Apa yang bisa kita pelajari dari fenomena munculnya deepseek yang mengguncang dunia, wabil khusus Amerika Serikat itu? Dalam konteks marketing, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran tentang kompetitor.
Kehadiran kompetitor, dan kesiapan dalam menghadapi kompetitor, adalah salah satu “syariat” dalam dunia bisnis.
Jika kita menjadi pebisnis, maka harus selalu siap dengan kehadiran kompetitor. Di dalam buku berjudul “Your Next Five Moves; Master the Art of Business Strategy” yang ditulis oleh Patrick Bet-David, seorang pengusaha, penulis buku dan motivator terkenal di Amerika Serikat, ada kalimat yang cukup provokatif: “Bisnis itu perang. Dengan kata lain, kedamaian tidak pernah ada dalam bisnis. Anda bisa menjadi pemimpin pasar.
Anda bisa mencetak rekor keuntungan. Anda bisa percaya bahwa Anda bisa rileks dan mengendalikan momentum. Namun, selalu ada seseorang di sana yang bersiap untuk menyerang Anda. Jika Anda menurunkan kewaspadaan sedetik saja, maka Anda akan rentan diserang”.
Dan di dunia AI, si penyerang itu adalah deepseek. Meski baru setahun muncul dari China, tapi keberadaannya benar-benar menyerang cukup signifikan dan bikin puyeng AI-AI bikinan barat, seperti ChatGPT, Llama dari Meta, dan Gemini dari Google. Bagaimana tidak bikin puyeng, dalam banyak hal, deepseek lebih unggul. Misalnya, jika dibandingkan dengan ChatGPT.
Biaya berlangganan ChatGPT sekitar USD 20 per bulan, sedangkan deepseek tidak sampai USD 1 per bulan (sekitar USD 0,55).
Dalam hal biaya pengembangan, deepseek juga jauh lebih murah. Deepseek memakan biaya hanya USD 6 juta, sedangkan OpenAI mendapatkan pendanaan sebesar USD 1 miliar, atau setara dengan Rp 16 triliun.
Dalam hal penggunaan CPU, deepseek hanya butuh 2.000 chip NVIDIA. Sedangkan ChatGPT butuh 30 ribu chip NVIDIA (chip NVIDIA adalah sebuah perangkat yang dirancang untuk memproses grafis dan komputasi pararel. NVIDIA adalah perusahaan teknologi yang terkenal karena produk-produknya yang berkaitan dengan grafis dan komputasi).
Dalam hal kemampuan bahasa, deepseek menguasai lebih dari 71 bahasa. Sedangkan ChatGPT menguasai 60 bahasa.
Ketika diadu dalam hal kemampuan matematika, deepseek lebih unggul ketimbang ChatGPT. Untuk menguji kemampuan matematika dilakukan test MATH-500. Hasilnya, deepseek memiliki skor 97,3 persen, sedangkan ChatGPT 96,4 persen.
Jika dilihat dari sektor pemrograman dengan menggunakan tools SWE-Bench, skor deepseek (49,2 persen) juga mengungguli ChatGPT (48,2 persen). Tidak hanya itu, semua codingan deepseek dibuat open source. Sehingga semua bisa melihat coding yang dijalankan.
Wal hasil, harga berlangganan yang jauh lebih murah, biaya pengembangan juga jauh lebih murah, dan juga punya keunggulan dalam beberapa hal, membuat Amerika merasa terguncang dengan kehadiran deepseek. Semua saham dan crypto di Amerika pun dibikin rontok berbarengan. Saham NVIDIA rontok sekitar 16 persen, terbesar sepanjang sejarah, hingga mengalami kerugian sekitar USD 600 miliar, atau setara dengan Rp 9.731,7 triliun (asumsi kurs Rp 16.219 per USD 1).
China adalah negara yang tergolong “petarung”. Mereka tak segan-segan untuk bertarung, bersaing dan berkompetisi dengan lawannya secara “head to head”. Tak peduli setangguh apa pun lawannya. Dalam hal mobil listrik, China juga menyerang Tesla-nya Elon Musk.
Mobil-mobil listrik buatan China, dalam hal harga, jauh lebih murah ketimbang Tesla. Gara-gara diserang dengan mobil-mobil listrik buatan China yang dirilis dengan harga lebih murah, Tesla berencana akan merilis varian dari Tesla dengan harga lebih murah di awal tahun ini. Hal itu disampaikan sendiri oleh Elon Musk, seperti dikutip Reuters Jumat lalu (31/1/2025).
Belajar dari fenomena deepsek ini, ketika kita berada dalam posisi diserang kompetitor, maka hal utama yang harus dilakukan adalah “mengaudit” value proposition (nilai keunggulan) dari produk kita, disandingkan dan ditandingkan dengan “value proposition” milik kompetitor. Misalnya, apa yang menjadi kelemahan dari produk kita, yang kemudian dimanfaatkan oleh kompetitor sebagai nilai lebih bagi produknya?
Setelah berhasil melakukan “audit” terhadap value proposition produk kita, maka selanjutnya adalah meresponnya dengan variasi atau inovasi. Ini seperti yang dilakukan Tesla. Begitu diserang dengan mobil listrik buatan China yang lebih murah, maka Tesla bikin produk dengan harga yang lebih murah.
Salah satu yang khas dari produk-produk buatan China adalah: mereka bisa bikin produk yang lebih murah, dengan memberikan benefit atau value proposition dari produk mereka yang kurang lebih sama dibandingkan dengan produk sejenis.
Wal akhir, sudah siapkah Anda “bertempur” dengan kompetitor?
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah