Marketing Piala Dunia 2026

Kurniawan Muhammad • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 08:11 WIB

 

 

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Spanyol akhirnya menjadi juara, setelah dalam laga final Piala Dunia 2026 Senin lalu (20/7) berhasil mengalahkan Argentina 1-0, melalui gol krusial Ferran Torres di babak perpanjangan waktu (menit ke-106). Drama di lapangan hijau, tidak hanya menghasilkan juara baru. Tetapi juga berhasil menciptakan ledakan percakapan (viral conversation) yang meramaikan jagad media sosial global. 

Saya pernah meliput Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Saat itu, Spanyol juga yang menjadi juara dunia untuk pertama kalinya, setelah dalam final mengalahkan Belanda 1-0, melalui babak perpanjangan waktu. Makanya,  ketika menyaksikan Final antara Spanyol dengan Argentina pada Senin lalu, saya seperti mengalami dejavu. Bedanya, pada 2010 saya menyaksikan secara langsung di stadion, kali ini menyaksikan melalui layar kaca. 

Bagi seorang marketer, sebuah turnamen seperti Piala Dunia 2026, bukan sekadar panggung olahraga terbesar. Tapi ini adalah laboratorium marketing raksasa. Tulisan kali ini, mencoba mengulik angle (sudut pandang) yang bisa diambil dari perhelatan Piala Dunia 2026,  tentu saja dalam konteks marketing. 

Kemenangan Spanyol atas Argentina, sesungguhnya menyimpan berbagai sudut pandang menarik yang dapat dibedah dengan pendekatan strategi marketing modern. Yaitu: Pada laga final antara Spanyol dan Argentina, dalam konteks marketing bisa dianalogikan sebagai  pertarungan antara “Narasi Youth Innovation Vs Legacy Brand”. 

“Legacy Brand”, dalam hal ini, adalah brand raksasa yang sudah punya nama besar, sejarah panjang, reputasi teruji, dan diperkuat oleh figur veteran yang legendaris. Dalam laga final, Argentina merepresentasikan hal ini (mengandalkan nama besar kejayaan masa lalu dan pesona ikon veteran seperti Lionel Messi). 

Baca Juga: Shadow Economy

Sedangkan “Youth Innovation”, yaitu brand yang mengandalkan darah segar, ide-ide baru, kecepatan, dan tenaga anak muda yang dinamis. Pada laga final, Spanyol merepresentasikan hal ini. Spanyol mengandalkan bintang-bintang belia seperti Lamine Yamal dan Pau Cubarsi dengan gaya main baru yang segar. 

Jika ditarik ke dalam dunia bisnis, ada kaidah, bahwa secanggih apa pun nama besar Anda di masa lalu (Legacy), jika Anda tidak memperbarui diri, maka Anda akan kalah relevan dibanding brand baru (Youth) yang lebih mengerti kebutuhan dan trend masa kini. 

Contoh pertarungan antara “Legacy Brand” dan “Youth Innovation” dapat dilihat pada brand Nokia. Dulu, Nokia adalah rajanya telepon genggam yang tak tertandingi. Brand nya sangat kuat, dan semua orang percaya kualitasnya. Ini mewakili “Legacy Brand”. Ketika Apple dan Android datang membawa inovasi layar sentuh dan aplikasi (ide segar dan anak muda, mewakili “Youth Innovation”), maka konsumen mulai berpindah. Nokia akhirnya kehilangan “Brand Relevance” bukan karena produk lamanya jelek, tetapi karena konsumen zaman sekarang ingin teknologi baru yang lebih relevan dengan gaya hidup digital mereka. 

Menurut David Aaker dalam teorinya tentang “Brand Relevance”, kunci keberlanjutan sebuah brand bukan lah sekadar menjadi lebih baik dari pesaing. Melainkan mampu menciptakan kategori baru atau relevansi baru yang membuat pesaing tidak lagi relevan bagi audiens masa kini. 

Kembali pada konteks Piala Dunia 2026, Spanyol membuktikan bahwa regenerasi yang dieksekusi dengan presisi, mampu menciptakan daya pikat brand (brand appeal) baru yang relevan bagi Gen Z dan audiens global. 

Baca Juga: Marketing Kelas Menengah

Pelajaran bagi pebisnis, brand yang terlalu bergantung pada satu figur atau satu produk flagship lama, berisiko mengalami kekosongan narasi ketika figur tersebut meredup. Maka, harus membangun sistem kerja, atau sistem produk yang berfokus pada kekuatan kolektif (system-driven), daripada sekadar mengandalkan satu keunggulan tunggal. 

Jadi, konsumen masa kini menyukai sejarah (Legacy). Tetapi, mereka membeli inovasi dan kemudahan (Youth Innovation). Dalam kasus Piala Dunia 2026, Spanyol membuktikan bahwa mengandalkan talenta muda yang segar dan inovatif, bisa mengalahkan tim yang terlalu mengandalkan kejayaan nama besar di masa lalu. Bagi para pebisnis, pelajarannya jelas: bahwa jangan sampai bisnis kita dianggap jadul, atau tidak relevan lagi hanya karena kita enggan berinovasi mengikuti zaman. Bagaimana menurut Anda?

(kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
spanyol juara piala dunia 2026 piala dunia 2026 strategi marketing sepak bola spanyol