Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Donald Trump (Again)

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 6 November 2024 | 17:14 WIB
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Saya termasuk orang yang sulit untuk bisa percaya, bahwa Donald Trump bisa kembali bertarung dalam pemilihan presiden (Pilpres) di Amerika Serikat, yang dilaksanakan Selasa lalu (5 November 2024).

Lebih sulit untuk percaya lagi, ternyata Trump dalam sejumlah survei, bahkan bisa mengimbangi rivalnya Kamala Harris.

Prosentase selisih antara keduanya sangat tipis, antara 1 persen – 3 persen saja.

Mengutip dari Forbes edisi 4 November lalu, di antara lembaga survei tersebut, Morning Consult: Kamala unggul dua poin dari Trump, dengan prosentase masing-masing 49 persen Vs 47 persen.

CNBC: Trump unggul 48 persen berbanding Kamala, 46 persen, dengan margin error 3,1 persen. Wall Street Journal: Trump memperoleh 47 persen, Kamala 45 persen. Economist/YouGov: Kamala mendapatkan 49 persen, dan Trump 47 persen.

Jadi, ternyata Trump masih cukup digdaya. Padahal, ketika menjadi presiden Amerika Serikat pada 2017 – 2021, Trump banyak melakukan blunder politik.

Dia dikaitkan dengan “post-truth” (pasca kebenaran), bahkan disebut-sebut sebagai tokohnya “post-truth”.

“Post-truth” adalah suatu kondisi dimana seringnya fakta aktual digantikan oleh daya tarik emosi dan prasangka pribadi, dalam upaya mempengaruhi opini publik. Kalau soal ini, Trump lah jagonya.

Eric Alterman, profesor dari “Brooklyn College” dan kolomnis “The Nation”, serta Claire Potter, profesor dari “The New School for Social Research” menyebutkan dalam kajian mereka, bahwa selama empat tahun berkuasa, Trump telah mengumbar lebih dari 22.000 kebohongan.

Di antaranya, menjelang akhir kampanye 2020, sebanyak 50 kali kebohongan per hari. Anehnya, kata mereka, hampir 74 juta orang Amerika masih memilihnya.

Angka 74 juta mengacu pada hasil “popular votes” Pilpres Amerika Serikat 2020, dimana Trump-Pence memperoleh 74,2 juta suara (46,9 persen), sedangkan Joe Biden-Kamala memperoleh 81,2 juta suara (51,3 persen).

Kajian Alterman dan Potter diperkuat oleh hasil analisis “Fact Checker”, sebuah lembaga yang dilaunching tahun 2003 untuk mengecek pernyataan yang tidak akurat, menyesatkan, atau klaim palsu yang dibuat oleh para politisi.

“Fact Checker” menyebutkan, setelah Trump berkuasa selama 1.331 hari (3,6 tahun), dia membuat 23.035 pernyataan palsu atau menyesatkan.

Jumlah itu sulit dipercaya dilakukan oleh seorang presiden, apalagi oleh presiden Amerika Serikat.

Karena dianggap banyak menebar pernyataan hoaks dan sering bikin gaduh akibat dari pernyataan-pernyataannya di Twitter (kini X), pada Pilpres Amerika Serikat 2020, Trump kalah oleh Joe Biden.

Kala itu, Biden memperoleh 51,3 persen suara, sedangkan Trump 46,8 persen. Ini yang saya agak merasa aneh.

Dengan gaya kepemimpinan seperti itu, Trump masih didukung 46,8 persen. Ini lah yang kemudian, dijadikan bekal oleh dia untuk maju pada Pilpres Amerika Serikat tahun ini.

Lantas, apa yang membuat Trump masih cukup digdaya dalam jagad perpolitikan di Amerika, meski dianggap banyak menebar kebohongan melalui pernyataan-pernyataannya? Dalam konteks marketing, menurut saya, karena Trump jago dalam memainkan jurus “emotional marketing”.

