut terendam. “Banyak soal-soal kejar paket tahun lalu rusak kena air,” beber bapak tiga anak ini.
Meski kondisi tersebut terus berulang, Imam hanya bisa pasrah saja. Pasalnya, lahan PKBM satu-satunya di Kecamatan Pesantren tersebut masih atas nama pribadi. Makanya, Malik tidak terlalu berharap bantuan dana dari pihak mana pun.
“Memang ini lokasinya cekung, jadi wajar tergenang. Lokasinya juga masih berstatus milik pribadi jadi ya pasrah saja,” katanya.
Satu-satunya jalan agar tidak lagi tergenang adalah dengan pengurukan. Namun dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Makanya kemarin dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) membantu mempercepat surutnya air dengan memompa air keluar menggunakan diesel.
“Tapi ini nanti kalau hujan lagi pastinya tergenang lagi, jadi dibiarkan saja,” urai Malik.
Editor : adi nugroho