Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

7 Habits for Marketing

Kurniawan Muhammad • Rabu, 8 Oktober 2025 | 13:44 WIB

 

By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Buku yang diterbitkan pertama kali pada 1989 ini tergolong buku yang luar biasa. Judulnya: “The 7 Habits of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change” yang ditulis oleh Stephen R. Covey. Dia adalah Ph.D di bidang pendidikan relijius di Brigham Young University. Dia juga seorang pendidik, penulis, konsultan manajemen dan pendiri Covey Leadership Center.

Mengapa buku “The 7 Habits of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change” tergolong luar biasa? Salah satunya, buku tersebut merupakan hasil studi konseptual dan observasi empiris jangka panjang yang dilakukan oleh Covey. Dia melakukan penelitian literatur selama lebih dari 25 tahun, dengan menelaah berbagai literatur, termasuk yang umurnya lebih dari 200 tahun.

Dari hasil telaahnya itu, Covey menemukan bahwa sebelum abad ke-20, literatur sukses lebih menekankan karakter (character ethic), seperti integritas, kerendahan hati, dan tanggung jawab. Namun, setelah 1920-an, fokusnya bergeser ke kepribadian (personality ethic), seperti citra diri, teknik persuasi, dan strategi cepat.

Covey menilai bahwa perubahan tersebut menyebabkan banyak orang mengejar “kesuksesan luar”, tetapi kehilangan “efektivitas dalam”. Dari analisis dan pengalaman melatih para pemimpin organisasi, Covey lalu menyusun 7 kebiasaan efektif sebagai sintesis dari prinsip universal tersebut. Maka, lahirlah buku tersebut. Buku “The 7 Habits of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change” merupakan salah satu karya pengembangan diri (self-development) paling berpengaruh di dunia. Hingga 2024, buku tersebut sudah terbit ke dalam lebih dari 40 bahasa, dan terjual lebih dari 40 juta eksemplar. Buku itu juga dianggap sebagai salah satu buku berpengaruh oleh Time Magazine dan Forbes. Di buku tersebut, Covey menjelaskan bahwa efektivitas pribadi dan professional tidak datang dari trik atau teknik cepat. Tetapi dari karakter dan prinsip universal yang bersumber dari nilai-nilai mendasar seperti integritas, kejujuran, dan tanggung jawab.

Dan menurut saya, 7 habits yang disebutkan dalam buku “The 7 Habits of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change” itu bisa diterapkan dalam konteks marketing. Saya sudah dan masih menerapkannya.

Mari kita bedah satu per satu 7 habits yang sudah dikonsepkan oleh Covey, selanjutnya saya akan mencoba mengaitkannya dalam konteks marketing. Pertama, “be proactive” (jadilah proaktif). Jika ingin menjadi marketer yang sukses, harus proaktif, bukan reaktif. Proaktif berarti tidak hanya merespon tren atau kompetitor, tetapi menciptakan peluang baru, memahami kebutuhan pelanggan sebelum mereka mengatakannya, dan memimpin perubahan pasar.

Kedua, “begin with the end in mind” (mulai dengan tujuan akhir). Marketer harus memulai dengan tujuan akhir yang jelas. Artinya, semua strategi marketing harus memiliki visi yang jelas. Misalnya, Anda punya brand, maka harus punya tujuan jelas apa yang ingin dicapai oleh brand Anda di mata konsumen? Tanpa tujuan jangka panjang, marketing akan menjadi kumpulan kampanye tanpa arah.

Ketiga, “put first things first” (dahulukan yang utama). Dalam hiruk-pikuknya aktivitas marketing (konten, promosi, iklan, event), yang paling penting adalah fokus pada hal yang memberi dampak jangka panjang terhadap brand dan pelanggan. Caranya, prioritaskan strategi branding dan hubungan pelanggan di atas taktik jangka pendek (seperti diskon yang agresif). Atau, bisa juga menerapkan prinsip Pareto (80/20). Yaitu focus pada 20 persen pelanggan strategis yang menghasilkan 80 persen pendapatan.

Keempat, “think win-win” (berpikir menang-menang). Dalam era kolaborasi, keberhasilan jangka panjang hanya dapat dicapai bila semua pihak, yaitu pelanggan, mitra, karyawan, dan masyarakat, ikut merasakan manfaatnya. Dalam hal ini bisa dilakukan dengan cara membangun kemitraan dengan influencer, komunitas, dan supplier berbasis nilai, bukan hanya transaksi. Bisa juga dilakukan dengan cara membuat program loyalitas yang benar-benar memberi nilai bagi pelanggan, bukan sekadar gimmick.

Kelima, “seek first to understand, then to be understood” (mengerti orang lain, baru dimengerti). Marketing yang efektif itu dimulai dengan mendengarkan pelanggan, bukan sekadar menyampaikan pesan. Bisa dilakukan dengan cara “customer journey mapping” untuk benar-benar mengerti pengalaman pengguna dari awal hingga akhir. Juga mengedepankan “empathy-based marketing”. Yakni memahami rasa, bukan hanya data.

Keenam, “synergize” (sinergi). Yaitu menggabungkan kekuatan beragam individu, ide, dan saluran marketing untuk menciptakan hasil yang lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Bisa dilakukan dengan melakukan integrasi lintas kanal (omnichannel marketing). Atau kolaborasi tim kreatif, analis data, dan pengembang produk untuk melahirkan inovasi bersama.

Ketujuh, “sharpen the saw” (mengasah gergaji). Maknanya, terus belajar dan beradaptasi. Marketing adalah bidang yang sangat cepat berubah. Keberhasilan masa lalu tidak menjamin relevansi di masa depan. Maka, marketer harus terus belajar, bereksperimen dan memperbarui diri.

Jadi, di era digital yang penuh dengan distraksi, marketer yang menerapkan prinsip 7 habits ala Covey ini akan mampu menjadi lebih sadar, empatik, dan visioner. Juga mampu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Serta mampu menciptakan nilai nyata bagi masyarakat dan bisnis. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#the 7 Habits #strategi marketing #buku #marketing