Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Toko-Warung Madura

Kurniawan Muhammad • Rabu, 20 November 2024 | 16:25 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Media kami pernah menurunkan liputan khusus tentang fenomena Warung Madura, atau Toko Madura, yang mulai banyak berdiri di Kota Kediri. 

Toko atau Warung Madura tidak hanya marak berdiri di kota-kota besar. Tapi, mulai merambah ke kota-kota kecil.

Beberapa hari lalu, saat pergi ke Tuban, saya menjumpai Toko Madura di salah satu kawasan di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

Apa yang menarik dari keberadaan Toko atau Warung Madura (TWM) yang semakin marak ini? Pertama, mereka berani buka 24 jam.

Kedua, kebanyakan, dikelola dengan sangat sederhana. Rata-rata yang jaga adalah masih terhitung kerabat dekat.

Ada yang dijaga pasangan suami-isteri. Ada pula yang dijaga ibu dan anak, ayah dan anak, atau paman dan keponakan.

Dan ketiga, barang-barang yang dijual relatif lengkap yakni barang-barang kebutuhan pokok atau kebutuhan sehari-hari. Mulai dari aneka sembako, rokok, kue, camilan, LPG, bahkan ada yang dilengkapi dengan SPBU mini yang menjual Pertalite.

Malah ada yang menjual pulsa dan token listrik.

Sebuah penelitian tentang keberadaan TWM pernah dilakukan sepanjang Januari – Juli 2023 di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Hasil penelitian tersebut kemudian dirilis dalam jurnal “Implementasi Manajemen dan Kewirausahaan (IMKA)” yang berjudul: “Meneropong Collective Entrepreneurship dan Manajemen Strategis pada Toko/Warung Madura”.

Ada beberapa hal menarik yang diungkap dalam penelitian tersebut.

Pertama, dari hasil wawancara dengan sejumlah pemilik TWM, ditemukan fakta bahwa mereka mendirikan TWM karena didorong oleh kesuksesan teman, atau saudara mereka sesama orang Madura.

Yang menarik di sini, ketika mendirikan TWM, dilakukan dengan cara “cut the learning curve” alias jalur pintas.

Artinya, mereka mendirikan TWM tidak dari nol. Melainkan memanfaatkan jalur koneksi dari orang yang sudah memiliki TWM sebelumnya.

Misalnya, mereka membuat etalase pada supplier yang membuatkan etalase pemilik TWM lainnya, membeli produk-produk yang dijual dari agen yang sama, memesan Pertamini dari agen yang sama, dan sebagainya. Sehingga, tentu saja hasilnya akan sama persis.

Dengan cara ini, maka jalur distribusinya akan efisien. Sehingga memungkinkan mereka untuk mendapatkan pasokan produk dengan harga yang lebih murah.

Makanya, jika diamati, antara TWM yang satu dengan lainnya, punya kesamaan dalam hal penampilan tokonya, hingga barang-barang yang dijual. Dan seringkali, lokasi TWM yang satu dengan lainnya saling berdekatan.

Kedua,  sesama orang Madura punya ikatan yang sangat kuat sehingga di antara mereka saling membantu, dan sesama orang Madura tidak merasa tersaingi meskipun berjualan produk yang sama dan lokasinya saling berdekatan.

Ini tidak terlepas dari prinsip hidup mereka yang sangat kuat tertanam ketika sama-sama berada di perantauan.

Hasil penelitian itu menyebutkan, di antara prinsip hidup orang Madura, khususnya para pemilik TWM yang diwawancarai adalah: “tretan dhibik”, artinya “saudara sendiri”.

Prinsip ini digunakan utamanya oleh para perantau dari Madura, bahwa meskipun mereka dari asal kampung yang berbeda-beda, namun mereka adalah satu etnis.

Prinsip ini membuat adanya ikatan yang kuat sesama orang Madura, dan menghindarkan mereka dari pertengkaran bahkan pertikaian sesama etnis Madura di perantauan.

Dengan adanya prinsip ini, maka pemilik TWM yang sudah eksis sebelumnya, mau membantu temannya sesama orang Madura untuk bikin TWM.