“Emotional marketing” merupakan strategi marketing yang menggunakan emosi agar audiens lebih memperhatikan, mengingat, dan melakukan pembelian.

Dalam banyak studi kasus, produk yang menggunakan strategi “emotional marketing” banyak yang sukses. Nielsen pernah melakukan riset pada 2016.

Hasilnya, produk yang menggunakan strategi “emotional marketing” yang dapat menyentuh emosi audiens, berdampak pada peningkatan penjualan hingga 23 persen.

Ketika mengikuti Pilpres 2016, Trump memainkan isu terorisme, yang dia kaitkan dengan Islamopobhia.

Saat berkampanye, dia pernah melontarkan gagasan untuk memantau masjid-masjid di Amerika dan ingin agar umat Islam diawasi aparat sebagai langkah melawan terorisme. Kala itu, Trump mendapatkan momentum, yakni antara tahun 2015 – 2016, terjadi beberapa kali kasus penembakan massal di Amerika yang menewaskan puluhan orang.

Di antaranya penembakan di Gereja Charleston, South Carolina; penembakan di sebuah kampus di Oregon menewaskan 9 orang; penembakan di San Bernardino yang menewaskan 14 orang; dan penembakan di Orlando yang menewaskan hingga 49 orang.

Berbagai kasus ini berhasil dijadikan bahan Trump untuk kampanye, dengan mengangkat isu anti terorisme. Dan ini linier dengan tagline kampanyenya saat itu: “Make America Great Again”.

Salah satu kesuksesan Trump pada Pilpres 2016 hingga mengantarkan dia menjadi presiden Amerika, karena dia sukses merangkai isu menjadi bahan kampanye, dengan strategi “emotional marketing”, karena kala itu mayoritas masyarakat di Amerika dilanda ketakutan akibat serangan teror yang bertubi-tubi.

Pada pilpres kali ini, agaknya Trump juga menggunakan strategi “emotional marketing”. Ini terlihat dari janji-janjinya saat kampanye yang terkesan sangat ingin menyenangkan masyarakat di Amerika.

Janji-janji kampanye Trump sering menjadi antitesa dari janji-janji kampanye rivalnya Kamala Harris.

Misalnya, di bidang ekonomi, Harris mengatakan, yang dia lakukan pada hari pertama menjabat sebagai presiden adalah mencoba mengurangi biaya makanan dan perumahan bagi keluarga pekerja.

Dia berjanji akan melarang kenaikan harga pangan secara berlebihan, memberikan sokongan pada warga yang membeli rumah pertama kali, dan menyediakan insentif demi menambah pasokan perumahan.

Di sisi lain, Trump berjanji akan mengakhiri inflasi dan membuat Amerika kembali terjangkau. Dia menjanjikan untuk memberikan suku bunga yang lebih rendah, sesuatu yang sebetulnya tidak bisa dikendalikan oleh presiden, seraya mengatakan deportasi imigran illegal akan mengurangi tekanan pada perumahan.

Di bidang pajak, Harris ingin menaikkan pajak pada bisnis besar dan warga Amerika yang berpenghasilan USD 400 ribu (setara dengan Rp 6,1 miliar) setahun.

Sedangkan Trump mengusulkan sejumlah pemotongan pajak senilai triliunan, termasuk perpanjangan pemotongan pajak.

Di bidang luar negeri, Harris berjanji akan mendukung Ukraina selama diperlukan. Trump berjanji, akan mengakhiri perang di Ukraina dalam waktu 24 jam melalui penyelesaian yang dinegosiasikan dengan Rusia.

Dari sini, Anda bisa membedakan, janji-janji kampanye antara Harris yang cenderung terukur (aspek rasionalitas), dibandingkan dengan Trump yang cenderung bombasdis (aspek emosional).

Bagaimana hasil akhir dari pertarungan antara Trump dan Harris? Hingga tulisan ini dibuat, pilpres di Amerika masih proses perhitungan.

Akankah Trump dengan strategi “emotional marketing”nya yang akan menang? Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #jawapos #post truth #Donald Trimp