Judul di atas, adalah judul sebuah artikel yang pernah saya baca, yang ditulis oleh Dr Gancar Candra Premananto SE., M.Si, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR). Kabarnya, artikel tersebut sudah dibukukan. Isi dari artikel itu cukup menarik, dan saya gunakan untuk memotivasi tim marketing di perusahaan yang saya pimpin.
Melalui artikel yang ditulisnya, Gancar menjelaskan, jauh sebelum adanya konsep atau kaidah marketing dengan salah satu tokoh sentralnya Philip Kotler, sesungguhnya Iblis sudah mempraktekkannya.
Kala itu, Iblis merasa tersaingi dengan makhluk manusia bernama Nabi Adam AS, yang diciptakan dari tanah. Apalagi dikatakan oleh Allah, bahwa Nabi Adam akan dijadikan khalifah di bumi.
Iblis pun melakukan riset terhadap makhluk bernama manusia, pesaingnya, dimana Nabi Adam AS sebagai manusia pertama. Iblis pun mendapatkan hasil dari risetnya itu, bahwa sebagai makhluk yang diciptakan dari bangsa Jin, Iblis lebih memiliki keunggulan bersaing dibanding Nabi Adam AS dari bangsa manusia. Api sebagai komponen dasar bangsa Jin lebih unggul dibanding tanah, komponen utama manusia.
Bangsa Jin juga memiliki unsur yang tidak dapat terlihat oleh manusia, bahkan bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia kepada Jin. Iblis pun tahu, manusia memiliki akal dan nafsu yang harus dimanfaatkan dengan optimal. Dari sisi ini, Iblis telah melakukan aktivitas marketing, yakni meriset pesaingnya. Dan ini, linier dengan konsepnya Kenichi Ohmae tentang nilai penting pemahaman terhadap 3 C (company, customer, competitor).
Maka, strategi utama kemudian diluncurkan oleh Iblis agar manusia keluar dari posisi unggulan. Yakni, menjalankan strategi menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus. Iblis fokus untuk menjadikan manusia menjadi tidak fokus pada visi dan misinya diciptakan. Nafsu pada diri manusia harus diperkuat dibanding penggunaan akalnya.
Salah satu visi aktivitas marketing yang menarik dari Iblis adalah optimisme dalam memasarkan “produk”nya. Padahal, produk-produk yang ditawarkan Iblis adalah sesuatu yang negatif, yang memberikan konsekwensi buruk kepada konsumennya. Tapi, Iblis selalu optimis bahwa produknya yang negatif itu akan sukses dan mendapatkan konsumen yang loyal sebanyak-banyaknya.
Pertanyaannya, adakah pemasar atau penjual saat ini yang yakin sukses menjual produknya bila tahu produknya busuk, bau, dan berdampak negatif? Rasanya, hanya Iblis yang bisa melakukannya.
Pelajaran dari hal ini, sering saya gunakan untuk memotivasi tim marketing saya. Bahwa, produk yang mereka tawarkan adalah produk yang sangat positif, dan akan berdampak bagus. Tapi, terkadang mereka belum-belum sudah merasa pesimis bahwa produknya akan sulit dipasarkan.
“Iblis saja yang produknya jelas-jelas buruk dan negatif, tapi tetap optmis dalam memasarkan produknya. Masak kita yang produknya bagus tidak optimis?,” demikian saya sering menyemangati tim marketing.
Dalam menjalankan strategi menjual produknya (menjerumuskan manusia), Iblis pun menerapkan Marketing Mix. Dan Allah SWT sesungguhnya sudah mengingatkan kita di dalam QS An Naas ayat 1-6: ”1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. 2. Raja manusia. 3. Sembahan manusia. 4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, 5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, 6. dari (golongan) jin dan manusia.”
Strategi Marketing Mix-nya Iblis itu adalah (5P):
Produk: yang ditawarkan sesuai ayat 4 Surat An Naas adalah keburukan/kejahatan/kemaksiatan. Variasi produk kemaksiatan yang ditawarkan sangat lah beragam. Yang tertinggi adalah berusaha menjadikan manusia menyekutukan Allah. Bagaimana produk yang secara akal tersebut laku di pasaran?
Place: merujuk ayat ke-5, Iblis dalam melakukan kegiatan marketing memasuki daerah yang sangat strategis pada manusia, yakni dada. Karena di bagian ini terdapat organ terpenting manusia, yakni hati. Rasulullah bersabda: “….Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik. Dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia (sekerat daging) itu adalah hati” (HR Bukhari).
Jadi, untuk memasarkan “produk” yang negatif, Iblis lebih menstimuli aspek emosi/afektif/perasaan seseorang, dan bukan aspek kognitif/pemikiran logis seseorang. Untuk mempengaruhi aspek perasaan, maka stimulinya adalah kesenangan jangka pendek dan tidak membiarkan konsumen berfikir masalah konsekuensinya dalam jangka panjang.
Promotion: merujuk ayat ke-4 dan ke-5, disebutkan bahwa produk-nya Iblis dipromosikan dengan cara yang halus. Untuk mempromosikan produk-produknya yang negatif, Iblis mengkomunikasikan produknya dengan cara menunjukkan kebaikan jangka pendek yang bersifat semu dan menyesatkan, serta menutupi keburukan produknya. Sehingga yang tampak adalah produk yang baik dan bermanfaat. Dan hal itu dilakukan secara halus, sehingga manusia sama sekali tidak mewaspadainya.
Price: ketika berbicara masalah harga yang harus dibayar, maka konsumen akan menggunakan akal dan logikanya. Hal ini tentu tidak dikehendaki oleh Iblis. Karena itu, Iblis menyembunyikan aspek tersebut, mengingat harga untuk menjadi konsumen mereka sangatlah tidak sepadan dengan konsekuensi buruk yang akan diperolehnya.
People: merujuk surat An Naas ayat 6, menunjukkan bahwa “salesperson” dari Iblis direkrut dari kalangan jin dan manusia. Manusia tidak hanya menjadi pesaing dan konsumen produknya, namun juga menjadi tenaga pemasarnya secara sukarela. Ini adalah sebuah bentuk kesuksesan MLM ala Iblis. Banyak manusia menyatakan loyalitasnya, yang juga merekomendasikan produk-nya Iblis kepada orang lain. Bahkan rela membela produk-produknya Iblis.
Walhasil, sebagai marketer, kita bisa ambil pelajaran, bahwa Iblis bisa sukses menjual produk-produk buruknya berkat strategi marketingnya yang matang, halus, dan taktis. Maka, kita jangan kalah dari Iblis. Mari kita bikin strategi marketing yang lebih matang, lebih halus dan lebih taktis untuk produk-produk kita yang baik dan berkualitas. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah