Dahulu Dusun Juranguluh, Desa Kedawung, Kecamatan Mojo dikenal pusat kerajinan tasbih. Produksi melimpah di masa kejayaannya. Namun kini, perajinnya langka. Bahkan tinggal seorang. Kadir satu-satunya yang masih bertahan.
AJLINA IKA JANIARTI
Suasana Minggu pagi (21/1) yang cerah menyelimuti Dusun Juranguluh, Desa Kedawung, Kecamatan Mojo. Di kampung yang terkenal dengan kerajinan tasbihnya itu, Jawa Pos Radar Kediri bertandang ke sebuah rumah yang terletak di ujung gang.
Kondisi jalan sepanjang gang masih berupa tanah. Di pojok tampak sebuah rumah yang tampak separo bangunannya baru saja dibangun. Aroma cat putihnya masih tercium. Namun, sebagian lagi terlihat bentuk asli rumah tua tersebut.
Lantai di bangunan baru itu sudah beralas keramik. Berbeda dengan bangunan lama yang tanpa cat dan berlantai tanah. Bangunan yang tampak baru itu hanya ruang tamu. Luasnya 4 x 6 meter. Sedangkan di bangunan lama ada dua ruang. Yakni, tempat kamar tidur dan dapur. Luasnya 6 x 8 meter.
Di rumah itulah, Kadir tinggal bersama istri dan anak bungsunya. Saat ditemui wartawan koran ini, bapak tiga anak tersebut sedang membuat tasbih di depan rumah. Dia menggunakan alat tradisional. Alat bubut untuk tasbih kecil dan mesin dinamo untuk yang besar. “Ya beginilah pas lagi ada pesanan Mbak,” ujar perajin tasbih berusia 66 tahun ini.
Mengenakan kemeja batik dan celana pendek, Kardi terlihat cekatan. Namun pria setinggi sekitar 155 sentimeter (cm) ini sejenak menghentikan aktivitasnya. Dengan ramah, dia langsung mempersilakan masuk. Lantas menyorongkan kursi kayu untuk duduk.
Sembari mengobrol, kakek dua cucu yang rambutnya telah beruban ini melanjutkan aktivitasnya membuat tasbih. Berkaca mata, Kadir tampak teliti dan cermat membelah kayu menggunakan gergaji. Setelah terpotong, kayu sepanjang 15 cm dengan diameter 1,5 cm itu diluruskan sekaligus dihaluskan dengan alat tam. Setelah ditam, batang kayu diberi minyak goreng. “Ya ini agar licin dan mudah diukir. Setelah itu diukir dengan tatah, pelan-pelan,” paparnya.
Sambil diolesi minyak, ujung kayu ditaruh pada alat bubut. Setelah itu, mulai pengukiran kayu menggunakan tatah. Tasbih yang sudah diukir dirangkai menjadi satu menggunakan benang nilon. Satu untai berisi 100 biji. Warnanya sesuai serat kayu, tidak dicat. Butuh waktu 1 jam untuk membuat satu tasbih. Dalam sehari, perajin ini bisa menyelesaikan tujuh tasbih.
Kadir menekuni kerajinan ini sejak usia 8 tahun. Dia belajar dari Sahid, tetangganya, yang kini sudah almarhum. Sahid inilah perajin tasbih kali pertama di Dusun Juranguluh. “Awalnya hanya melihat Pak Sahid kerja. Dari situ, saya ingin membuat tasbih sendiri,” kenangnya.
Dahulu setidaknya ada 10 perajin. Hingga 2005 tasbih dusun ini sempat mengalami masa kejayaan. Permintaan banyak, produksi pun melimpah. Sehingga para perajin pun menuai rezeki besar.
Sepuluh tahun kemudian, permintaan berangsur surut. Perajinnya mulai mengurangi produksi. Karena pasarnya sudah tak banyak peminat lagi, lama-kelamaan perajin tidak berproduksi lagi. Kini hanya Kadir yang masih bertahan. Namun, ia hanya membuat tasbih bila ada pesanan saja.
Menurut Kadir, banyak perajin tidak meneruskan keterampilannya karena pekerjaan membuat tasbih tidak mencukupi biaya kebutuhan sehari-hari. Makanya, hanya dijadikan pekerjaan sampingan. “Mudah-mudahan ada yang meneruskan, soalnya tidak mencukupi kebutuhan,” ujarnya.
Untuk membuat tasbih, biasanya Kadir memilih bahan kayu walikukun. Teksturnya hampir mirip kayu sengon. Selain itu, juga dari kayu setigi yang hampir sama dengan kayu sawo dan kayu cendono mirip jati. “Tetapi yang paling sering dipakai ya kayu walikukun ini,” katanya.
Kebanyakan pemesan sudah membawa bahan kayu sendiri. Bila pemesan tidak membawa kayu, Kadir akan mencarikan bahannya di Tulungagung. Pemilihan jenis kayu tak sembarangan. Seperti walikukun misalnya. Ulet dan kuat. Sehingga tasbih lebih awet.
Yang menarik, Kadir membuat tasbih kayu berbentuk tongkat Sunan Kalijaga, tongkat Nabi Musa, dan tongkat Nabi Nuh. Bentuk yang mirip tongkat nabi ini bertujuan agar tasbih membawa barokah. Pemesannya dari beberapa kota, Tulungagung, Ngawi sampai Tangerang. “Kalau pemesanan barang jadi nanti ditelepon,” katanya.
Hanya saja, Kadir tidak mengandalkan bisnis kerajinan ini sebagai pekerjaan utama. Selain menerima pesanan tasbih, dia juga bertani dan beternak. Kadir memiliki dua ekor sapi. “Kalau hanya buat tasbih, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Makanya, pagi sekitar pukul 07.00 WIB, Kadir mencari rumput dahulu untuk pakan ternaknya. Selesai itu, pukul 10.00 baru memulai membuat tasbih sampai pukul 12.00. Biasanya pekerjaan tersebut dilakukan sampai pukul 16.00 WIB. “Kalau sapi beranak dan sawah panen, bikin tasbihnya istirahat dulu,” imbuhnya.
Harga tasbih kayu jauh lebih mahal daripada yang berbahan plastik. Untuk ukuran besar Rp 250 ribu, ukuran sedang Rp 150 ribu, dan yang kecil Rp 50 ribu.
Editor : adi nugroho