Kabar menarik datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Kampus di Jogja ini tergolong sukses dalam hal mengembangkan ekosistem bisnis di lingkup universitas. Mereka bikin perusahaan holding dan investasi. Namanya PT Gama Multi Usaha Mandiri atau Gama Multi Group yang berdiri sejak tahun 2000. Dari perusahaan ini, lahir anak perusahaan lagi yang secara khusus mengkomersilkan hasil-hasil penelitian, yakni: PT Swayasa Prakarsa (SWAP). Dan ini yang menarik. Agustus lalu, SWAP mengumumkan rencana mereka untuk melakukan IPO (Initial Public Offering), persiapan melantai di bursa saham.
Dalam rencana awalnya, SWAP menawarkan maksimal 323 juta saham baru atau sekitar 30,30 persen dari modal setelah IPO, dengan kisaran harga book building Rp 130 - Rp 140 per saham. Dari aksi tersebut, perusahaan membidik dana maksimal sekitar Rp 45,22 miliar. Dana antara lain direncanakan digunakan untuk modal kerja, peningkatan kapasitas produksi, belanja modal, serta penguatan struktur keuangan perusahaan.
SWAP bukan perusahaan yang kebetulan dimiliki kampus, lalu berbisnis seperti perusahaan biasa. DNA perusahaan ini justeru berasal dari riset. Mereka mengembangkan manufaktur produk kesehatan berbasis penelitian melalui sejumlah lini. Antara lain produk herbal, alat kesehatan, pangan, kesehatan, hingga distribusi alat kesehatan. Perjalanan itu berkembang, mulai Gama Herbal Indonesia, Hepro Gama, Gama Food, hingga unit distribusi IMEDEV.
Salah satu contoh kongkretnya adalah Gama-CHA, material pengganti tulang yang lahir dari penelitian dosen UGM. Produk tersebut telah melalui penelitian laboratorium dan uji klinis, memperoleh izin, kemudian diproduksi secara massal. UGM bahkan pernah bekerja sama dengan Kimia Farma dalam pemasarannya.
Baca Juga: Ujian Brand Bank Mandiri
Saya sering mengatakan ketika diundang menjadi pembicara di beberapa kampus, bahwa ekosistem di dalam perguruan tinggi itu sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga. Di dalamnya ada mesin inovasi yang luar biasa. Di sana ada ratusan hingga ribuan dosen, peneliti, laboratorium, mahasiswa (S1, S2, S3) dan beberapa pusat penelitian. Semua ini menghasilkan pengetahuan, setidaknya setiap tahun.
Namun, persoalannya, banyak universitas kuat pada sisi innovation, tapi lemah pada sisi marketing. Dalam hal ini, produknya ditemukan, teknologinya ditemukan, formulanya ditemukan, tetapi konsumennya belum ditemukan. Di sini lah sering terjadi apa yang disebut sebagai “missing link perguruan tinggi”.
Riset menghasilkan invention, tetapi belum tentu menjadi innovation. Sebuah temuan baru benar-benar menjadi inovasi ekonomi, ketika bisa digunakan, diadopsi dan menciptakan value bagi manusia. Nah, di sini lah, SWAP bisa menjadi semacam jembatan di antara keduanya. Yang dilakukan UGM melalui SWAP sesungguhnya adalah praktek marketing yang kongkret dan taktis.
Ketika SWAP bersiap-siap melakukan IPO, menurut saya, hal ini bukan semata sebagai aksi mencari Rp 45,22 miliar. Angka ini bukan bagian paling penting. Yang jauh lebih penting menurut saya adalah simbolismenya.
Kita bisa membayangkan, bagaimana awalnya dari kumpulan hasil riset para dosen, lalu akhirnya bisa dikomersilkan. Awalnya mungkin ditulis dan diteliti dosen di meja laboratorium. Kemudian diuji. Ditulis menjadi paper atau jurnal. Dipatenkan. Dikembangkan. Diproduksi. Diberi merek. Dijual. Membentuk perusahaan. Dan akhirnya perusahaan itu mengetuk pintu Bursa Efek Indonesia. Ini adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak mudah dilakukan oleh perguruan tinggi. Buktinya, dari sekian banyak jumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia, UGM termasuk yang berhasil menempuh perjalanan yang tidak mudah itu. Sebuah perjalanan “from intellectual capital to economic capital”.
Ketika sebuah perusahaan yang berangkat dari ekosistem kampus mulai melakukan IPO, hal ini memberikan pelajaran, bahwa begitu kampus memasuki dunia bisnis, maka “scientific excellence” harus ditemani “managerial excellence”.
Baca Juga: Quo Vadis Influencer?
Riset hebat saja tidak cukup. Perlu di-marketing-i. Perlu finance. Perlu supply chain. Perlu legal. Perlu governance. Perlu branding. Perlu distribution. Dan yang paling penting: perlu “market orientation”.
Kampus di era sekarang ini, harus mulai bertanya: “Siapa customer dari hasil riset kita?”. Di sini lah kampus-kampus lain dapat belajar dari UGM. Setiap universitas, menurut saya, sebaiknya mulai membuat peta. Dimulai dari pertanyaan: “Dari 100 penelitian terbaik kita, mana yang paling mungkin menyelesaikan persoalan masyarakat?”. Lalu diseleksi. Mana yang memiliki market potential? Mana yang bisa dipatenkan? Mana yang cocok dilisensikan? Mana yang membutuhkan mitra industri? Mana yang layak dibuatkan startup? Mana yang membutuhkan anak perusahaan? Mana yang bisa masuk pasar nasional? Bahkan mana yang berpotensi menjadi perusahaan publik?
Maka, ukuran keberhasilan sebuah penelitian secara bertahap perlu diperluas. Bukan hanya meninggalkan publikasi, jurnal, atau sitasi. Tetapi harus bisa menjawab pertanyaan: “Berapa banyak riset kita yang benar-benar dipakai manusia?,”. Sebab, ilmu pengetahuan itu mencapai salah satu bentuk tertinggi manfaatnya ketika ia keluar dari perpustakaan dan laboratorium, kemudian hadir di tengah kehidupan manusia.
UGM sedang memberikan pelajaran yang menarik. Bahwa kampus tidak cukup menjadi “knowledge creator”. Tapi kampus perlu naik kelas menjadi “value creator”.
Dan ketika sebuah hasil penelitian bisa berubah menjadi produk, lalu produk menjadi bisnis, dan bisnis menciptakan lapangan kerja, kemudian bisnis tersebut bahkan memiliki kemungkinan masuk ke pasar modal, maka itu artinya kita sedang melihat sebuah siklus baru perguruan tinggi: Dari kampus melahirkan ilmu. Dari ilmu melahirkan inovasi. Dari inovasi melahirkan produk. Dari produk menciptakan pasar. Dan dari pasar, kembali tercipta sumber daya untuk melahirkan ilmu pengetahuan baru.
Barangkali ini lah salah satu model ideal masa depan perguruan tinggi di Indonesia. Bukan universitas yang semakin jauh dari pasar. Tetapi universitas yang semakin memahami pasar, tanpa kehilangan marwah akademiknya. Sebab, pada akhirnya, riset terbaik itu bukan hanya riset yang selesai dipublikasikan. Riset terbaik adalah riset yang ilmunya diakui akademisi, produknya dibutuhkan konsumen, dampaknya dirasakan masyarakat, dan nilai ekonominya mampu membuat inovasi tersebut terus hidup. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah