Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Honda-Nissan Merger

Kurniawan Muhammad • Rabu, 25 Desember 2024 | 13:09 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Baru-baru ini muncul selentingan kabar, bahwa dua raksasa otomotif Jepang: Honda dan Nissan sedang intensif melakukan pembicaraan terkait rencana dua brand itu merger. Mengutip Reuters (23/12/2024), rencana penggabungan Honda-Nissan itu akan menciptakan grup otomotif terbesar ketiga di dunia berdasarkan penjualan kendaraan, setelah Toyota dan Volkswagen.

Nikkei Asia menulis, dalam rencana merger tersebut, Honda dan Nissan ingin beroperasi di bawah satu perusahaan induk. Keduanya juga akan segera menandatangani nota kesepahaman untuk entitas baru. Merger ini bertujuan untuk menghadapi tantangan yang semakin besar dari Tesla dan para pesaingnya di China yang unggul dalam fokus kendaraan listrik. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa bentuk dari integrasi dua merek itu adalah: Honda memasok kendaraan hybrid ke Nissan, dan penggunaan bersama pabrik perakitan mobil Nissan di Inggris.

NHK menyebutkan, bahwa pembicaraan principal kedua merek itu akan rampung pada 2025 mendatang.

Ini adalah contoh dari dua brand yang awalnya saling berkompetisi, tapi kemudian memilih untuk berkolaborasi. Bisa jadi, kolaborasi yang dilakukan Honda dan Nissan itu, meniru kolaborasi sebelumnya, yakni antara dua perusahaan besar penguasa teknologi: Apple dan IBM. Kedua brand itu cukup lama bersaing, tapi kemudian memilih untuk berkolaborasi. Platform kerjasama mereka disebut: “IBM MobileFirst for iOS Solutions”.

Aplikasi yang dibangun dalam kerjasama tersebut untuk iPhone dan iPad yang membantu kegiatan bisnis antara lain di industri retail, perbankan, transportasi, wisata, telekomunikasi, dan asuransi. Dalam kerjasamanya dengan Apple, IBM menyediakan beberapa layanannya, yaitu di bidang analisis, alur kerja, dan penyimpanan secara cloud-computing, manajemen perangkat fleet-scale, keamanan dan integrasi.

Kolaborasi antara Honda-Nissan dan Apple-IBM, adalah bentuk dari penerapan “collaborative marketing”. Saya pernah menulis di serial ini sebelumnya soal “collaborative marketing” di bidang seni. Yakni, kolaborasi di bidang seni terbesar tahun ini, antara Rose Blackpink dengan Bruno Mars. Mereka berkolaborasi melaunching lagu berjudul “APT” yang super ngetop itu.

Jadi, “Collaborative Marketing” adalah strategi, dimana dua atau lebih perusahaan maupun brand terlibat dalam kerja sama untuk mencapai tujuan dan saling memperkuat upaya marketing mereka.

Setidaknya ada lima karakteristik yang menjadi ciri dari “collaborative marketing”: Pertama, kerjasama strategis antara dua atau lebih pihak (brand). Kedua, adanya tujuan pemasaran bersama yang jelas. Ketiga, adanya pembagian sumber daya dan keahlian. Keempat, meningkatkan nilai bagi pelanggan. Dan kelima, membangun hubungan jangka panjang.

Dalam prakteknya, paling tidak ada lima macam kolaborasi yang diterapkan: Pertama, co-branding. Ini adalah kerjasama antar merek untuk menciptakan produk atau layanan bersama. Kedua, influencer marketing. Yakni kerjasama dengan influencer untuk mempromosikan produk atau layanan. Ketiga, affiliate marketing. Yakni kerjasama dengan mitra untuk mempromosikan produk atau layanan dan mendapatkan komisi. Keempat, event marketing. Yakni kolaborasi untuk mengadakan acara. Kelima, konten marketing. Yakni kerjasama untuk menciptakan konten yang bermanfaat bagi pelanggan.

Jadi, saat ini memang era-nya kolaborasi. Dimana kerja sama dan kolaborasi antar individu, organisasi, dan industri menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan bersama.

Dalam buku “Wikinomics: How Mass Collaboration Changes Everything” yang ditulis Don Tapscott dan Anthony D. Williams, dijelaskan bagaimana sebuah kolaborasi itu bisa mengubah cara kerja, bisnis, dan masyarakat. Tapscott menyebut konsep “wikinomics” sebagai sebuah kolaborasi terbuka, global, dan berbasis teknologi. Disebutkan ada empat prinsip “wikinomics”: Pertama, openness (terbuka). Yakni berbagi pengetahuan dan sumber daya. Kedua, peering (kolaborasi). Yakni kerjasama egaliter. Ketiga, sharing (partisipasi). Yakni berbagi risiko dan manfaat. Dan keempat, globalization. Yakni kerjasama tanpa batas geografis. So, sudah siapkah brand-mu berkolaborasi? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #otomotif #nissan #jepang #merger #opini #honda #jawapos