Seberapa sering Anda menggunakan emoji dalam berinteraksi di media sosial? Tahukah Anda, ternyata emoji itu bisa digunakan untuk mengukur dan memahami emosi konsumen dari data digital. Terutama di media sosial dan ulasan pelanggan.
Sebuah jurnal berjudul “Natural Affect DEtection (NADE): Using Emojis to Infer Emotions from Text” yang ditulis oleh Christian Hotz-Behofsits, Nills Wlomert dan Nadia Abou Nabout memperkenalkan konsep NADE. Ini adalah sebuah pendekatan baru untuk mendeteksi emosi dari teks secara otomatis dengan memanfaatkan emoji sebagai sinyal emosional antara teks dan emosi pengguna.
Jurnal ini menjelaskan dua tahap utama dalam pendekatan NADE. Pertama, “emoji-fikasi” (emojification). Ini adalah model mempelajari hubungan antara teks dan emoji berdasarkan sejumlah besar data. Misalnya jutaan postingan di media sosial. Dengan demikian, setiap teks “dipetakan” ke satu set emoji yang paling mungkin mewakili emosi yang tersirat (kegembiraan, kekesalan, kekecewaan, humor, dan lain-lain). Dalam hal ini, emoji bertindak sebagai label emosional implisit yang sudah pernah digunakan orang dalam kehidupan nyata.
Kedua, konversi emoji ke emosi. Setelah diprediksi, emoji yang dihasilkan diterjemahkan ke dalam emosi dasar berdasarkan teori emosi psikologis. Ini membuat NADE mampu menghitung intensitas emosi tertentu. Misalnya seberapa marah, sedih, atau gembira suatu teks.
Dalam konteks marketing, NADE bisa digunakan untuk mengukur dan memahami emosi konsumen dari data digital, terutama di media sosial dan ulasan pelanggan. Dengan memahami emosi yang lebih detail (seperti kegembiraan, kekesalan, kekecewaan, humor dan lain-lain), perusahaan dapat mengetahui bagaimana perasaan konsumen secara spesifik terhadap produk, kampanye atau merek. Perusahaan dapat mengidentifikasi reaksi emosional terkait iklan atau konten pemasaran. Selain itu, perusahaan dapat memperbaiki strategi komunikasi dengan menyesuaikan pesan agar sesuai dengan emosi audiens. Perusahaan juga dapat memperkirakan potensi keberhasilan produk atau iklan berdasarkan tingkat keaktifan emosi tertentu, dalam percakapan online.
Sebagai contoh penggunaan NADE dalam marketing, misalnya digunakan untuk menganalisis kampanye sebuah iklan di media sosial, di Instagram dan Twitter (X). Dengan menggunakan NADE, maka dapat mengetahui apakah konten iklan memicu emosi kegembiraan atau kekecewaan. Mengukur reaksi emosional pelanggan terhadap caption, meme, dan respons komentar. Juga bisa mengetahui bagian mana dari kampanye yang menghasilkan emosi positif terbesar, lalu memperkuat strategi konten berdasarkan hasil tersebut.
NADE juga bisa digunakan untuk membaca ulasan produk. Dalam hal ini tidak hanya mengetahui sentimen positif atau negatif, tetapi juga emosi spesifik seperti “frustasi”, “puas” atau “terkejut”. Selanjutnya, perusahaan mengelompokkan konsumen berdasarkan emosi terhadap fitur tertentu. Misalnya fitur baru yang kontroversial.
Karena konsep NADE ini masih relatif baru, maka belum banyak brand atau perusahaan yang mengadopsi NADE sebagai teknologi langsung dalam strategi marketing mereka. Sejauh ini, NADE merupakan pendekatan akademis baru (dipublish di Journal of Marketing pada 2025) yang masih lebih banyak dibahas di ranah penelitian dan literature review.
Meski demikian, analisis emosi, yang menjadi inti dari ide NADE, sudah digunakan secara luas oleh sejumlah perusahaan global dalam bentuk lain, terutama dalam pemasaran digital dan social listening.
Beberapa brand global telah menggunakan emoji sebagai bagian dari komunikasi pemasaran mereka. Ini bukan berarti mereka menggunakan NADE secara teknis, tetapi hal itu menunjukkan kesadaran bahwa emoji memiliki nilai emosional.
Brand seperti Sony, Coca-Cola, dan Taco Bell (jaringan restoran cepat saji multinasional dari Amerika) dilaporkan memanfaatkan emoji dalam pesan pemasaran mereka untuk membuat komunikasi lebih emosional dan relatable bagi konsumen.
Wal akhir, NADE mengingatkan kita, bahwa marketing itu bukan sekadar soal angka, impresi, atau conversion rate. Melainkan soal emosi manusia yang hidup di balik setiap teks, komentar, dan ulasan. Dengan kemampuan membaca sinyal afektif secara lebih natural dan mendalam, strategi marketing tidak lagi berhenti pada “apa yang dikatakan konsumen”. Tetapi bergerak ke level yang lebih penting: “apa yang sebenarnya mereka rasakan.”
Di era digital yang penuh percakapan, brand yang mampu memahami dan merespons emosi secara cerdas, akan memiliki keunggulan kompetitif. Karena di situlah loyalitas dibangun, kepercayaan diperkuat, dan hubungan jangka panjang diciptakan. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah