Sebuah produk atau brand itu bisa moncer atau tidak, bisa bertahan atau tidak, sangat tergantung pada "value proposition"-nya (VP). Ini adalah tentang "nilai lebih" atau "keunggulan" atau "keunikan" atau "kekhasan" dari sebuah produk. Jika sebuah brand atau produk bisa mempertahankan VP-nya, di tengah gempuran para kompetitor, maka brand itu akan terus bisa bertahan. Dan untuk melakukan ini, tidak lah mudah. Setidaknya ini yang saya rasakan dan saya lakukan saat ini.
Ada contoh menarik dari sebuah brand atau produk yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran. Brand ini pernah moncer di masanya. Bahkan sangat moncer. Punya VP yang kuat. Tapi, meredup, lalu hilang ke-moncer-annya karena VP-nya kalah unggul ketimbang VP milik produk atau kompetitor lain. Brand tersebut adalah Nokia.
Pada tahun 1990-an dan 2000-an, siapa yang tak kenal Nokia, rajanya industri telepon seluler. Handphone pertama saya saat itu adalah Nokia dengan bunyi nada deringnya yang khas. Di setiap sudut kota, dari negara maju hingga negara berkembang, ponsel Nokia kala itu menjadi alat komunikasi yang sangat populer. Keberhasilan ini tidak lepas dari inovasi mereka yang terus berlanjut dalam menghadirkan perangkat keras berkualitas, ketahanan baterai yang luar biasa, serta desain yang fungsional dan sederhana. Ini lah VP Nokia saat itu.
Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, lanskap industri ponsel berubah drastis. Internet, data dan aplikasi menjadi semakin penting dalam kehidupan sehari-hari. Konsumen tidak lagi hanya mencari ponsel yang kuat dan tahan lama, tetapi juga dapat mengakses internet dengan cepat, menjalankan aplikasi yang kompleks, dan terintegrasi dengan ekosistem digital yang lebih luas. Sementara itu, Nokia tetap fokus pada pembaharuan perangkat keras mereka, seperti kualitas kamera dan ketahanan fisik ponsel, tanpa menyadari bahwa nilai utama bagi konsumen telah bergeser ke arah perangkat lunak dan pengalaman pengguna. Dalam hal ini, VP dari Nokia tidak linier dengan perubahan perilaku konsumen.
Persaingan mulai memanas, ketika pemain baru seperti Apple dan Google, masuk dengan pendekatan berbeda. Mereka menghadirkan perangkat yang tidak hanya cantik secara desain, tetapi juga menawarkan sistem operasi canggih seperti iOS dan Android yang kaya akan aplikasi dan memungkinkan pengguna untuk melakukan lebih dari sekadar menelepon dan mengirim pesan.
Ketika ponsel pintar (smartphone) mulai mendominasi pasar, Nokia justeru terlambat merespons. Ketergatungan mereka pada sistem operasi Symbian, yang sudah mulai ketinggalan zaman, serta penolakan awal untuk mengadopsi Android, membuat mereka kehilangan posisi yang dulu tak tergoyahkan. Di sini lah pentingnya, sebuah brand atau produk peka terhadap perubahan perilaku konsumen, dan harus mau mengubah atau menambah VP-nya, menyesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan konsumen.
Keengganan Nokia untuk berinovasi dalam perangkat lunak, menjadi titik lemah utama. Mereka gagal melihat bahwa kekuatan masa depan bukan hanya pada perangkat fisik, tetapi pada kemampuan ponsel untuk menghubungkan orang dengan dunia digital yang semakin kompleks. Keterlambatan dalam mengadopsi teknologi baru dan inovasi yang relevan membuat produk Nokia mulai terasa usang, tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen yang semakin mengutamakan fungsi, kecepatan, dan konektivitas.
Maka, Nokia pun meredup. Penurunan pangsa pasar terjadi dengan cepat. Pada 2013, Nokia harus menjual divisi ponsel nya ke Microsoft dalam upaya bertahan hidup.
Dan ini yang menarik. Nokia tidak menyerah. Mereka memilih untuk bangkit dari keterpurukan. Lanskap bisnis-nya dirombak total. Nokia memulainya dengan fokus mencari dan mengembangkan VP baru. Kali ini, mereka beralih fokus ke teknologi jaringan dan solusi 5G, yang menjadi tulang punggung revolusi digital global. Dengan VP baru ini, Nokia sukses mengembangkan teknologi 5G dengan 179 kontrak di 45 negara pada akhir 2021.
Walhasil, pada tahun 2021, Nokia mencatat pendapatan Rp 366,3 triliun dengan laba operasional Rp 34,65 triliun, naik dari Rp 306,9 triliun pada tahun 2020.
Meski Nokia tidak lagi mendominasi pasar ponsel seperti pada masa kejayaannya, perusahaan ini berhasil melakukan transformasi besar dalam strategi bisnisnnya.
Jadi, yang dialami Nokia, dalam dunia bisnia, bisa dialami siapa saja. Memahami kegagalan bisnis, bukan hanya tentang menghindari kesalahan yang sama. Tetapi juga tentang menemukan cara untuk bangkit kembali. Belajar dari kegagalan, dapat memberikan wawasan berharga tentang pentingnya inovasi, strategi yang fleksibel, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Bagaimana menurut Anda? (Kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah