Di Kota Bandung terdapat studio foto yang berusia 43 tahun. Namanya: Jonas Photo Studio. Entitas ini bahkan sudah menjadi salah satu ikon untuk studio foto yang ada di Bandung. Teman yang tinggal di Bandung menceritakan kepada saya, di era tahun 2017 - 2020, Jonas Photo dapat menerima pengunjung sekitar 1.000 orang dalam sehari. Bahkan saat akhir pekan, jumlahnya bisa melonjak hingga 1.500 orang. Jonas Photo adalah salah satu contoh perusahaan yang hingga kini mampu bertahan dalam pusaran dinamikanya zaman. Mulai dari era rol film hingga digital, transformasi ini sukses dilalui oleh Jonas Photo.
Jonas Photo didirikan oleh pasangan suami-istri Gunadi Hadikusuma dan Ingriyanti Gunadi. Awalnya, mereka mendirikan studio foto di rumahnya pada 1981. Sang isteri, Ingriyanti memang punya hobi fotografi. Dari kisah yang sempat saya baca, kala itu kondisi ekonomi keluarga Ingriyanti sedang sulit. Maka, dia memutuskan untuk membuka studio foto di rumahnya sendiri. Bagi enterpreneur, rumah adalah pabrik dan pusat produksi, Ada banyak pengusaha yang mengawali bisnisnya dari rumahnya. Garasi, halaman, dan ruang depan, tidak jarang bisa dimanfaatkan untuk berdagang atau berfungsi sebagai toko. Anak-anak di rumah, pembantu, atau siapa saja di rumah, tidak jarang bisa dimanfaatkan sebagai SDM (sumber daya manusia) untuk membantu usaha. Jadi, rumah bisa menjadi modal yang paling penting. Hal ini lah yang dilakukan oleh Ingriyanti kala mengawali bisnisnya membuka studio foto.
Pada tahun-tahun awal Ingriyanti berbisnis, sangat lah berat. Selama dua tahun pertama, Ingriyanti mengaku hanya punya jam tidur 2-3 jam saja. Karena hampir semua proses harus dia kerjakan sendiri. Filosofi hidupnya sangat menginspirasi. Kata dia, modalnya hanya dua: tekad dan kemauan. Dia mengaku hanya memiliki sepasang lutut dan tangan untuk berdoa. Tidak lebih, dan tidak kurang. Sistem pemasaran yang dia terapkan waktu itu tak menggunakan teori. Cukup menggunakan naluri saja. Ingriyanti menceritakan, bahwa secara naluri, dia pertama kali membidik mahasiswa-mahasiswa yang seringkali menggunakan foto untuk laporan-laporan. Khusus untuk mereka ini, Ingriyanti memberikan pelayanan ekspres dan hampir 24 jam. Tentu saja dengan harga sangat murah. Akibatnya, Jonas Photo Studio menjadi sangat terkenal di kalangan mahasiswa saat itu, berkat promosi dari mulut ke mulut. Memang, untungnya saat itu tergolong kecil. Tapi, bisnis mahasiswa ini jumlahnya cukup banyak dan tidak pernah sepi, sehingga Jonas Photo Studio menikmati sebuah bisnis yang sangat stabil.
Ketika perkembangan fotografi mulai menjurus ke era digital, Ingriyanti langsung secara naluri merangkul perkembangan dan melakukan perubahan revolusioner di studionya. Sejak tahun 2000, Jonas Photo Studio sudah memiliki peralatan digital camera. Proses kamera tanpa film, dan hasil jepretan yang masih bisa diedit atau diutak-atik di komputer, membuat Jonas Photo Studio mampu menciptakan kreasi-kreasi baru dan inovatif. Misalnya, kerutan-kerutan di wajah dan bekas jerawat, bisa dihilangkan dengan mudah. Sehingga hasil jepretan Jonas Photo Studio menjadi terkenal sangat apik dan bagus.
Ketika terjadi trend bahwa para remaja semakin menyukai berfoto bareng sebagai sebuah kegiatan pelesir, maka trend ini pun cepat ditangkap oleh Ingriyanti. Maka, di Jonas Photo Studio pun disediakan sebuah studio besar yang bisa menampung hingga ratusan orang untuk berfoto bersama.
Karena menggunakan fasilitas digital, hasil jepretan foto bisa dilihat langsung. Mereka yang tidak puas, bisa minta fotonya diulang atau diperbaiki saat itu juga melalui komputer.
Dalam menjalankan strategi bisnisnya saat ini, Jonas Photo Studio punya tiga pilar bisnis utama. Pertama, studio foto, yang dalam perkembangannya terdiri dari lima segmen. Yakni segmen untuk pas foto, keluarga, grup, anak dan remaja. Khusus untuk studio dengan segmen grup, Jonas Photo Studio punya ruangan yang bisa menampung lebih dari 100 orang dalam satu studio.
Pilar bisnis kedua, adalah cetak atau digital printing. Jonas Photo Studio menyediakan paket printing. Di sini, para konsumen bisa mencetak foto sesuai dengan keinginannya. Pilar ketiga adalah merchandise atau penjualan produk yang mengunggulkan desain unik. Untuk merchandise sendiri, Jonas Photo Studio mengawalinya dengan menjual frame foto.
Dalam perkembangannya, Jonas Photo Studio juga menjual aneka perlengkapan yang berhubungan dengan fotografi. Seperti kamera, tripod, lensa hingga tas kamera. Jonas Photo pun mengembangkan bisnisnya dengan membuka beberapa brand lain seperti di bidang kuliner, di antaranya Giggle Box, Tokyo Connection, dan Pizzalogy. Juga ada butik fashion Silver Tote.
Jadi, setidaknya ada tiga pelajaran bisnis dari kisah Ingriyanti dan Jonas Photo Studio yang dibangunnya. Pertama, berbisnis itu seperti deret hitung. Harus dimulai dari 0. Bahkan, bisa juga dimulai dari minus. Kedua, dalam memulai berbisnis dan mengembangkan bisnis, sesungguhnya tak ada teori yang baku. Yang terpenting adalah tekad dan kemauan yang tinggi, serta doa. Ketiga, cepat beradaptasi terhadap perubahan, bahkan sebelum perubahan itu benar-benar terjadi.
Saya banyak bertemu langsung dengan para pengusaha sukses. Saya juga suka membaca kisah-kisah perjalanan hidup para pengusaha sukses. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah cara mereka memandang hidup. Ada kemiripan di sana-sini. Tapi, tidak ada yang sama persis. Di antara mereka punya gaya yang serba unik. Rasa optimisme dan rasa percaya diri yang tinggi melahirkan sebuah keberanian bagi mereka untuk mengarungi kehidupan ini. Dan masing-masing membuat terobosan untuk mengubah nasib mereka. Perjalanan hidup mereka ini, tekad, serta upaya yang semuanya serba beda, yang membuat saya semakin kagum dengan kesempurnaan Allah SWT ketika menciptakan manusia. Karena Allah SWT membuat kita semua beda, unik, dan istimewa. Adalah tanggung jawab kita untuk memanfaatkan ketiga hal itu. Sedangkan jalan pasti menuju sukses, semuanya berbeda. Tergantung kita masing-masing yang menjalaninya. Tidak ada peraturan pasti. "No rule!" begitu kata seorang enterpreneur. Kita harus menciptakan "our own rule for succes". Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Anwar Bahar Basalamah