Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Red Ocean dan Dikichi

Kurniawan Muhammad • Rabu, 15 Oktober 2025 | 14:49 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

 

Saya selalu salut dengan brand atau produk yang berani bertarung di area “red ocean”. Ini adalah area yang persaingannya sengit. Disebut “red” maksudnya adalah mengacu pada pertarungan yang bisa “berdarah-darah”. Adalah W. Chan Kim dan Renee Mauborgne, dua peneliti yang juga profesor di INSEAD, salah satu sekolah bisnis terkemuka dan terbesar di dunia di Prancis, mereka mengatakan, bahwa berjuang di “red ocean” adalah strategi yang kalah dalam jangka panjang. Perusahaan atau brand akan terjebak dalam “perang darah” yang menghabiskan sumber daya.

Perusahaan yang bermain di “red ocean”, masih menurut Kim dan Mauborgne, akan mencoba mengungguli pesaing, seringkali dengan biaya tinggi, pada dimensi persaingan yang sama. Misalnya terlibat dalam “perang” saling mengungguli untuk lebih cepat atau lebih murah. Ini menciptakan “perang atribut” yang tidak menghasilkan pertumbuhan yang berarti dan hanya menguntungkan konsumen (dalam hal harga), bukan perusahaan.

Anda setuju dengan pemikiran Kim dan Mauborgne? Tampaknya tak selalu pengusaha sepakat dengan pemikiran dua profesor tersebut. Buktinya, para pengusaha malah cenderung lebih suka bermain di wilayah “red ocean”. Dan bagi saya, mereka itu lah para petarung. Berani bermain di “red ocean” berarti mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya, termasuk stamina, mental, biaya, dan yang terpenting: strategi.

Salah satu “petarung” yang belakangan menarik perhatian saya adalah Dikichi. Ini adalah produk ayam goreng dari Malang yang baru lahir setahun lalu (2024). Sangat percaya diri, dimana tagline-nya adalah: Fried Chicken No 1 di Indonesia. Di salah satu akun resminya, PT Dua Pendekar Ayam si empunya Dikichi menyebutkan “value proposition” dari produknya, yaitu menyajikan ayam goreng cepat saji yang lezat, berkualitas tinggi dengan harga paling terjangkau.

Saya pun penasaran. Kebetulan di Kota Kediri sudah ada outlet Dikichi. Sejak dibuka sekitar Juli lalu, hampir selalu ramai pengunjung. Salah satu yang menjadi daya tariknya adalah harganya yang relatif murah meriah. Ada item yang harganya Rp 10 ribuan. Jelas ini harga yang sangat kompetitif. Apalagi, menurut saya, hampir tak ada bedanya dari sisi rasa dibandingkan dengan produk fried chicken lainnya yang harganya lebih mahal.

Jadi, untuk bertarung di “red ocean”, salah satu senjatanya yang efektif adalah harga. Yang menjadi pertanyaan, seberapa kuat stamina Dikichi bertarung di wilayah bisnis kuliner ayam goreng yang “red ocean” dengan harga yang murah? Kita lihat saja.

Masih maraknya bisnis fried chicken di Indonesia, tidak lepas dari tingginya tingkat konsumsi daging ayam di Indonesia. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2021 rata-rata konsumsi daging ayam di Indonesia mencapai 0,14 kilogram per kapita per minggu, dan meningkat setiap tahunnya. Data tahun 2021 ini meningkat 7,69 persen dibandingkan tahun 2020. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi, perubahan gaya hidup, dan meningkatnya permintaan dari sektor pariwisata.

Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat juga turut mendorong pertumbuhan bisnis fried chicken. Masyarakat modern kini lebih menyukai makanan yang praktis dan cepat saji. Fried chicken merupakan salah satu makanan yang memenuhi kriteria tersebut.

Jika dilihat secara trend dan kebutuhan market, konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia cenderung meningkat selama periode 2011-2021. Tingkat kenaikan paling tinggi tercatat pada tahun 2014, yakni 19,76 persen dari tahun sebelumnya.

Konsumsi daging ayam lebih tinggi dari daging sapi atau kerbau. Tercatat, bahwa rata-rata konsumsi daging sapi atau kerbau hanya 0,009 kg per kapita per minggu pada 2021. Daging ayam lebih diminati masyarakat Indonesia dibandingkan daging sapi atau kerbau, karena harganya yang lebih bersahabat dan produksinya yang lebih stabil.

BPS mencatat, bahwa produk daging ayam di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 3,42 juta ton, jauh lebih tinggi daripada produksi daging sapi dan kerbau yang masing-masing hanya 437,78 ribu ton dan 20,97 ribu ton.

Dari data ini, kita bisa mengetahui alasan, mengapa bisnis kuliner fried chicken masih dianggap berprospek cerah, meski pertarungannya sengit.

Dikichi harus bersaing dengan sedikitnya 8 brand fried chicken lokal yang lebih dulu eksis dan dianggap sebagai fried chicken lokal terlaris selama 2024 versi inilah.com. Mereka adalah: Sabana Fried Chicken, Hisana Fried Chicken, D’Besto, Rocket Chicken, DKriuk Fried Chicken, California Fried Chicken, Orchi Fried Chicken dan Crispyku.

Pada akhirnya, siapa yang punya stamina paling kuat untuk bertarung di wilayah “red ocean”, dia lah yang akan tetap eksis, bertumbuh dan berkembang. Tak hanya stamina saja, tapi juga harus punya strategi yang jitu. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#dikichi #strategi marketing #marketing #red ocean