Prinsip hidup berikutnya adalah “rejhekkena bilis ta’ bhakal ekakan ce ghajha, rejhekkena ghajha ta’ bhakal ekakan ce bilis”, artinya “rejekinya semut tidak akan dimakan oleh gajah, dan rejekinya gajah tidak akan dimakan oleh semut,”.

Maknanya, bahwa setiap orang telah diatur rejekinya masing-masing oleh Allah.

Sehingga tidak ada pemikiran bahwa ada seseorang yang merebut rejeki orang lain.

Ini yang menjelaskan, mengapa antara lokasi TWM satu dengan lainnya, bisa saling berdekatan.

Prinsip hidup selanjutnya, sangat terkait dengan eksistensi TWM yang hampir semuanya buka 24 jam non stop.

Muncul pernyataan dari para pemilik TWM yang diwawancarai: “Tutupnya kalau hari kiamat, tapi buka setengah hari,”. Prinsip ini terkesan bercanda.

Namun, sebenarnya mengindikasikan budaya dedikasi kerja mereka. Dan ini lah yang dalam konteks marketing, dianggap sebagai “value proposition” sebuah produk, yang membedakan dengan lainnya.

Prinsip-prinsip yang dipegang teguh tersebut menjadi “genius loci” yang dimiliki masyarakat etnis Madura.

Prinsip-prinsip ini pada akhirnya membentuk etos kerja mereka, dan disadari atau tidak menjadi semacam “Standard Operational Procedure” (SOP), baik dalam hidup mereka sehari-hari, termasuk dalam pekerjaan.

Yang juga menarik dari model bisnis TWM ini, seperti diungkap pada penelitian tersebut adalah soal margin yang diperoleh dan sistem bagi hasil antara pemilik dan penjaga TWM.

Margin atau keuntungan yang dipatok dari setiap produk di TWM berkisar Rp 500 – Rp 1000.

Ini termasuk angka yang sangat kecil, jika dilihat dari modal yang dikeluarkan, yakni pada kisaran Rp 80 juta – Rp 200 juta.

Baca Juga: Huang, ChatGPT dan Nvidia

Tentu saja, jika hal ini dilihat dari kacamata manajemen strategis yang kompleks, dengan mempertimbangkan faktor-faktor feasibility seperti HPP, harga jual, perhitungan profit, BEP, dan sebagainya.

Namun, meski keuntungannya sangat minim, nyatanya, dalam kurun waktu 1-3 tahun rata-rata TWM sudah dapat mengembalikan modalnya. Ini menjadi kajian yang cukup menarik.

Terkait sistem bagi hasil antara pemilik dan penjaga TWM, ini juga menarik. Yakni, keuntungan bersih yang diperoleh setiap bulan, umumnya dibagi sama besar antara pemilik TWM dengan penjaga TWM.

Ini dianggap kurang lazim. Karena biasanya, pemilik mendapatkan porsi yang lebih besar.

Nah, dengan berbagai “keunikan” yang ada pada TWM, telah membentuk suatu “manajemen strategis baru” dalam bisnis retail yang mungkin tidak terpikirkan oleh para akademisi, ekonom, ataupun praktisi manajemen perusahaan.

Pada penelitian tersebut, model bisnis yang dikembangkan TWM termasuk ke dalam model kewirausahaan kolektif (collective entrepreneurship).

Menurut Peredo dan Chrisman dalam “Toward a Theory of Community-based Enterprise”: “Kewirausahaan kolektif didorong oleh sumberdaya, keterampilan, pengetahuan, budaya, partisipasi dan modal sosial berbasis komunitas.

Kewirausahaan kolektif memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman anggota kelompok, untuk menciptakan manfaat yang lebih besar. Dan kewirausahaan kolektif merupakan pendekatan unik terhadap tantangan pasar”.  

Anda tertarik meniru model bisnisnya TWM? Salam “tretan dhibik”.  (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #jawapos #marketing #Toko Madura #marketing on wednesday #marketing on wednesday radar kediri